
Hari ini sidang pertama perceraiannya Arzan dengan Rivera. Semua keluarga turut hadir di sana, tak terkecuali alur ayang juga diminta untuk ikut mendampingi Arzan. Meskipun awalnya Allura sempat menolak, tapi Nyonya Fika memaksa Allura agar tetap ikut.
"Lura, kamu ikut juga, ya!" pinta Nyonya Fika untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi ... Nyonya–"
"Sudahlah. Tidak apa-apa, kamu ikut saja. Lagi pula ... aku ingin tahu, apakah Rivera akan menghampiri bintang atau tidak," ucap Nyonya Fika sambil meraup Bintang yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Jangan berharap lebih, Ma. Wanita itu tidak pantas dipanggil Ibu." Arzan tiba-tiba datang dan menimpali ucapan Nyonya Fika yang sedang berada di dalam kamar Bintang.
"Kapan kamu masuk, Zan?" tanya Nyonya Fika pada sang anak.
"Aku tadi tidak sengaja melihat pintu kamar ini terbuka. Jadi, aku memutuskan untuk melihatnya," jawab Arzan sambil menggoda sang anak yang sedang berada di dalam gendongan mamanya.
Allura tersenyum tipis ketika melihat interaksi antara Nyonya Fika dan Arzan. Dia begitu sangat merindukan mamanya yang sudah beberapa hari ini melarang dia untuk menghubunginya. Entah karena alasan apa, Allura tidak mengetahuinya.
Aku rindu Mama, bagaimana kabarnya sekarang? Nomorku saja diblokir, Mama juga melarangku untuk menemuinya di rumah, batin Allura.
Nyonya Fika menyadari perubahan raut wajah Allura, beliau pun mendekati gadis itu untuk menanyainya.
"Lura, kenapa kamu bersedih?" tanya Nyonya Fika.
Allura menggeleng pelan sambil memaksa dirinya untuk tersenyum. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya ... saya hanya sedang merindukan mama saja," jawabnya.
Sebenarnya, Nyonya Fika dan Arzan juga sedikit penasaran karena sudah beberapa hari ini Allura tidak meminta izin padanya untuk menemui Ibu Ani. Biasanya jika ada waktu luang, Allura selalu meminta izin padanya.
"Lalu, kenapa kamu tidak menemuinya atau tidak menghubunginya saja seperti biasa?"
Lagi-lagi gadis itu menggeleng pelan dengan kepala yang tertunduk dan bahu melemas. "Nomor ponselku diblokir Mama dan Bibi Erni. Mereka juga melarangku untuk menemuinya, Viana tidak bisa memberitahukan keadaan mereka karena dia sedang berada di luar kota," jawab Allura lagi.
Nyonya Fika dan Arzan langsung saling bertatapan, mereka mencoba untuk saling bertanya dengan melalui mata ke mata. Namun, baik Arzan maupun Nyonya Fika tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Ya sudah, sepulang dari kantor pengadilan nanti kita akan mampir ke rumah kontrakan Mamamu," ucap Arzan sambil menghibur Allura.
Allura segera menegakkan kepalanya, setelah mendengar ajakan Arzan. Gadis itu tampak kembali bersemangat, setelah sebelumnya terlihat murung.
"Terima kasih, Tuan, Nyonya. Kalau begitu, saya akan segera bersiap dulu." Allura langsung berlalu memasuki kamar mandinya, ia meninggalkan Nyonya Fika yang sedang menggeleng pelan dan Arzan yang masih berdiri di tempatnya.
Setelah melihat Allura masuk ke dalam kamar mandi, Nyonya Fika pun mengajak Arzan untuk segera keluar dari kamar itu.
"Ayo, Zan. Kita tunggu Allura di sofa sana," tunjuk Nyonya Fika sambil melangkah pergi keluar dari kamar.
***
Hal serupa tidak jauh berbeda pada Ibu Ani. Wanita paruh baya itu begitu merindukan anak gadisnya yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui dan tidak ia hubungi. Bukan tanpa alasan Ibu Ani melarang anaknya untuk tidak menghubunginya, tapi itu semua ia lakukan demi keselamatan Allura.
Bibi Erni terenyuh kalau melihat saudaranya sedang memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Walau bagaimanapun, dia mengerti perasaan sepupunya itu.
"An, coba saja hari ini kamu hubungi Allura. Mungkin Tuan Darion tidak akan mengetahui jika kamu menghubunginya sekali ini," saran Bibi Erni yang sudah tidak tega melihat Ibu Ani hanya terdiam.
Bibi Erni tidak bisa berbuat apa-apa, dia sendiri pun merasa bingung dengan posisinya saat ini. Namun, dia tidak tega jika harus melihat saudaranya bersedih karena begitu merindukan anaknya. Ya, kedatangan Tuan Darion ke rumah kontrakan Ibu Ani beberapa hari yang lalu itu tidak lain dan tidak bukan untuk mengancamnya.
Flashback on
Siang itu, Ibu Ani dan Bibi Erni tengah menikmati makan siang yang baru diberikan oleh Arzan untuk mereka. Arzan dan Allura sendiri tidak ikut makan karena saat itu ada suatu hal yang harus segera dibereskan oleh Arzan.
Setelah kedua insan itu pamit, tiba-tiba pintu rumah Ibu Ani kembali diketuk oleh seseorang. Awalnya, Bibi Erni mengira jika itu adalah keponakannya yang kembali lagi. Namun, setelah pintu itu terbuka lebar, betapa terkejutnya saat ia melihat pria paruh baya yang ditemuinya di rumah sakit pagi hari.
"Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibi Erni sambil memperhatikan dua orang pria berbeda usia di depan pintu rumah kontrakan Ibu Ani.
"Apa Ani ada?" tanya Tuan Darion saat yang membukakan pintunya adalah wanita lain.
"Ani? Maaf, ada perlu apa Anda mencari Ani? Saat ini dia sedang beristirahat," jawab Bibi Erni tanpa membiarkan dua pria itu masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Ada hal yang perlu aku bicarakan dengannya. Dan ... ini sangat penting. Jadi, bisakah kamu membiarkan kami masuk, agar aku bisa menemuinya?"
Bibi Erni tanpa khawatir jika Tuan Darion akan melukai Ibu Ani. Namun, jika dia menolak pun pasti Tuan Darion akan tetap memaksanya.
"Anda tenang saja, Bibi. Papaku tidak akan pernah melukai siapapun, kecuali jika yang memang orang itu pantas untuk kami lukai," ucap Ethan sambil menyeringai saat melihat keterdiaman wanita paruh baya di depannya.
Bibi Erni semakin ketakutan tak kala mendengar ucapan pemuda di depannya. Di rumah itu tidak ada orang lain selain dia dan Ibu Ani. Jadi, Bibi Erni pun merasa khawatir.
"Oh, ya. Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Darion dan ini adalah Ethan, anakku. Aku sendiri merupakan kakak dari mendiang suaminya, Adnan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir aku akan melukai Ani," ujar Tuan Darion saat Bibi Erni tak kunjung membiarkannya masuk ke rumah.
Setelah mendengar pengakuan dari pria di depannya, Bibi Erni pun percaya dan membiarkan Tuan Darion serta Ethan masuk ke dalam rumah kontrakan itu.
"Baiklah, silakan masuk. Saya akan memberitahukan Ani tentang kedatangan kalian." Bibi Erni membuka lebar pintu dan berlalu dari hadapan Tuan Darion serta Ethan, sebelum masuk ke kamar yang tak jauh dari pintu rumah itu.
Setelah dipersilakan masuk ke dalam rumah kontrakan sederhana itu, Tuan Darion dan Ethan pun duduk lesehan. Tak ada sofa ataupun kursi di dalam, hanya lantai yang dilapisi tikar tipis.
Tak lama kemudian, Ibu Ani pun keluar dari kamarnya dan ikut duduk di sana. Tuan Darion terus memerhatikan wanita yang sedang duduk di depannya.
Dulu, dia begitu mengagumi paras cantik, juga kebaikan wanita itu. Namun, hatinya harus patah tak kala Ibu Ani memilih adiknya untuk ia jadikan sebagai pendamping hidup. Sampai saat ini, dia masih memiliki perasaan itu.
"Jadi, ada keperluan apa Anda sampai datang kemari, Tuan?" tanya Ibu Ani saat Tuan Darion tak kunjung mengucapkan sepatah katapun padanya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana kabar adik iparku saat ini. Tapi ... sepertinya kamu dalam keadaan yang tidak baik, ya?" tanya Tuan Darion dengan tatapan merendahkan.
Ibu Ani sudah mengetahui bagaimana perangai Tuan Darion padanya. Jadi, dia tidak mengambil hati atas perkataan rendah Tuan Darion.
"Alhamdulillah, untuk saat ini aku baik-baik saja, Tuan." Ibu Ani memilih untuk tidak menetap wajah pria di depannya.
Cih, masih seperti itu, gumam Tuan Darion saat melihat Ibu Ani yang memalingkan wajah darinya.
"Apa benar ... gadis itu anak Adnan?" tanya Tuan Darion.
__ADS_1