Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 128


__ADS_3

"Tapi ... selain itu, apakah aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menggantikan posisi Adnan dalam hatimu? Aku tahu, ini sangat berlebihan. Hanya saja ... perasaanku dari dulu tidak pernah sekalipun berubah padamu. Dan ... aku ingin mengawali semua itu saat ini. Apakah kamu bersedia untuk memberikanku kesempatan itu?" tanya Tuan Darion panjang lebar.


Semua orang yang ada di sana cukup terkejut atas penuturan dari Tuan Darion. Mereka tidak menyangka jika kedatangan pria paruh baya itu tidak hanya untuk meminta maaf saja, melainkan untuk mengejar cinta lamanya juga.


Ibu Ani masih terdiam, dia cukup syok mendengar pernyataan dari Tuan Darion. Namun, di balik itu semua Ibu Ani sudah punya jawabannya sendiri.


"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bisa. Aku tidak berniat untuk menggantikan posisi Mas Adnan dengan siapapun. Bagiku, dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Jadi, maafkan aku," jawabnya sambil menundukkan kepala.


Tidak pernah sekalipun tersirat dalam hati Ibu Ani untuk menggantikan mendiang suaminya dengan yang lain. Apalagi sosok itu adalah orang yang pernah mencelakai suaminya. Ya, sekarang dia sudah tahu alasan kenapa Pak Adnan mengalami kecelakaan. Tidak mungkin baginya menikah kembali dengan orang yang sudah melenyapkan suaminya dulu.


"Mungkin jika hanya untuk memaafkan, sudah kulakukan. Tapi, kalau untuk menikah, maaf aku tidak bisa," sambungnya lagi.


Tuan Darion menundukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari wanita yang masih cintai. Rasa pedih di hatinya kembali terulang untuk yang kedua kalinya dan itu dari orang yang sama. Jika dulu ia bisa melampiaskannya dengan amarah, maka kali ini dia hanya bisa diam dan menarik napas.


"Baiklah, aku sadar. Aku tidak akan memaksamu lagi. Sudah cukup kebodohan yang pernah kulakukan dulu dan sekarang aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Terima kasih untuk jawabannya. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik," ucap Tuan Darion.


Allura menatap mamanya, ia bisa melihat jika sang mama benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun pada Tuan Darion. Di sisi lain, Allura berharap jika mamanya mau menerima Tuan Darion untuk menemani masa tuanya, tetapi setelah mendengar jawaban sang mama yang masih mencintai papanya, ia pun menyerah dan mengurungkan niatnya untuk berkomentar.


"Oh, ya ... kedatanganku kemari tidak hanya untuk mengutarakan perasaan saja." Tuan Darion memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Sebenarnya aku kemari untuk berpamitan juga, aku akan pindah ke negara Z. Dan ... kemungkinan tidak akan kembali lagi. Aku juga akan menyerahkan semua aset Papa Okta padamu, Allura. Kamu yang paling berhak atas itu semua," sambungnya yang membuat orang-orang di sana tercengang seketika.


"Maksudmu bagaimana, Tuan?" tanya Tuan Anderson lebih dulu. Ia cukup terkejut saat Tuan Darion mengatakan akan pindah negara, sedangkan untuk kekayaan Tuan Okta itu memang sudah hak Allura sebagai ahli waris sahnya.


"Ya ... anggap saja aku lari dari kenyataan. Tapi, aku ingin menenangkan hatiku. Mungkin, jika aku tidak bisa menemukan kebahagiaanku di sini, aku bisa menemukan kebahagiaan lain di negara sana," tutur Tuan Darion seraya tersenyum tipis, kali ini ia tidak lagi menatap Ibu Ani sejak tadi menunduk.


Tuan Anderson mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penuturan Tuan Darion. Dia tidak bisa mencegah teman bisnisnya untuk tidak pergi karena kesepakatan yang terjalin di antara mereka pun sudah selesai.


"Baiklah, aku mengerti. Mudah-mudahan saja Anda bisa menemukan kebahagiaan itu di sana," ucap Tuan Anderson sembari menepuk bahu rekan bisnisnya itu.


"Terima kasih."


"Tapi, setidaknya ... bisakah Anda menghadiri resepsi pernikahan Arzan dan Allura yang akan di gelar dua minggu lagi?" tanya Tuan Anderson. Dia berharap semua orang yang mengenalnya hadir di acara tersebut.

__ADS_1


Tuan Darion tidak langsung menjawabnya, ia sedikit berpikir. "Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan untuk hadir," jawabnya.


"Baiklah."


Setelah cukup berbincang, Tuan Darion pun berpamitan pada semua orang yang ada di sana. Tuan Anderson dan Nyonya Fika pun mengantarkan kepergian Tuan Darion dari rumah mereka, sedangkan Allura sudah pamit ke kamarnya bersama Bintang dan Arzan. Ibu Ani sendiri sudah pulang sejak tadi, ia enggan berlama-lama di sana karena ada Tuan Darion sangat jelas jika dia tidak bisa menerima kehadiaran Tuan Darion dimanapun itu.


Allura mulai membantu Arzan untuk membersihkan tubuhnya, apalagi luka bekas peluru masih basah dan dokter menyarankan supaya luka itu tidak terkena air dulu.


"Aw ...," rintih Arzan saat tangan Allura tanpa sengaja menyentuh luka di punggungnya.


"Apa sakit, Mas?" tanya Allura dengan khawatir.


"Sedikit. Tapi tidak apa-apa, lanjutkan saja."


Allura kembali melanjutkan kegiatannya, ia juga membersihkan luka itu serta mengganti perbannya. Setelah selesai, Allura segera membereskan peralatan yang tadi dipakainya untuk mengobati luka suaminya.


"Mas, apa kita harus melakukan resepsi pernikahan itu?" tanya Allura yang kini sudah duduk di samping Arzan.


"Tentu saja, sayang. Kita harus melakukan resepsi itu. Apalagi saat menikah kemarin, tidak ada orang yang mengetahuinya," tanggap Arzan yang semakin menyembunyikan wajahnya di perut Allura dan membuat wanita itu kegelian.


"Geli, Mas!' seru Allura seraya memundurkan tubuh, tetapi ia tidak bisa menghindar karena Arzan juga memeluknya.


"Aku merindukanmu." Aran mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Allura.


"Aku juga merindukanmu, Mas. Apalagi saat kamu sedang koma kemarin, aku begitu mengkhawatirkanmu," jawab Allura, ia tersenyum lembut saat mengungkapkan perasaannya dan membuat Arzan senang.


"Ra, menurutmu kenapa Mama Ani tidak menerima Tuan Darion sebagai suaminya?" tanya Arzan yang masih penasaran, meskipun pertanyaan itu hanya sebagai pengalihan saja.


"Bukankah tadi Mama sudah menjawabnya? Mama masih mencintai Papa, jadi dia menolak Tuan Darion," jawab Allura.


Arzan tak lagi bertanya, jawaban Allura membuatnya tidak puas. Kenapa rasanya masih ada yang mengganjal, ya? gumam Arzan. Pria itupun memilih bangkit dari pangkuan Allura, ia masih harus memastikan sesuatu dulu pada Edwin.

__ADS_1


Allura membiarkan Arzan bangkit dari pangkuannya, ia hanya memerhatikan pria itu yang kini sedang menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, Arzan pun kembali merebahkan kepalanya di bantal yang sudah Allura siapkan. Posisi tidur Arzan saat ini masih harus tengkurap agar lukanya tidak semakin bergesekan.


Hari masih siang, Allura memilih untuk turun ke lantai bawah dan membiarkan Arzan yang kini sedang tidur bersama Bintang di kamar mereka. Setiba di lantai bawah, Allura melihat mama mertuanya yang kini sedang membaca majalah di ruang keluarga, ia pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Ma ...," sapa Allura begitu ia duduk.


"Ada apa, Ra? Arzan dan Bintang mana?" tanya Nyonya Fika karena tidak melihat kehadiran anak serta cucunya.


"Mereka sedang istirahat, Ma," jawab Allura.


"Oh, baiklah." Nyonya Fika menyimpan majalahnya dan menatap lekat sang menantu, hal itu membuat Allura terheran.


"Apa ada sesuatu di wajahku, Ma?"


"Tidak ada. Mama hanya sedang membayangkan bagaimana cantiknya kamu nanti saat duduk di pelaminan."


Allura seakan tersadar, tadi ia hendak mengatakan pada Arzan untuk membatalkan acara itu. Alasannya Allura malu karena pasti nantinya akan banyak tamu hadir di sana.


"Ma, apa kita benar-benar harus mengadakan acara itu? Maksudnya ... aku malu karena pasti di sana akan ada banyak tamu yang hadir," ucap Allura pada mama mertuanya.


Nyonya Fika segera menggeleng, ia menampik semua ucapan Allura. Keputusannya sudah bulat untuk mengadakan resepsi itu. Bahkan, kini persiapannya sudah 75%. Dia menyiapkan itu semua bersama Ibu Ani karena Arzan yang menyuruhnya, sedangkan Allura sudah menolaknya sejak awal.


"I can't, Lura. Mama has prepared everything, we just have to choose the wedding dress," tolak Nyonya Fika dan membuat Allura menghela napas panjang.


"Baiklah, aku mengerti."


Nyonya Fika merasa sedikit bersalah karena melihat wajah murung Allura. Entah apa yang dipikirkan Allura, sehingga dia tidak ingin merayakan pesta pernikahannya secara besar-besaran.


"Kamu harus mempersiapkan diri dari sekarang, Lura. Untuk kedepannya, kamu juga harus menemani Arzan ketika dia menghadiri suatu acara. Hal seperti itu yang biasa Mama lakukan dan akan kamu lakukan juga nanti," ucap Nyonya Fika saat melihat wajah Allura yang tertekuk.


Setelah mendengar penuturan mertuanya, Allura pun mengangguk mengerti. Ia akhirnya mau melakukan resepsi itu dengan semestinya. Nyonya Fika pun sudah merencanakan butik yang akan mereka datangi esok hari.

__ADS_1


__ADS_2