Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 129


__ADS_3

Kini Allura dan Nyonya Fika sudah berdiri sampai di butik terkenal di kota itu. Mereka hanya datang berdua karena baju milik Arzan sudah di siapkan. Jadi, dia tidak perlu ikut serta, lagi pula Allura melarangnya untuk ikut. Bukan tanpa alasan Allura melarang Arzan, dia hanya tidak ingin pria itu kelelahan dan mengakibatkan lukanya susah sembuh. Allura benar-benar memperlakukan Arzan layaknya orang pesakitan. Namun, tanpa sepengetahuan Allura dan mamanya, Arzan mengikuti mereka ke butik itu, ia juga membawa Bintang bersamanya.


Allura mulai memilih gaun yang akan ia kenakan di acara resepsi nanti, wanita itu tampak bingung karena begitu banyak gaun yang sangat cantik dan menarik.


"Maaf, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan yang sejak tadi menemani Allura memilih gaun.


"Maaf, Mbak. Saya bingung mau pilih yang mana, semuanya sangat cantik," jawab Allura sambil terus mencari gaun yang menurutnya cocok untuk ia pakai.


Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah gaun yang di pajang di manekin. Gaun itu tampak sederhana, tapi begitu elegan. Allura menghampiri gaun itu dengan diikuti Nyonya Fika bersama pelayan tadi.


"Apa kamu menyukai gaun ini, Ra?" tanya Nyonya Fika seraya mulai ikut memerhatikan gaun tersebut.


Allura nampak berpikir sejenak sebelum ia menganggukkan kepalanya.


"Gaunnya sangat cantik, Ma. Tapi ...."


"Jika kamu menyukainya, silakan coba saja," ucap Nyonya Fika saat tahu menantunya tampak bimbang dengan pilihannya. "Mbak, tolong bantu menantu saya untuk mencoba gaun ini," perintah Nyonya Fika yang langsung diangguki oleh pelayan tadi.


"Baik, Nyonya."


Allura masuk ke kamar pass dengan ditemani oleh dua pelayan yang akan membantunya, sedangkan Nyonya Fika menunggu di depan ruangan sembari memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian, Allura pun keluar dari kamar pass dengan menggunakan gaun pengantin yang ia pilih tadi. Penampilannya begitu memukau, meskipun saat ini hanya fitting saja, tapi tidak mengurangi kecantikannya.


Arzan melihat itu semua dari balik pintu. Akan tetapi, respon pria itu berbeda dengan Nyonya Fika, ia tampak sangat mrah kala melihat Allura yang mengenakan gaun itu. Tanpa permisi, Arzan segera membuka pintu ruangan dan membuat Allura serta Nyonya Fika terkejut dibuatnya.

__ADS_1


"Arzan!"


"Mas?!"


"Ganti, jangan pakai yang ini!" ucap Aran dengan nada tegas tanpa menghiraukan tatapan terkejut dari sang mama dan juga istrinya.


"Lho, kenapa harus ganti, Zan? Bajunya cantik dan sangat cocok dipakai oleh Allura!" seru Nyonya Fika. Bahkan, wanita paruh baya itu sampai bangkit dari duduknya.


"Ma, aku tidak mau Rara–ku harus memakai pakaian seperti ini! Aku tidak rela orang-orang melihat kulit mulus dia!" jawab Arzan yang membuat Nyonya Fika menggeleng pelan, sedangkan Allura hanya bisa tertunduk malu. Padahal, baju yang saat ini dicoba Allura itu tidak berlebihan, hanya menampilkan sedikit bahunya saja, itupun masih dilapisi kain transparan.


"Zan, baju ini tidak berlebihan. Bahkan saat pernikahanmu dengan Rivera, dia memakai baju yang sangat terbuka, tapi kamu tidak protes sama sekali," keluh Nyonya Fika yang membandingkan Allura dengan Rivera.


"Pokoknya aku tidak mau. Jika Allura memaksa untuk tetap memakainya, maka dia tidak perlu keluar kamar!" tegas Arzan lagi yang membuat Allura semakin menganga saking terkejutnya.


"Mas, kenapa jadi seperti ini? Lagi pula baju tidak terlalu terbuka. Aku juga berniat akan memakai hijab nantinya," seru Allura yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan suami serta mama mertuanya yang sedang berdebat.


"Kamu sungguh akan mengenakan hijab?" tanya Arzan lagi untuk meyakinkan Allura.


"Iya, Mas. Jadi, baju ini aku coba dulu. Dan ... setelah aku pikir-pikir, aku menyukai gaun ini," ucap Allura sembari memerhatikan gaun yang tengah dipakainya.


"Baiklah, kalau seperti itu ... akan aku ijinkan." Arzan memilih duduk bersama Bintang di sofa tempat tadi Nyonya Fika duduk.


Lihat Bi, Mamamu begitu cantik saat memakai gaun itu. Papa jadi tidak rela jika harus berbagi pemandangan itu bersama orang-orang, gumam Arzan pada Bintang. Ia berharap bayi itu mengerti dengan ucapannya.


"Kamu ini bisa saja, Zan. Anakmu masih kecil, dia belum mengerti dengan ucapanmu," kata Nyonya Fika sambil terkekeh pelan melihat tingkah Arzan yang mulai posesif pada istrinya.

__ADS_1


Arzan mendengus pelan, hatinya masih panas karena melihat Allura yang memakai gaun pengantin tadi.


"Sudahlah, Ma. Tadi juga tidak tahu jika Allura akan memakai jilbab nantinya. Jadi, aku pikir gaun itu cukup terbuka," jawab Arzan lirih.


"Iya, iya, Mama mengerti. Tapi, kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?"


"Mmmh ... aku ... aku ...."


"Kamu ngikutin Mama dan Lura?" hardik Nyonya Fika. Padahal ia dan Allura sudah mewanti-wanti supaya Arzan tidak mengikuti mereka, tapi nyatanya Arzan tidak mengikuti nasihatnya.


"Ma, kalian memperlakukanku seperti orang pesakitan. Lagi pula lukaku sudah sembuh," kilah Arzan.


"Tapi belum sepenuhnya sembuh, Zan!"


"Aku sudah baik-baik saja, Ma. Lihat." Arzan memangku Bintang dan menggerak-gerakkannya. "Aku sudah sembuh," sambung lagi.


Nyonya Fika tidak mampu lagi berkata-kata, akhirnya ia pun membiarkan putranya untuk berbuat seperti yang ia mau. Tak lama kemudian, Allura datang sudah dengan menggunakan pakaian lengkap. Bahkan ia juga sudah memakai baju lengan panjang dibalik gaun yang ia pakai.


Arzan tidak langsung bersuara, pandangan matanya lurus menatap wanita yang kini sedang berdiri dihadapannya. Allura benar-benar tampak cantik, gaun itu melekat sempurna di tubuhnya.


"Bagaimana, Zan? Apa masih ada yang mau kamu kritik lagi?" tanya Nyonya Fika pada sang putra yang masih setia menatap istrinya tanpa berkedip.


"Perfetto," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Allura. "You are so beautiful, my wife," sambungnya lagi.


Allura tersipu malu ketika mendengar ucapan suaminya. Bahkan, kini wajahnya tampak memerah karena terus diperhatikan oleh Arzan serta Nyonya Fika.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas," jawabnya sambil tertunduk.


__ADS_2