Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 120


__ADS_3

Arzan masuk ke kamarnya setelah ia menyelesaikan pembicaraannya dengan sang papa. Pria itu kini sedikit bisa bernapas lega karena bebannya sudah berkurang. Meskipun imbasnya ia tidak bisa bermanja-manja pada sang istri dan bermain bersama anaknya, tapi itu semua sedikit tergantikan dengan kondisi perusahaan yang kembali stabil.


"Apa Allura sudah tidur?" gumam Arzan ketika ia memasuki kamar dan mendapati suasana yang sudah temaram.


Arzan memeriksa keadaan Bintang terlebih dulu yang tidur di kamar sebelahnya lewat pintu penghubung. Pria itu tersenyum ketika melihat anaknya yang tampan sedang terlelap sambil memeluk guling kecilnya.


"Terimakasih karena kamu sudah hadir di dunia ini, Nak. Papa sangat menyayangimu. Terima kasih karena kamu sudah menjadi sumber kekuatan untukku," ucap Arzan pelan di telinga Bintang dan membuat bayi berusia 27 bulan itu menggeliat lucu. Arzan pun membenarkan selimut yang tersingkap di tubuh Bintang, sebelum akhirnya ia mengecup kening Bintang serta membiarkannya kembali tidur. Setelah itu, Arzan masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Pria itu naik ke ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Naluri lelakinya tiba-tiba bangkit setelah ia mendapati Allura yang tidur dengan memakai gaun tipis berbahan satin. Namun, rasa tidak tega di hatinya muncul saat melihat wajah damai sang istri yang tengah terlelap.


"Maafkan aku karena beberapa hari ini sedikit mengabaikanmu, sayang," ucap Arzan seraya menarik Allura untuk masuk kedalam dekapannya. Tidak lupa, Aran juga melabuhkan kecupan hangat di kening sang istri.


Namun, pergerakan Arzan di sadari oleh Allura. Wanita itu tadi sengaja menunggu suaminya masuk kamar sampai tertidur karena lamanya ia menunggu.


"Kamu sudah masuk, Mas? Maaf, ya ... aku tadi ketiduran," ucap Allura dengan suara khas bangun tidur yang mana itu terdengar begitu seksi di telinga Arzan.


"Tidak apa-apa, sayang. Maaf juga karena aku sudah membuatmu lama menunggu." Arzan semakin mempererat dekapannya terhadap Allura.


Diam-diam Allura tersenyum ketika Arzan mengeratkan pelukannya dan berbisik, "Aku merindukanmu, sayang."


Hal itu membuat jantung Allura kembali berdetak kencang dengan bulu-bulu yang terasa meremang akibat bisikan Arzan di belakang telinganya. Apalagi saat ini posisinya dia sedang membelakangi Arzan dan suaminya itu sedang menenggelamkan wajah di tengkuknya.


Allura membalikkan tubuhnya perlahan, tentu sja ia mengerti dengan keinginan suaminya saat ini. Wanita itupun tersenyum lembut seraya membelai rahang sang suami yang halus karena Arzan selalu mencukur bulu-bulu yang tumbuh di sana.


"A–aku juga merindukanmu, Mas," jawab Allura pelan. Kini wanita itu tidak malu-malu lagi mengungkapkan perasaannya. Meskipun masih sedikit gugup, tapi tidak membuat Allura menutup dirinya lagi.


"O ... h, benarkah?" tanya Arzan sedikit menggoda istrinya, dalam hati pria itu merasa tersanjung atas jawaban Allura. Dia sadar, Allura masih sedikit malu-malu untuk mengungkapkan perasaan dan hal itu membuat Arzan merasa gemas terhadapnya.


Allura tidak menjawabnya dengan perkataan, justru ia memberanikan diri untuk memulainya. Arzan cukup dibuat terkejut dengan perlakuan Allura terhadapnya. Lalu, ia pun membiarkan sang istri yang memimpin permainan mereka. Allura melakukan hal itu karena ia ingin menyenangkan hati suaminya yang sedang penat, ia berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Arzan. Hingga akhirnya Allura tumbang lebih dulu dan membuat Arzan menyelesaikannya. Sepasang pengantin baru itu baru menyelesaikan permainan mereka setelah keduanya merasa lelah.

__ADS_1


Arzan kembali membenarkan selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Ia juga mengecup kening Allura sebelum kembali mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


"Terima kasih, sayang," ucap Arzan di atas kepala Allura.


Allura yang mulai terlelap di pelukan suaminya hanya mengangguk dan menjawab samar. Tubuh dan matanya sudah terlalu lelah. Sepasang sejoli yang baru selesai memadu kasih pun akhirnya terlelap dalam mimpi indah mereka masing-masing.


***


Pagi menjelang ....


Allura bangun lebih dulu dan sekarang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, wanita yang sudah menjadi istri Arzan itupun segera membangunkan sang suami.


"Mas, bangun ... sudah hampir adzan!" seru Allura pelan di samping telinga Arzan.


Pria itu menggeliat pelan, sebelum akhirnya ia bangun dan kembali menyenderkan kepalanya di bahu Allura.


"Pukul 04:30. Ayo, segera bersihkan tubuhmu ... kita shalat berjamaah. Aku akan menyusui Bintang sebentar," ujar Allura sambil mengusap kepala Arzan agar pria itu bangkit dari duduknya.


Setelah mendengar jawaban Allura, Arzan pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Allura segera merapikan tempat tidur dan mengganti sprei serta selimut yang mereka pakai tadi malam. Tidak lupa, Allura juga menyiapkan semua keperluan Arzan termasuk baju kemeja yang akan dipakai pria itu ke kantor nanti.


Selesai menyiapkan semua keperluan suaminya, Allura pun bergegas menuju kamar sang putra yang ada di samping kamarnya lewat pintu penghubung. Di sana, ia melihat Bintang masih terlelap. Allura pun tidak jadi menyusui bayi itu dan hanya membenarkan selimutnya saja yang sudah tertindih badan bayi itu.


"Aduh, putra sulungku tidurnya nyenyak sekali," gumam Allura sebelum ia mengecup kening Bintang dan kembali ke kamarnya.


Belakangan ini Bintang tidurnya sangat pulas. Bahkan, bayi itu hanya terjaga tiga kali saja untuk minum ASI. Setelahnya akan kembali tidur tenang sampai pukul setengah delapan. Saat masuk kamar, ternyata Arzan sudah keluar dari kamar mandinya dan tengah memakai baju kokonya.


"Apa Bintang masih tidur?" tanya Arzan ketika ia melihat Allura yang kembali ke kamar mereka tanpa Bintang di tangannya.


"Iya, Mas. Jadi, aku membiarkannya kembali tidur," jawab Allura seraya mengambil mukenanya yang sudah ia siapkan di dekat nakas.

__ADS_1


Allura kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu–nya. Setelahnya, sepasang suami-istri itupun melakukan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Mereka tidak turun ke mushola yang ada di lantai bawah karena khawatir Bintang akan menangis sendiri. Jarak mushola ke kamar mereka cukup jauh, itulah yang menyebabkan Allura dan Arzan memilih untuk salat di kamar mereka.


Selesai shalat, Allura bergegas menyiapkan sarapan untuk Arzan dan kedua mertuanya. Hal itu ia lakukan karena Bintang masih tertidur pulas, sedangkan jika bayi itu sudah bangun, maka Allura tidak akan melakukan itu semua.


Arzan sendiri segera mengganti pakaiannya dengan kemeja yang sudah disiapkan oleh Allura. Semenjak ia menikah dengan Allura, Arzan sudah tidak pernah lagi menyiapkan kebutuhannya sendiri. Bahkan, sampai kaos kaki dan sapu tangan yang akan dia bawa pun sudah disediakan oleh istrinya. Allura benar-benar melakukan semua tugasnya sebagai istri.


Tepat selesai Arzan mengganti pakaiannya, Bintang pun bangun. Tanpa menunggu lama lagi, Arzan segera menghampiri bayi itu dan di bawanya turun untuk menghampiri istri serta kedua orang tuanya yang sudah menunggu di bawah.


"Kemari, Zan. Bintang biar Mama yang pegang, Allura masih sibuk membantu Bibi di dapur. Padahal, Mama sudah melarangnya untuk memasak, tapi dia memang menantu idaman," lapor Nyonya Fika sambil tersenyum dan mengambil alih Bintang dari tangan Arzan.


"Itulah Allura, istriku," jawab Arzan dengan bangga.


"Iya, dia menantu kesayangan Mama," tanggap Nyonya Fika.


Sepasang ibu dan anak itupun berjalan bersama menuju ruang makan. Di sana ada Allura yang sedang menghidangkan makanan yang sudah selesai. Wanita muda itu tampak cekatan dan teliti menyiapkan semuanya.


"Mas, Mama ...." Allura kembali menyapa suami serta ibu mertuanya yang sudah datang ke meja makan. Ia juga melihat Bintang yang sedang digendong oleh Nyonya Fika.


Allura segera mencuci tangan sebelum ia mengambil alih Bintang dari gendongan neneknya.


"Papa mana, Ma?" tanya Allura ketika ia tidak melihat keberadaan papa mertuanya, Tuan Anderson.


"Papa di sini, Ra." Tuan Anderson hadir sesaat ketika Allura selesai dengan pertanyaannya. "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Ayo semuanya, kita sarapan bersama," ajak Allura pada semua anggota keluarga itu.


Keluarga itu pun segera duduk dan menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh Allura. Bintang sendiri Allura simpan di kursi khusus bayi miliknya. Diam-diam Allura memperhatikan semua anggota keluarga baru yang sedang menikmati sarapan, ia masih terus berpikir tentang rekaman yang dikirimkan oleh Viana kemarin padanya. Hingga tiba-tiba, Allura memberanikan diri untuk membicarakan hal itu pada semua keluarga. Tidak mungkin jika dia harus berdiam diri sementara semua keluarganya sedang ada dalam bahaya.


"Mas, Ma, Pa .... Ada yang ingin aku katakan ...."

__ADS_1


__ADS_2