
Hari sudah semakin siang, orang-orang sudah memulai aktivitasnya masing-masing. Namun, berbeda dengan seorang pria yang masih setia memejamkan matanya di atas sofa ruang kerja, pria itu adalah Arzan Rafindra.
Tadi malam, Arzan sama sekali tidak bisa tidur dan ia baru terlelap saat adzan Subuh berkumandang. Bahkan sakin mengantuk, ia tak sempat membuka baju koko yang tadi dikenakannya untuk shalat.
Arzan tertidur hingga akhirnya, seseorang datang dan membangunkannya. Sayup-sayup ia mendengar suara yang begitu merdu di telinganya, diiringi dengan cipratan air diwajahnya dan membuat Arzan terbangun seketika.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya bernada ketus sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, Tuan. Tapi, sudah pagi, apa Anda tidak masuk kerja?" tanya Allura seraya menunduk dan mendekap erat Bintang di dadanya.
Arzan melihat sekeliling ruangan yang sudah terang, lalu pandangan pria itu pun menoleh ke sebuah jam yang tak jauh berada di depannya hingga membuat Arzan terjengkit kaget.
"Kenapa kamu baru membangunkanku? Kamu tahu, pagi ini aku memiliki meeting penting dan kamu memberitahuku dengan mendadak seperti ini!" sergahnya lagi.
Allura mendengus kesal, ia merasa menyesal karena sudah menuruti keinginan Nyonya Fika untuk membangunkan Arzan. Namun kini, ia lagi yang disalahkan oleh orang itu.
"Mana saya tahu jika Anda memiliki meeting pagi. Saya 'kan hanya diminta Nyonya untuk membangunkan Anda saja," jawab Allura sembari melangkah mendekati pintu keluar. Ia tidak ingin terlalu lama berada di sekeliling Arzan, pria itu selalu membuatnya naik pitam saat bertemu.
Sepeninggalan Allura, Arzan segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap ke kantor. Pria itu benar-benar sangat buru-buru, bahkan ia melupakan sarapannya begitu saja dan hanya meminum satu seruput kopi pahit yang biasanya tersaji untuknya.
Nyonya Fika dan Tuhan Anderson dibuat geleng-geleng kepala oleh sikap Arzan pagi ini. Pasalnya, mereka tahu jika anaknya tidak pernah terlambat. Namun untuk hari ini, sepertinya sudah termasuk pengecualian.
Allura menghampiri Arzan dengan membawakan sekotak sandwich untuk ia makan di mobil. Walaupun Allura masih kesal dengan sikap majikannya, tapi ia berbaik hati untuk menyiapkan semua itu.
__ADS_1
"Tuan, ini bawa dan Anda makan. Tenang saja, saya tidak menambahkan bahan-bahan aneh di dalamnya," ucap Allura sebelum mobil itu jalan meninggalkan pelataran rumah keluarga Rafindra.
Arzan menatap sesaat kotak makanan itu. Awalnya ia sedikit ragu, sampai-sampai meminta Pak Ujang untuk mencicipi sandwich miliknya.
"Bagaimana, Pak? Apa rasanya sedikit aneh, atau ada yang mencurigakan, mungkin?" tanya Arzan seraya menatap Pak Ujang lewat kaca spion.
"Tidak ada, Tuan. Semuanya aman. Hanya saja ... rasanya berbeda dengan yang biasa dibuatkan oleh Bi Endah," jawab Pak Ujang asal, sehingga membuat Arzan sedikit mengernyitkan keningnya.
"Apa rasanya buruk?"
Pak Ujang menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Rasanya sangat enak, beda dari biasanya," jawab Pak Ujang sambil menghabiskan sisa sandwich di tangannya.
Arzan tidak langsung mempercayai ucapan Pak Ujang, ia sedikit ragu-ragu. Namun, suara gemuruh diperutnya memaksa Arzan untuk menyuapkan roti isi itu. Arzan langsung mematung sambil menatap roti isi ditangannya.
Pak Ujang tersenyum kecil saat melihat Arzan yang makan sandwich itu dengan lahap. Ini pertama kalinya Pak Ujang melihat Arzan memakan sarapannya dengan semangat, biasanya pria itu tak pernah menghabiskan makannya dengan benar.
Sepertinya Nona Allura bisa sedikit merubah sifat buruk Tuan Arzan, batin Pak Ujang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya Arzan dak Ujang pun sampai di pelataran perusahaannya. Arzan segera turun terlebih dulu karena sudah ditunggui oleh Edwin. Setelah Arzan keluar dari mobil, barulah Pak Ujang melajukannya lagi menuju tempat parkiran.
Edwin merasa sedikit heran pada atasannya, tidak biasanya Arzan datang terlambat, apalagi saat ini mereka mempunyai agenda meeting yang cukup penting.
Tidak sampai di situ, Edwin juga merasa aneh saat melihat raut wajah Arzan yang tidak biasanya. Pria itu kini lebih sering tersenyum, bahkan sempat menyapa ramah para bawahannya yang berpapasan.
__ADS_1
Tuan Arzan kenapa? Apa dia sedang sakit sehingga membuat otaknya sedikit bergeser? tanya Edwin dalam hatinya.
Sesampai di ruangan meeting, Arzan segera memberikan sambutannya sebelum membahas permasalahan yang sedang terjadi di kantornya. Jika biasanya pria itu memimpin dengan nada tinggi dan ketus, kini Arzan bisa bersikap lebih lembut, tapi tegas. Hal membuat para manajer yang ikut meeting bersamanya tidak terlalu khawatir dan was-was.
***
Di rumah Nyonya Fika, tak banyak yang Allura lakukan. 75% pekerjaannya hanya menjaga Bintang dan 25% lainnya ia gunakan untuk sesekali membantu para pelayan di rumah itu.
Allura adalah orang yang ramah, sehingga tidak sulit untuknya bergaul dengan beberapa pelayan yang bekerja di rumah Nyonya Fika. Meskipun Allura termasuk orang yang introvert, tapi ia selalu menyempatkan dirinya untuk berkumpul sesaat dengan para pelayan itu, tentunya di waktu senggang.
Seperti saat ini, selesai menyusui Bintang, Allura membawa bayi itu ke halaman belakang. Di sana terdapat paviliun untuk tempat beristirahat para pelayan di rumahnya Nyonya Fika.
Para pelayan itu langsung menyambut kedatangan Allura dan Bintang begitu mereka sampai di sana. Para pelayan di rumah itu tidak ada yang mengetahui jika Allura adalah ibu susu Bintang, mereka hanya mengira Allura hanyalah baby sitter saja.
"Mbak Lura, apa tidak masalah jika Den Bintang diajak kemari?" tanya Dea. Dea merupakan pelayan baru di rumah itu, ia baru masuk beberapa hari yang lalu.
"Memangnya kenapa, Mbak? Toh ini 'kan tempatnya bersih. Jadi, tidak ada masalah," jawab Allura sambil memicingkan matanya.
Dea melambaikan tangannya beberapa kali. "Bukan seperti itu maksudnya, Mbak Lura. Tapi, bukankah biasanya orang kaya itu tidak boleh bergaul dengan kalangan bawah, ya?" tanya Dea.
Allura menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju dengan anggapan Dea terhadap majikannya.
"Inga pepatah 'Do not judge a book by its cover'?" tanya Allura pada Dea yang langsung diangguki oleh gadis itu. "Begitupun dengan keluarga ini, mereka tidak seperti yang kamu kira. Menurutku, semua anggota keluarga disini baik dan cukup ramah," sambungnya lagi.
__ADS_1