
Kabar penangkapan Ethan tidak diketahui oleh orang-orang, termasuk Pak Darda, dia belum mengetahui hal itu. Seperti saat ini, Pak Darda sudah siap dengan rencana yang dirancangnya bersama Ethan, tetapi dia merasa sedikit heran karena partner kerjasamanya itu tidak bisa dihubungi.
"Kemana anak itu? Kenapa dia tidak datang juga sampai sekarang?" tanya Pak Darda sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. Pria paruh baya itu sudah menunggu kedatangan Ethan sejak satu jam yang lalu.
Dari kejauhan tampak Tuan Anderson bersama asistennya baru saja keluar dari perusahaan. Dia tadinya berniat untuk mencegat dan menyerangnya saat di perjalanan sepi, tapi sepertinya rencana itu harus berubah karena ketidak hadiran Ethan.
"Sepertinya harus aku sendiri yang turun tangan. Hah, dasar sEthan! Tidak bisa diandalkan," geram Pak Darda seraya mencengkeram erat kemudinya.
Pria paruh baya itu menjadi kesal sendiri karena rencananya harus berubah secara mendadak, akhirnya ia pun memilih untuk membuntuti mobil Tuan Anderson. Meskipun pria itu bersama seorang sopir, tetapi Pak Darda tahu jika sopir itu tidak pandai berkelahi karena hanya sopir pengganti. Setelah memerhatikan beberapa saat, Pak Darda pun membuntuti mobil yang ditumpangi Tuan Anderson.
"Tuan, sepertinya ada seseorang yang mengikuti mobil kita," ucap sopir pengganti Tuan Anderson.
"Benarkah?" Tuan Anderson berbalik untuk melihat mobil yang dimaksud oleh sopirnya. Di sana, ia melihat sebuah mobil dengan plat nomor yang tidak dikenalnya tengah membuntuti mobil yang ia tumpangi.
Siapa orang yang sedang mengikutiku? Aku juga tidak mengenali plat nomor mobil itu, gumam Tuan Anderson dalam hatinya. Tanpa menunggu lama, Tuan Anderson pun segera menghubungi Arzan yang masih berada di perusahaan.
"Assalamualaikum, Zan," sapa Tuan Anderson begitu panggilannya dijawab oleh Arzan.
"Wa'alaikum salam, Pa. Ada apa?" tanya Arzan dari sebrang sana. Dia merasa sedikit heran karena papanya sudah kembali menghubunginya, sedangkan baru beberapa saat lalu beliau keluar dari perusahaan.
"Ada yang sedang membuntuti mobil Papa. Sebaiknya kamu susul Papa sekarang juga!" perintah Tuan Anderson sebelum panggilannya ia akhiri sepihak karena mobilnya sudah dipepet oleh seseorang.
"Tuan, bagaimana ini? Mobil itu memepet kita!" seru seru sopir yang merasa panik.
"Lanjut jalan saja, Pak. Jangan panik, sebentar lagi putraku akan segera menyusul kita!" perintah Tuan Anderson. Ia sendiri pun sebenarnya panik, tetapi masih berusaha untuk tetap tenang.
Sopir yang mengendarai mobil Tuan Anderson tampak mengikuti perintah tuannya, pria itu semakin ketakutan tak kala mobil yang ia dikendarai dibentur oleh mobil yang sedang mengejarnya.
__ADS_1
"Tu–tuan, bagaimana ini?" tanya sang sopir dengan segala ketakutannya.
"Tancap gasnya, Pak. Jangan sampai dia kembali membentur mobil kita lagi!" Tuan Anderson kembali memerintahkan sopirnya agar menambah kecepatan laju kendaraan mereka.
Sopir itu pun kembali mengikuti arahan majikannya, dia menekan tuas gasnya dengan cepat untuk menghindari benturan yang akan dilakukan oleh pengemudi gila disampingnya.
Mobil yang dikendarai Pak Darda semakin menggila, dia kembali menabrakan mobilnya ke mobil yang ditumpangi Tuan Anderson. Andai jalanan itu ramai, hal ini pasti tidak terjadi. Akan tetapi, jalanan yang saat ini dilalui oleh Tuan Anderson tampak lengang dan sepi sehingga membuat Pak Darda leluasa melakukan keinginannya.
***
Sementara itu ....
Arzan segera melacak keberadaan sang papa, ia bermaksud untuk mengikutinya seperti perintah Tuan Anderson. Arzan juga tidak lupa menghubungi kepolisian agar bisa membantunya nanti.
Setelah mendapatkan lokasi keberadaan Tuan Anderson, Arzan pun segera menyambar kunci mobilnya, ia akan mengemudi sendiri karena tidak ingin ada korban. Namun, gerakannya terhenti saat Edwin menghadangnya.
"Tuan, ada apa? Kenapa tampak khawatir?"
Bukan Edwin namanya jika ia akan membiarkan Arzan pergi sendiri dalam keadaan marah dan khawatir seperti saat ini. Dengan gerakan cepat, Edwin merebut kunci mobil yang tengah di genggam oleh Arzan sehingga membuat pria itu menggeram kesal.
"Apa yang sedang kamu lakukan! Cepat kembalikan kunci mobil itu!" perintah Arzan dengan tegas.
"Tidak, saya yang akan mengemudi. Anda cukup tunjukkan saja arahnya." Edwin berjalan cepat dan meninggalkan Arzan yang sedang mengepalkan tangannya kesal.
"Si*l!" umpat Arzan sebelum ia mengikuti langkah asistennya yang sudah memasuki lift.
Lift yang mereka naiki pun mulai membawa turun ke lantai bawah, Arzan dan Edwin berjalan cepat menuju parkiran tanpa menghiraukan sapaan-sapaan para karyawan yang mereka lewati.
__ADS_1
Arzan segera membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi, begitupun dengan Edwin yang sudah duduk di depan kemudinya. Mobil itu pun mulai melaju keluar dari pelataran kantor.
"Kita akan pergi ke mana, Tuan?" tanya Edwin setelah mobil mereka berada di persimpangan jalan.
"Kita pergi ke arah utara, jalan Hourvan," jawab Arzan. Ia tahu kalau papanya akan pergi ke sana untuk meninjau kantor cabang.
"Baiklah." Edwin kembali menambah laju kendaraannya agar bisa cepat sampai tujuan. Sebenarnya, ia sendiri pun belum mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Akan tetapi, setelah melihat kekhawatiran yang tersirat di wajah tuannya, ia pun bisa menyimpulkan jika saat ini keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Di tambah lagi Edwin mendengar sirine mobil polisi yang mengikuti mereka.
Semoga Papa baik-baik saja. Semoga tidak terjadi suatu hal yang buruk padanya, batin Arzan khawatir.
Kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh Arzan, tapi juga dirasakan oleh Nyonya Fika. Wanita paruh baya itu tidak bisa tenang sejak tadi, ia terus mondar-mandir sambil sesekali menatap ponselnya.
"Ma, ada apa?" tanya Allura yang merasa heran karena mama mertuanya tidak juga duduk sejak beberapa menit lalu.
"Mama ... Mama sedang menunggu kabar dari Papa. Sejak tadi Mama sudah berusaha menghubunginya, tapi Papa tidak juga menjawab panggilan dari Mama." Nyonya Fika kembali mencoba untuk menghubungi suaminya, tapi lagi-lagi panggilannya tidak terjawab.
Allura bangkit setelah ia menyimpan Bintang di baby bouncer dan menghampiri sang mama mertua.
"Duduk dulu, Ma. Semoga saja tidak terjadi suatu hal yang buruk pada Papa," ucap Allura sambil memberikan segelas air putih pada Nyonya Fika.
"Mama tetap khawatir, Ra. Apalagi setelah mendengar percakapan Pak Darda dengan Ethan. Itu semakin membuat Mama khawatir," jawab Nyonya Fika.
Kedua wanita itu tidak mengetahui posisi Arzan dan Tuan Anderson saat ini. Arzan sengaja tidak menghubungi Allura dan mamanya karena tidak ingin membuat mereka cemas.
"Kita tunggu saja kabar dari mereka, Ma. Kita doakan semoga mereka selalu dalam perlindungan-Nya." Allura memeluk Nyonya Fika, ia berharap mertuanya bisa tenang dengan melakukan hal itu.
Nyonya Fika hanya bisa mengangguk pelan di pelukan menantunya, sungguh saat ini perasaannya benar-benar kalut tidak menentu. Saat kedua wanita muda itu masih berpelukan, tiba-tiba ponsel milik Nyonya Fika berdering. Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itupun segera menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, halo ...," sapa Nyonya Fika setelah ia menerima panggilan.
"Wa'alaikum salam, Nyonya. Kami dari kepolisian–"