
Pagi ini Allura meminta ijin pada Nyonya Fika untuk mengunjungi Ibu Ani yang masih berada di rumah sakit, kemarin ia sempat berjanji akan menengoknya di sana.
"Nyonya, saya ... saya mau meminta izin sebentar, apa boleh?" tanya Allura.
Nyonya Fika menghentikan aktivitasnya yang tengah menyulam, ia menatap Allura sesaat.
"Apa kamu harus mengunjungi Ibumu?" tebak Nyonya Fika.
"Benar, Nyonya. Saya hanya minta waktu sebentar saja," ucap Allura sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Baiklah. Tapi jangan terlalu lama, kamu tahu sendiri anakmu itu tidak bisa berjauhan lama darimu, kan?"
Tanpa Nyonya Fika sadari, ia sudah menganggap Allura layaknya seorang ibu untuk Bintang. Hingga ia tak sadar menyebut Bintang adalah anak Allura.
Allura sendiri terdiam mematung saat mendengar pertanyaan dari Nyonya Fika, ia memang sudah menganggap Bintang layaknya anak sendiri. Namun, ia tidak pernah berani bermimpi untuk menjadi ibu sambung bagi bayi itu.
"Maaf, Nyonya?!"
Allura menyadarkan Nyonya Fika dari ucapannya dan membuat wanita paruh baya itu pun sedikit mengulas senyum di bibirnya, sebelum ia mengibaskan tangan.
"Sudahlah. Kamu tidak perlu memikirkan ucapanku tadi. Maaf, jika itu membuatmu tersinggung," ucap Nyonya Fika dengan cepat seraya melemparkan pandangannya ke arah lain.
Sudahlah, jangan terlalu berharap. Allura masih muda, dia masih bisa mendapatkan kebahagiaan di tempat lain. Toh aku juga belum terlalu mengenalnya, batin Nyonya Fika.
Ada setitik harapan di hati Nyonya Fika agar ibu susu Bintang menjadi ibu sambungnya. Namun, ia tidak ingin membuat Arzan kembali kecewa dengan wanita yang ia pilih. Sekarang, ia tidak akan ikut campur lagi dengan urusan hati sang anak. Nyonya Fika yakin, jika Arzan pasti bisa mendapatkan wanita yang mau menerima Bintang sebagai anaknya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Allura hanya mengangguk kaku saat Nyonya Fika meminta ia untuk tidak memikirkan ucapannya tadi.
Jangan terlalu berharap, Lura. Ingat, tujuanmu menerima pekerjaan ini. Jadi, jangan bermimpi untuk menjadi Cinderella, batin Allura yang menegur dirinya sendiri.
"Baiklah, Nyonya. Sekarang saya akan menyiapkan ASIP lagi, Bintang juga sedang tidur saat ini," lapor Allura.
Setelah mendapatkan anggukan dari Nyonya Fika, Allura pun pergi meninggalkan majikannya yang kembali sibuk dengan rajutan.
Kebetulan ini adalah hari minggu, Arzan dan Tuan Anderson tidak bekerja. Namun, mereka tidak mengetahui jika Allura akan menengok mamanya yang berada di rumah sakit. Jadi, mereka biasa melakukan aktivitasnya masing-masing, Arzan dan Tuan Anderson sibuk di ruangan GYM yang ada di sebelah kolam renang. Sedangkan Allura kembali ke kamarnya untuk melihat Bintang yang tengah tidur seraya mulai memerah ASI—nya.
Allura tersenyum ditengah-tengah kegiatannya saat melihat Bintang yang mulai mengerjapkan mata bulatnya, bayi itu terbangun dan melihat ibu susunya sedang memerah ASI untuknya. Allura menghentikan kegiatannya dan segera menghampiri bayi merah itu sebelum ia menangis.
Bintang kembali mengerjapkan matanya beberapa kali dengan lucu saat melihat Allura yang ada di depan wajahnya. Gadis itu menyolek hidung bangir Bintang dan membuat bayi itu langsung membuka mulutnya, mengira jika Allura akan memberikan ASI untuknya.
Allura kembali tersenyum saat Bintang lagi-lagi menarik tangannya, hendak ia masukkan ke dalam mulut. Melihat reaksi Bintang yang seperti itu membuat Allura tidak tega untuk berlama-lama menggodanya. Akhirnya ia pun mengalah dan kembali memberikan ASI—nya pada Bintang.
"Ululu ... Adek haus, ya?" tanya Allura sambil menatap manik bulatnya Bintang.
Gadis itu dengan sepenuh hati memberikan nutrisi untuk Bintang, bahkan ia melupakan jika asetnya itu nanti akan sedikit berubah setelah masa menyusui selesai.
Hampir satu jam lamanya Bintang menyusu, tentu saja setengah jam persebelahnya dan waktu itu cukup untuk membuat Allura merasa pegal. Namun, lagi-lagi gadis itu tidak mengeluhkannya.
Selesai memberikan ASI pada Bintang, Allura pun mulai memandikan bayi merah itu dengan air hangat. Pekerjaan mengurus Bintang benar-benar ia lakukan sendirian, mulai dari bayi itu bangun hingga kembali tertidur. Setelah selesai memandikan Bintang, Allura juga tidak lupa untuk menjemur bayi itu sebentar hingga tubuhnya terasa hangat kembali.
Semua gerak-gerik Allura saat sedang menjemur Bintang diperhatikan oleh Tuan Anderson dan juga Arzan yang masih berada di ruangan GYM mereka.
__ADS_1
"Pa, sepertinya Allura benar-benar menganggap Bintang itu sebagai anaknya saja, ya?" tanya Arzan pada papanya.
"Hmmm." Tuan Anderson hanya menanggapi pertanyaan Arzan dengan deheman saja.
Entah kenapa Tuan Anderson tidak terlalu respek pada Allura, ia masih berharap anaknya Adnan yang akan menggantikan posisi Rivera sebagai ibu sambung untuk Bintang dan tentunya itu bukan Allura.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu memperhatikan dia, Zan!" perintah Tuan Anderson pada anak laki-lakinya.
"Lho, kenapa seperti itu, Pa? Bukankah hal wajar jika aku memperhatikan seseorang yang sedang mengurus anakku sendiri?" sergah Arzan yang tidak terima jika dirinya kembali diatur-atur lagi oleh orang tuanya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu jangan banyak bertanya dan ikuti saja perintah Papa. Ingat, dia juga dibayar untuk bekerja di sini!"
Arzan mendengus kesal saat mendengar ucapan papanya, ia merasa hidupnya selalu diatur-atur oleh kedua orang tuanya, tanpa bisa memilih apa yang dia inginkan.
"Pa, tolong kali ini jangan membuat aku harus memilih antara kalian dan pilihan hidupku lagi. Sudah cukup Bintang yang menjadi korbannya saat ini. Jangan sampai ada Bintang lain yang kembali menjadi korban akibat keegoisan kalian yang terlalu mengatur hidupku," ucap Arzan sebelum ia berbalik meninggalkan Tuan Anderson. Mood-nya untuk berolahraga sudah hancur gara-gara ucapan sang papa tadi.
"Hei, Zan. Ingat kamu itu anak Papa dan Mama satu-satunya! Jadi jangan pernah membuat kami kecewa atas semua tindakanmu!" teriak Tuan Anderson sebelum melihat Arzan yang benar-benar pergi dari ruangan GYM itu.
"Terserah Papa saja!" tangkap Arzan sambil berlalu tanpa menoleh Tuan Anderson lagi.
Huh, niat hati ingin beristirahat dan bersantai di rumah, tapi malah hancur karena ucapan Papa tadi, gumam Arzan dalam hatinya.
Langkah kaki pria itu mendadak terhenti saat melewati ruang keluarga, di sana ia melihat Allura yang sedang memakaikan pakaian pada Bintang. Lagi-lagi wajah tampan itu tersenyum simpul saat melihat anak dan ibu susunya sedang berinteraksi.
Secepatnya aku akan mengurus perceraian ku dengan Rivera, batin Arzan sambil terus menatap keduanya, tanpa berniat untuk menghampiri Allura dan Bintang.
__ADS_1