
Nira lari kalang kabut di tangga darurat, gadis itu sangat ketakutan jika sampai Tuan Anderson dan Arzan sampai menangkapnya, dia harus bisa melarikan diri secepat mungkin. Namun sayang, begitu ia sampai di lantai bawah, ternyata petugas keamanan sudah berjaga di sana.
Double ****, umpat Nira saat para petugas itu berhasil mencengkeramnya.
Nira segera dibawa ke pos pengamanan untuk menunggu kedatangan Arzan dan Tuan Anderson. Beberapa kali Nira berontak supaya cekalannya dilepas, tapi dua petugas itu tidak menggubrisnya.
Tak lama kemudian, Arzan dan Tuan Anderson pun datang bersama salah satu petugas keamanan wanita untuk membawa Nira kembali ke rumah. Mereka tidak ingin menimbulkan kerusuhan di perusahaan. Jadi, Arzan menyarankan untuk membawanya pulang lebih dulu, lagi pula mereka harus mendengarkan penuturan Allura.
***
Allura saat ini sedang di rumah sakit, ia bersama dengan Bi Erni yang masih terus menemani Bu Ani. Sedangkan Viana belum datang karen gadis itu harus masuk kerja.
Kondisi Bu Ani semakin membaik setelah menjalani operasi kemarin, beliau juga sudah sadarkan diri saat menjelang subuh dan itu membuat Allura merasa sedikit bersalah karena ia tidak ada di sisi sang mama saat pertama kali membuka matanya.
"Ma, aku sangat senang sekali. Alhamdulillah, aku bisa kembali bekerja dengan tenang," ucap Allura sambil memegangi tangan Ibu Ani. Meskipun wajah wanita paruh baya itu masih sedikit pucat, tapi binar matanya sudah terlihat segar.
"Iya, Ra. Alhamdulillah, Mama juga bahagia. Semoga orang yang sudah menolong kita, semakin diperlancar rejekinya dan selalu diberikan kesehatan," tanggap Ibu Ani sambil tersenyum lembut.
"Mbak, aku juga sudah merasa lega saat melihat Mbak buka mata. Tadinya aku sangat khawatir saat enam jam pertama Mbak belum juga membuka mata," celoteh Bi Erni yang langsung diangguki oleh Allura.
"Sudahlah, kalian terlalu berlebihan. Sekarang aku sudah baik-baik saja," jawab Ibu Ani.
Hening untuk sesaat, Allura terus memainkan jari-jari sang mama yang masih ia genggam. Ada rasa sesak dalam dadanya karena ia masih belum mengatakan hal yang sejujurnya tentang pekerjaan yang sedang ia lakoni saat ini. Namun, ia juga khawatir Ibu Ani akan marah, jika sampai tahu anak gadisnya menjadi seorang ibu susu.
Sudahlah, lebih baik aku jangan pikirkan itu dulu, batin Allura.
Ibu Ani mengernyitkan keningnya saat melihat keterdiaman sang anak, tidak biasanya Allura menjadi gadis pendiam. Jika Allura bersikap diam, itu artinya ia sedang memikirkan sesuatu, atau sedang menyembunyikan sesuatu.
[Insting seorang ibu].
"Lura, apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?" tanya Ibu Ani saat Allura tak kunjung membuka suara.
Allura yang masih asik dengan lamunannya pun segera mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum kembali menjawab pertanyaan sang mama.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya saja, kemarin aku lupa menemui Ibu kontrakan. Jadi belum sempat menemuinya," jawab Allura setelah berpikir sejenak.
Untung saja mama dan Bi Erni percaya dengan jawaban Allura. Jika tidak, maka Allura akan sedikit kesusahan. Gadis itu kembali berbohong karena sebenarnya uang kontrakan sudah ia titipkan pada sahabatnya, Viana.
__ADS_1
"Lura, Bibi sedikit penasaran dengan majikan kamu. Dia itu duda atau suami orang?" tanya Bi Erni tiba-tiba. Ia merasa sedikit curiga karena keponakannya diperhatikan oleh majikannya, ia hanya tidak ingin Allura menjadi korban pria orang kota seperti mamanya.
Ya, Arzan tadi sempat bertemu dengan Ibu Ani dan Bi Erni sesaat, sebelum ia pamit karena di perusahaannya sedikit terjadi masalah dan Tuan Anderson memintanya untuk hadir di sana.
"Dia memang orangnya baik, Bi. Dia pernah aku tolong saat mengalami kecelakaan. Dan ... mungkin karena alasan itu juga dia bersikap baik padaku," jawab Allura.
"Oh. Tapi, kenapa kenapa dia sangat perhatian sekali padamu, Ra?" tanya Bi Erni lagi, ia masih penasaran sebab Allura tidak menjawab status Arzan.
"Dia ... dia ... aku kurang tahu, Bi. Yang aku tahu, ibu dari anak yang saat ini aku asuh, tidak pernah pulang. Bahkan dia seakan lupa jika dirinya sudah mempunyai anak," jawab Allura apa adanya. Dia memang tidak mengetahui dengan pasti status Arzan saat ini.
"Wah, ternyata masih ada, ya, wanita seperti itu," ucap Bi Erni. Jiwa rempongnya kembali muncul saat mengetahui keburukan majikannya Allura.
"Hei, sudahlah, Ni. Kamu jangan mulai bergosip di sini, apalagi sampai membawa Allura," tegur Bu Ani pada adik sepupunya.
"Maaf, Mbak. Aku hanya sedikit penasaran saja," jawab Bi Erni.
Allura terkekeh pelan saat melihat Bibinya ditegur oleh sang mama, hingga tiba-tiba saja ia mengingat Nira.
"Mama, Nira sebenarnya ada di kota semenjak beberapa hari yang lalu," ucap Allura.
"Kamu tidak sedang bercanda 'kan, Ra? Untuk apa dia di sini? Setahu Bibi, dia akan menikah minggu depan." Bi Erni bertanya terlebih dulu, sedangkan Bu Ani masih mendengarkan cerita Allura.
"Aku tidak bohong, Bi. Dia memang ada di sini. Tapi, dia sedikit menyebalkan," jawab Allura dengan wajah kesalnya.
Bi Erni semakin dibuat penasaran dengan ucapan Allura, wanita itu hendak kembali bertanya. Namun, Ibu Ani sudah menyelanya terlebih dulu.
"Bagaimana bisa dia di kota, Ra? 'Kan dia tidak mempunyai keluarga di kota lain selain kita," ucap Ibu Ani. Dia merasa heran karena memang tidak pernah melihat Nira datang ke sana. Bahkan menemuinya pun, tidak.
"Lura kurang tahu, Ma. Tapi yang aku heran, dia mengaku sebagai anak Papa, Ma. Bahkan majikanku saja sampai melindunginya setengah mati," jawab Allura saat ia mengingat bagaimana perlakuan Tuan Anderson terhadap Nira.
"Hah, kenapa dia mengaku sebagai anak Papa kamu, Ra?" tanya Bi Erni dengan heboh.
Allura menggeleng pelan, sampai saat ini dia tidak mengetahui alasan Tuan Anderson melindungi Nira sampai seperti itu. Bahkan saat Allura menanyakan alasannya pada Nira, dia hanya mengatakan ingin menikah dengan orang kota.
"Aku juga kurang tahu, Bi," jawabnya.
"Ya sudahlah, Ra. Yang penting dia tidak menggangu kamu 'kan?" tanya Bi Ani sedikit khawatir, lantaran ia tahu bagaimana sikap Nira terhadap Allura.
__ADS_1
"Tidak, Ma. Sebisa mungkin aku tidak berurusan dengannya," jawab Allura dengan tersenyum lembut untuk membuat mamanya tidak khawatir.
"Syukurlah, jika dia tidak sampai mengganggu," tanggap Bu Ani dan Bi Erni bersamaan.
Allura menghabiskan waktunya di sana dengan sang mama dan bibinya sambil menunggu Arzan yang akan datang menjemputnya. Pria itu tidak mengizinkan Allura untuk pulang sendirian dan malah meminta dia untuk menunggunya.
Saat ketiganya masih berbincang, tiba-tiba saja terdengar salam dan ketukan dari pintu masuk ruang rapat Bu Ani.
"Assalamualaikum," sapa Arzan sambil membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam," jawab ketiga wanita yang sedang berbincang tadi.
Allura, Ibu Ani dan Bi Erni sedikit heran saat melihat majikan Allura yang datang ke ruangan rawat Ibu Ani.
"Lho, Tuan, Nyonya, ada apa sampai datang kemari," tanya Allura sambil menghampiri ketiga majikan.
Tanpa terduga, Nyonya Fika langsung menghambur memeluk Allura sambil menggumamkan kata maaf.
"Lura, maafkan kami yang sudah keliru dan salah mengenali kamu dengan Nira," ucap Nyonya Fika.
Sedangkan Tuan Anderson tampak sedikit membuang muka, ia terlalu malu karena sudah bersikap kasar pada Allura. Andai saja jiwa laki-lakinya tidak ada, dia lebih memilih untuk pergi dan tak menemui Allura. Namun, ia memberanikan dirinya untuk itu, meskipun Allura akan marah atau membencinya, setidaknya ia sudah berusaha.
"Allura, maafkan aku karena sudah keliru."
·
·
·
·
·
Halo kakak-kakak yang baik, Author punya rekomendasi Novel yang gx kalah bagusnya nih, jangan lupa mampir kesana ya 🥰🥰🥰
__ADS_1