Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
131


__ADS_3

Arzan, Allura, Nyonya Fika serta Bintang baru pulang saat hari mulai petang. Kedatangan mereka benar-benar di sambut meriah oleh keluarga Allura. Meskipun Allura tahu jika itu semua hanya pencitraan, tapi setidaknya mereka masih mau bersikap baik padanya dan Ibu Ani.


Jarak rumah Ibu Ani dan kediaman Tuan Anderson tidaklah jauh. Jadi, mereka pun kini sudah sampai di rumah Nyonya Fika. Nyonya Fika segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Begitupun dengan Arzan, ia langsung masuk ke kamar miliknya diikuti Allura di belakang dia yang sedang menggendong Bintang.


"Mas, aku mau mandi dulu. Titip Bintang, ya!" ucap Allura sembari menidurkan Bintang karena Arzan sedang menatap ponselnya.


Arzan mengalihkan pandangannya sesaat, selanjutnya pria itu langsung kembali meraup Bintang dan membawanya keluar kamar setelah melihat Allura yang sudah masuk ke kamar mandi. Arzan memilih untuk menitipkan Bintang pada sang mama yang baru saja keluar kamar.


"Lho, memangnya Rara kemana, Zan?" tanya Nyonya Fika pada sang anak yang tiba-tiba menyerahkan Bintang padanya.


"Rara sedang mandi, Ma. Aku ... emh ... itu ...." Arzan kebingungan ketika hendak menjawab pertanyaan sang mama, tidak mungkin jika dia mengatakan ingin bercinta dengan istrinya.


Nyonya Fika memicingkan mata dan menatap tajam putranya, ia tahu jika saat ini Arzn sedang mencoba memikirkan jawaban atas pertanyannya.


"Kenapa hanya diam, Zan?" tanya Nyonya Fika saat Aran tak kunjung menjawab.


"Aku ... aku kebelet, Ma. Ya ... aku sudah tidak kuat lagi." Arzan segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, sedangkan Nyonya Fika hanya menggeleng pelan ketika melihat gelagat mencurigakan anaknya.


Dasar ... bilang saja kamu sedang merindukan istrimu. Tinggal jawab seperti itu saja susah, gumam Nyonya Fika seraya membawa cucunya turun ke ruang keluarnya untuk menunggu kedatangan sang suami, Tuan Anderson.

__ADS_1


Setelah memastikan semuanya aman, Aran pun segera mengetuk puntu kamar mandi karena Allura menguncinya dari dalam.


Tok ... tok ... tok ....


Allura yang sedang berada di dalm kamar mandi merasa heran, tidak bisanya Arzan menggangu di saat sedang mandi. Allura membiarkan Arzan dan mengabaikan ketukan pintu, tetapi semakin lama ketukan itu semakin keras, membuat Allura kesal. Wanita itupun terpaksa membuka kunci pintunya dan berniat untuk menanyakan maksud Arzan yang sudah menggangunya. Namun, belum sempat Allura bertanya, pria itu segera mendorong pintunya.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" pekik Allura ketika Arzan sudah berada di dalam kamar mandi bersamanya. Bahkan, kini pria itu sedang menanggalkan pakaiannya. Allura buru-buru menutup mata, ia tidak ingin melihat apa yang sedang Arzan kerjakan saat ini.


Tanpa berkata-kata lagi, Arzan segera membekap Allura dengan bibir dan membawa wanita itu dalam pelukannya


"Aku merindukanmu," bisik Arzan di samping telinga Allura.


"Aku sudah baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir lagi!" Arzan kembali melancarkan aksinya, sedangkan Allura hanya pasrah menerima semua yang Arzan lakikan padanya karena ia juga sangat merindukan sentuhan sang suami. Percintaan itu pun berbindah tempat karena Allura menrasa tidak nyaman jika harus melakukannya di kamar mandi.


Setelah hampir satu jam, akhirnya keduanya pun terkapar kelelahan, Arzan segera bangkit dan mengajak Allura untuk mandi bersama. Mereka perlu melakukannya dengan cepat karena waktu makan malam hampir tiba. Selesai mandi, Arzan dan Allura pun menyempatkan diri untuk melakukan shalat sebelum mereka turun ke ruang makan, kebetulan waktu sudah memasuki isya.


Nyonya Fika dan Tuan Anderson baru duduk kala melihat anak dan menantunya turun bersama dengan bergandengan tangan.


"Ma, Pa ...," sapa keduanya seraya mendudukkan diri di kursi masing-masing.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat lelah sekali, Ra?" tanya Nyonya Fika dengan alis tertaut ketika menyadari tatapan sayu menantunya.


"Aku tidak apa-apa, Ma," jawab Allura pelan sambil tertunduk malu, sedangkan Arzan memilih untuk tidak menghiraukan tatapan bingung sang papa terhadapnya.


"Oh, iya , Ma, Bintang ada di mana?" tanya Allura saat ia tidak melihat keberadaan bayi lucu itu di tempat dudk khususnya.


"Bintang sedang bersama Bi Ema di paviliun belakang," jawab Nyonya Fika. "Kamu tenang saja, Ra. Rumah ini sakarang dalam kendali aman," sambungya lagi saat melihat Allura yang hendak protes.


Sikap Allura terhadap Bintang benar-benar menjadi posesif setelah kejadian Rivera yang menculik dan hampir mencelaki byi itu. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk kembali menimpanya lagi. Setelah mendengar jawaban sang mama, Allura pun menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa takut dalam hatinya.


"Sayang, apa kamu masih takut Bintang akan kembali hilang?" tanya Arzan seraya menyentuh tangan Allura yang berada di atas meja.


Allura hanya mengangguk samar saat Arzan bertanya padanya.


"Kamu tidak usah khawatir, Ra. Papa sudah memperketat penjagaan di rumah ini. Sekarang kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun," tanggap Tuan Anderson yang sedari tadi terdiam.


"Baiklah, Pa. Aku mengerti," jawab Allura sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


Keempat orang itu pun mulai untuk menikmati makan malam mereka masing-masing, tak ada percakapan serius di meja makan itu. Tuan Anderson pun hanya bertanya beberapa hal mengenai kesiapan acara resepsi yang akan mereka selenggarakan.

__ADS_1


__ADS_2