Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 127


__ADS_3

Setelah dirawat beberapa hari semenjak Arzan sadar dari komanya, kini pria itu sudah diperbolehkan untuk pulang. Allura dan Nyonya Fika begitu bersemangat membantu Arzan bersiap-siap, sedangkan Ibu Ani tidak ikut menjemput dan memilih menunggu kedatangan mereka di rumah bersama Bintang.


"Pelan-pelan, Mas." Allura memapah Arzan untuk turun dari ranjangnya, ia juga sudah menyiapkan kursi roda agar Arzan bisa langsung memakainya.


"Aku sudah baik-baik saja, sayang. Kamu tidak perlu menyiapkan kursi roda seperti ini," tolak Arzan sambil menyingkirkan kursi roda itu dari hadapannya.


"Tapi, Mas–"


"Sudahlah. Ayo kita pulang. Aku sudah sangat muak mencium bau obat-obatan di sini," ajak Arzan seraya menarik pelan tangan istrinya.


"Mas, pakai kursi rodamu!" kukuh Allura, sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi kursi roda.


"Sudahlah, Ra. Jangan paksa suamimu." Nyonya Fika segera mengambil alih kursi roda yang tadi dibawa Allura dan mengembalikannya ke tempat semula.


Allura pasrah ketika Arzan memilih untuk berjalan sendiri, meskipun sebenarnya ia sedikit khawatir luka punggung suaminya akan kembali basah.


Setelah selesai membereskan barang-barang, Arzan, Allura serta Nyonya Fika pun mulai berjalan keluar menuju pelataran rumah sakit. Tuan Anderson tidak ikut, beliau harus menghadiri rapat penting siang ini di perusahaan, apalagi saat ini dia bekerja sendiri tanpa Arzan.


Pak Ujang segera membukakan pintu mobilnya setelah ia menyimpan barang-barang milik Arzan dan Allura selama menginap di rumah sakit tersebut. Arzan mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi, sedangkan Allura dan Nyonya Fika duduk di belakang. Selesai para majikannya masuk mobil, Pak Ujang pun mulai menjalankan kendaraannya pulang ke rumah. Jarak yang mereka tempuh cukup jauh karena posisi rumah sakit yang berada di luar kota.


Nyonya Fika dan Allura tidak banyak berbicara, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Nyonya Fika masih merasa berat karena harus melepaskan anak, cucu serta menantunya yang akan segera berpisah rumah, sedangkan Allura saat ini merasa bahagia karena bisa berkumpul dengan keluarganya lagi. Arzan sendiri merasa sedikit heran pada mama dan istrinya yang sejak tadi sama sekali tidak berbicara.


"Ma, Ra ... ada apa dengan kalian?"


Nyonya Fika yang sejak tadi hanya menatap kearah luar jendela pun, akhirnya mengalihkan perhatiannya dari sana.

__ADS_1


"Mama ... tidak apa-apa, Zan," jawabnya dengan lesu.


Allura sendiri langsung menggelengkan kepalanya ketika sang suami menatapnya dengan pandangan bertanya. Memang semenjak keluar rumah sakit tadi, Nyonya Fika terlihat sedikit murung.


"Apa ada suatu hal yang menggangu pikiran Mama?" tanya Allura sembari mengusap tangan Nyonya Fika.


"Mama hanya sedikit sedih, Ra. Sekarang Arzan sudah sembuh, itu berarti kalian akan segera pindah rumah. Dan ... rumah Mama akan sepi lagi." Nyonya Fika mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes karena sedih. "Mama sudah terbiasa bersama kalian. Jadi, pasti akan kesepian," sambungnya lagi.


Allura begitu terharu setelah mendengar jawaban mertuanya. Namun, di sisi lain ia juga merasa sedih dan tidak tega karena harus melihat Nyonya Fika kesepian.


"Mama, Mama tidak perlu bersedih. Lagi pula aku dan Bintang bisa selalu main ke rumah nantinya," ucap Allura.


Arzan diam-diam mendengarkan percakapan istri serta mamanya, ia bersyukur karena pernikahan kali ini mamanya bisa begitu menyayangi istrinya. Dulu pun sebenarnya Nyonya Fika menerima pernikahan Arzan dengan Rivera, tapi respon Nyonya Fika tidak seperto pada Allura saat ini.


Setelah menempuh perjalan selama satu setengah jam, akhirnya mobil yang dikendarai Pak Ujang pun tiba di pelataran kediaman keluarga Rafindra. Di sana, sudah ada Ibu Ani dan Tuan Anderson yang menyambut kedatangan Arzan, Allura serta Nyonya Fika, tetapi ada pemandangan lain yang membuat Arzan dan Allura sedikit terheran. Pasalnya, Tuan Darion pun sedang berada di sana.


"Selamat datang kembali ke rumah, Nak!" seru Tuan Anderson sembari memeluk putra kesayangannya.


"Terima kasih, Pa." Arzan balas memeluk sang papa tak kalah eratnya.


Tuan Darion segera menghampiri Arzan begitu pria itu melepaskan pelukannya dari Tuan Anderson. "Selamat datang di rumahmu, Nak. Maaf atas semua yang sudah terjadi padamu dan Papamu juga," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Arzan menerima jabatan tangan tersebut, meskipun rasa penasaran masih menggelayuti hatinya, tapi hal itu masih ia tahan dan akan dia tanyakan nanti.


"Terima kasih atas sambutannya, Paman."

__ADS_1


Setelah semua orang menyambut kedatangan Arzan, mereka pun beriringan memasuki rumah Tuan Anderson. Arzan tak sekalipun melepas genggaman tangannya dari sang istri, hal itu membuat Nyonya Fika serta yang lainnya hanya bisa menggeleng pelan.


Bi Endah dan beberapa pelayan lainnya segera menyiapkan minuman serta cemilan untuk tamu dan tuan rumahnya yang baru pulang. Keadaan rumah itu begitu ramai, mereka bersukacita atas kepulangan Arzan dari rumah sakit. Namun, di tengah-tengah percakapan itu, tiba-tiba Tuan Darion berdehem untuk menarik semua perhatian orang-orang.


"Maaf, pasti kalian masih merasa bingung dengan kehadiranku di sini," ucapnya saat mengawali perkataan.


Arzan lantas menganggukkan kepalanya samar, yang diikuti oleh Allura. "Iya, Paman. Sebenarnya saya sedikit merasa heran. Apa ada hal yang belum saya ketahui?" tanyanya.


"Tidak ada alasan apa-apa, Nak Arzan. Paman hanya ingin meminta maaf atas semua kejadian yang sudah menimpa Papamu dan dirimu. Sedikitnya ada campur tangan Ethan dalam kejadian ini." Tuan Darion melepaskan kacamata yang sejak tadi bertengger di kedua matanya, sebelum kembali berkata, "Paman juga kemari untuk mengutarakan sesuatu."


Perkataan terakhir Tuan Darion cukup menyita perhatian Tuan Anderson, Nyonya Fika, Arzan, Allura serta Ibu Ani. Mereka saling bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ada apa, Tuan Darion?" tanya Tuan Anderson dengan penasaran.


Tuan Darion nampak menghela napasnya sesaat, pandangannya sejak tadi tidak juga lepas dari sosok Ibu Ani yang duduk di samping Allura, wanita itu masih setia memangku bintang di tangannya.


"Ini ...." Tiba-tiba rasa gugup langsung menyerang Tuan Darion ketika ia hendak mengutarakan maksud kedatangannya pada Allura serta Ibu Ani.


"Ani," panggil Tuan Darion pada mamanya Allura. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada. Aku tahu, kesalahanku padamu itu sangatlah besar. Tapi ... apakah kamu mau memaafkanku," tanyanya dengan gugup.


Ibu Ani tersenyum tipis ketika mendengar penuturan Tuan Darion. Dulu, dia memang pernah membenci pria itu, tapi sekarang perasaan marahnya sudah hilang dan dia sedang belajar berdamai dengan masa lalunya.


"Aku sudah memaafkanmu, Tuan. Saat ini aku masih sedang belajar berdamai dengan masa lalu kita," jawab Ibu Ani.


"Terima kasih," ucap Tuan Darion yang merasa lega setelah mendengar jika Ibu Ani sudah memaafkannya.

__ADS_1


Arzan, Allura, Nyonya Fika dan Tuan Anderson masih memerhatikan percakapan Ibu Ani dan Tuan Darion. Mereka sama sekali tidak berniat untuk ikut campur.


"Tapi ... selain itu, apakah aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menggantikan posisi Adnan dalam hatimu?"


__ADS_2