Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 121


__ADS_3

Arzan, Tuan Anderson dan Nyonya Fika tidak dapat lagi menyembunyikan rasa keterkejutan mereka setelah mendengarkan rekaman yang Allura berikan diatas meja makan tadi. Bagaimana tidak, mereka mendengar semua rencana yang dilakukan oleh sepupu tiri Allura serta Bapaknya Rivera, Pak Darda.


Kurang ajar! Berani-beraninya dia berniat untuk melukaiku dan mencelakakan keluargaku, batin Tuan Anderson. Matanya semakin terbelalak tak kala ia juga mendengar niat Pak Darda yang akan menjadikan Nyonya Fika sebagai pelampiasan na*sunya jika dia sudah mati nanti.


"Zan, kita tidak bisa lagi membiarkan dua pecundang itu untuk berlama-lama hidup bebas. Kita harus segera melumpuhkan mereka berdua," ucap Tuan Anderson yang mengutarakan niatnya. Tampak rahang pria paruh baya itu sudah mengeras menahan amarah. Dia tidak terima jika wanita yang sudah menemaninya selama hampir 35 tahun itu akan diperbudak oleh mantan besannya sendiri.


Reaksi Arzan juga tidak kalah marah dari Tuan Anderson ketika mantan mertuanya berniat untuk menghancurkan keluarganya. Pria itu mengepalkan tangan kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Andai sifat buruk lamanya masih ada, pasti dia akan segera menghampiri pria paruh baya itu dan menyerangnya dengan membabi buta. Namun, untuk sekarang dia hanya bisa menahannya.


Allura sendiri bisa melihat kilatan amarah dari kedua pria berbeda generasi itu. Awalnya, dia juga tidak kalah shock-nya dengan mereka. Allura merasa sedikit bersalah karena sudah memberitahukan masalah ini, tetapi jika dia hanya diam saja itu berarti dia membiarkan keluarganya dalam masalah.


"Mas, Mama, Papa ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat mood pagi kalian hancur. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan kalian tidak mengetahui hal ini," ucap Allura sambil menundukkan kepalanya. Sungguh, demi apapun dia merasa sangat bersalah.


"Sudahlah, Nak. Semua ini bukan salahmu. Kamu sudah mengambil jalan yang benar karena sudah memberitahukan semua kebusukan sepupu tirimu dan juga Pak Darda. Berkat rekaman itu, kami jadi mengetahui semua rencana mereka," jawab Nyonya Fika sambil mengusap pelan tangan menantunya. Ia tahu jika saat ini Allura merasa bersalah karena sudah memberitahukan hal buruk pada keluarganya. Namun, di balik itu semua, Nyonya Fika tahu Allura hanya ingin membantu keluarganya untuk lepas dari jerat kedua orang jahat itu.


"Maafkan aku," ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, sayang. Terima kasih karena kamu sudah memberitahukan hal ini dari awal. Jadi, kita bisa meminimalisir untuk menggagalkan rencana jahat mereka," kata Arzan. Pria itu juga menggenggam tangan sang istri yang ada di atas meja untuk menenangkannya. Dia tahu saat ini Allura juga sedang dalam perasaan yang tak kalah kalut dan khawatir sama sepertinya.


Allura menanggapi ucapan Arzan dengan senyuman yang ia paksakan. "Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, Mas?" tanyanya.


Arzan dan Tuan Anderson saling menatap sesaat, sebelum akhirnya kedua pria berbeda usia itupun menganggukkan kepalanya samar. Mereka sudah mempunyai rencananya sendiri untuk melawan Pak Darda serta Ethan.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Ra. Aku tidak akan membiarkan suatu hal buruk pun terjadi pada keluarga kita," jawab Arzan.


Allura pun mengangguk samar setelah mendengar jawaban suaminya, setidaknya untuk saat ini ia bisa sedikit lebih tenang.


Setelah selesai sarapan, Arzan dan Tuan Anderson pun pamit menuju perusahaan mereka, sedangkan Nyonya Fika serta Allura memilih menghabiskan waktu mereka di dalam rumah. Nyonya Fika melakukan itu untuk berjaga-jaga, ia takut Pak Darda maupun Ethan akan bertindak jika sedang berada di luar.


Tak lama setelah kepergian Tuan Anderson dan Arzan ke kantor, Ibu Ani datang bertandang ke rumah besannya. Sejak kemarin malam, ia merasa cemas dan khawatir pada putrinya, Allura.


"Assalamualaikum," sapa Ibu Ani dan Bibi Erni ketika mereka sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Rafindra.


"Wa'alaikum salam!"


Terdengar sahutan dari dalam rumah dan tak lama kemudian, pintu rumah itupun terbuka. Nyonya Fika mempersilakan besannya untuk masuk ke rumahnya.


"Ada di dalam, Mbak. Sepertinya dia sedang menyuapi Bintang," jawab Nyonya Fika sambil melirik ke arah ruang keluarga.


Sebenarnya, pagi ini Ibu Ani datang ke rumah Nyonya Fika pagi ini bukan tanpa alasan. Selain dia ingin mengetahui keadaan Allura, ada hal lain juga yang ingin ia sampaikan terkait Tuan Darion.


"Apakah Bintang sudah mulai diberikan MP-ASI?" tanya Ibu Ani lagi.


"Iya, Mbak. Dia sudah mulai diberikan makanan pendamping. Dokter juga sudah memperbolehkannya. Hanya saja ... dia tidak bisa mengkonsumsi MP-ASI yang mengandung susu. Jadi, Allura harus memasak dan menyiapkannya sendiri."

__ADS_1


"O ... h, seperti itu. Beruntung juga Allura dulu dipercayakan oleh bos–nya untuk mengurus bayinya, sekarang ilmunya bisa ia pakai untuk mengurus anaknya sendiri," tanggap Ibu Ani yang langsung disetujui oleh Nyonya Fika.


Bibi Erni sendiri hanya bisa memerhatikan kedua wanita itu mengobrol, dia masih belum mengetahui tentang Allura yang menjadi ibu susunya Bintang. Entah bagaimana caranya Ibu Ani benar-benar bisa menutupi pekerjaan Allura dari Bibi Erni, sehingga wanita itu tidak mengetahui apapun.


Tanpa disadari oleh Nyonya Fika dan Ibu Ani, Bibi Erni terus memerhatikan kondisi rumah besan kakak sepupunya. Dia tampak seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian, Allura pun datang bersama Bintang di tangannya. Bayi itu sudah selesai mandi, terlihat dari sisa-sisa bedak yang menempel di lehernya.


"Lho, ada Mama dan Bibi juga?" Allura segera menyalami ibu serta bibinya.


"Iya, Ra. Mama merindukan kamu," jawab Ibu Ani sambil menerima uluran tangan Allura.


Allura terkekeh pelan ketika mendengar jawaban sang mama. Padahal, jarak rumah mereka sangat dekat, tapi mamanya selalu berkata jika dia merindukannya.


"Padahal setiap hari kita bertemu, Ma," ujar Allura pelan.


"Tetap saja, Ra. Namanya orang tua, pasti akan selalu merindukan anaknya. Apalagi kamu putri mama satu-satunya!" tegas Ibu Ani yang membuat Allura tersenyum simpul. Dia merasa sangat bahagia karena mempunyai mama yang begitu menyayanginya. Meskipun dia sudah dewasa, bahkan sudah menikah, tetap saja Allura selalu diperlakukan layaknya anak kecil.


"Iya, iya, Ma. Allura memang anak Mama satu-satunya," jawab Allura yang tidak menampik perkataan sang mama. Namun, berbeda halnya dengan Ibu Ani yang menganggap jawaban Allura seperti sebuah ledekan baginya.


"Kamu ini, Ra. Mau sedewasa apapun usiamu, bagi Mama kamu adalah putri kecil Mama yang selalu Mama rindukan," ucap Ibu Ani seraya menepuk tangan anaknya.


Interaksi antara Ibu Ani dan Allura menjadi pusat perhatian Nyonya Fika. Dia merasa terharu karena Ibu Ani begitu mencintai putrinya. Bahkan, dia juga membiarkan Allura dengan pilihannya sendiri, tanpa ikut campur didalamnya.

__ADS_1


Kamu memang benar-benar mirip dengan Papamu, Ra, batin Ibu Ani yang melihat Allura sedang bermain bersama Bintang, anak sambungnya.


__ADS_2