
Setelah Allura mengantarkan Arzan sampai parkiran, ia pun berniat kembali ke ruang rawat mamanya. Namun, langkahnya merasa berat tak kala ia melewati salah satu lorong yang menjadi tempat pertama kali ia bertemu dengan pria paruh baya tadi pagi. Rasa penasaran dalam hatinya begitu tinggi, Allura pun memutuskan untuk menyambanginya sebentar.
Saat sampai di depan pintu kaca, ia melihat seorang pria paruh baya lain yang sedang dalam kondisi cukup kritis, dengan tubuh dipenuhi kabel dan juga selang yang terpasang dalam mulut serta hidungnya.
Ya Tuhan, ternyata pasien di sini kelihatannya sangat memprihatinkan ... semoga saja beliau lekas sembuh, batin Allura sambil menutup mulutnya yang sedang terbuka lebar.
Diam-diam, Allura terus memperhatikan suasana di dalam ruangan itu. Dia juga melihat salah satu pria paruh baya lain yang sempat bertemu dengannya, sedang menggenggam tangan pria yang jadi pasien di dalam sana.
Setelah cukup puas melihat keadaan di dalam ruangan itu, Allura pun kembali ke ruang rawat Ibu Ani. Dalam benak gadis itu tersimpan banyak pertanyaan, saat ini ia sangat ingin bertanya tentang keluarga dari pihak ayahnya pada sang mama. Namun, lagi-lagi Allura mengkhawatirkan kondisi mamanya yang belum sepenuhnya pulih.
Apa aku urungkan saja niat untuk bertanya pada Mama? Tapi ... aku sangat penasaran sekali, batinnya sambil membuka pintu ruang rawat Ibu Ani.
Ibu Ani mengernyitkan keningnya saat melihat sang anak yang berwajah murung setelah mengantarkan majikan ke parkiran mobil.
"Lura, ada apa denganmu? Kenapa kamu tadi lama sekali keluarnya, apa terjadi sesuatu?" tanya Ibu Ani saat Allura sudah menutup pintu dan berjalan menghampirinya.
Allura yang masih menunduk, langsung menegakkan kepalanya dan menatap sang mama. Gadis itu mengambil kursi yang tak jauh dari tempat ia berdiri, sebelum duduk di samping brankar mamanya.
"Tidak ada yang terjadi, Ma," jawab Allura sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Namun, Ibu Ani tetap tidak mempercayai ucapan Allura, apalagi setelah melihat senyuman sang anak yang terkesan dipaksakan, hal itu semakin membuatnya penasaran dan mengira sudah terjadi sesuatu pada Allura.
"Lalu, kenapa kamu menekuk wajah seperti itu?" tanya Ibu Ani sambil mengangkat wajah Allura agar menatapnya.
__ADS_1
"Cerita pada Mama, Lura. Ada apa?"
Allura mengalihkan tatapannya dari Ibu Ani, gadis itu kembali menunduk sambil memainkan jari-jari lentiknya yang berada di atas pangkuan.
"Sebenarnya ... ada yang ingin kutanyakan, Ma," ujar Allura dengan suara pelan.
Ibu Ani yang masih menatap lekat sang anak, lantas mengangguk samar sebelum kemudian berkata, "Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan, Ra?"
"Maaf sebelumnya, Ma. Tapi ... aku sangat penasaran dengan keluarga dari pihak Papa. Apa benar Papa hanya anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal?" tanya Allura dengan hati-hati, ia sangat takut jika mamanya akan marah atau kembali kumat karena pertanyaannya itu.
Allura terus memerhatikan gerak-gerik Ibu Ani yang terlihat gelisah saat mendengar pertanyaan darinya.
"Ma, apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Allura saat sang mama tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Namun, justru Allura menangkap gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Ibu Ani, ia merasa jika mamanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ma?"
"Sungguh, Ra. Mama tidak berbohong padamu!"
"Ma–"
"Kamu harus percaya pada Mama, Allura!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Ibu Ani berteriak dengan nyaring pada Allura, sehingga membuat gadis itu terhenyak seketika karena kaget.
Allura mengangguk-anggukan kepalanya dengan samar, dia bukan gadis polos dan lugu yang akan percaya begitu saja hanya dengan sebuah kata-kata. Namun, untuk saat ini dia tidak bisa memaksakan mamanya berbicara dengan jujur. Jadi, Allura memilih mengalah dan bersikap biasa di depan mamanya. Ya, hanya di depan Ibu Ani saja.
***
Di sebuah ruangan yang luas, seorang pria paruh baya terbaring di atas ranjang perawatan seorang diri dengan jarum infus terpasang di tangannya. Tidak ada pasien lain di kamar tersebut, hanya ada sesosok pria lain duduk bersilang kaki di samping brankar sambil menatap lekat pasien yang masih tidak sadarkan diri.
Pria yang menjadi pasien itu adalah Tuan Oktafanus Pradigta, beliau adalah salah satu pengusaha tekstil yang cukup sukses. Namun, saat ini kesehatannya terus menurun drastis. Semenjak kepergian salah satu anaknya dari rumah, ia terus menerus diserang berbagai macam penyakit sehingga membuatnya seperti saat ini. Apalagi setelah mendengar anaknya meninggal, ia semakin menyiksa tubuhnya yang sudah tua itu.
Berbagai macam penyesalan ia pikul sendiri. Mulai dari istrinya yang meninggal akibat stroke yang dideritanya setelah sang anak pergi dari rumah, sampai beberapa bulan yang lalu ia mendengar kabar jika anaknya pun turut meninggal dunia. Pria tua tersebut semakin tidak bisa memaafkan dirinya yang sudah egois dulu.
Sedangkan, pria lain yang sedang duduk di sampingnya itu adalah Tuan Darion, ia adalah anak sulung dari Tuan Okta. Sehari-harinya beliau selalu menunggu dan berharap semoga papanya kembali sembuh seperti sedia kala. Tidak dapat ia pungkiri, kepergian adiknya dari rumah benar-benar membawa pengaruh buruk untuk keluarga besarnya.
Sudah beberapa bulan ia mencari keberadaan anak serta istri dari sang adik, tapi hasilnya sia-sia. Tak ada jejak yang ditinggalkan oleh mereka. Bahkan, Tuan Okta dan Tuan Darion pun tidak memiliki potret istri dan anak dari mendiang adiknya.
Namun, pertemuannya dengan seorang gadis yang ia temui tadi pagi, membuat dia sedikit penasaran karena memiliki mata yang sama dengan adiknya. Memang tidak bisa dipungkiri, bisa saja seseorang memiliki warna mata yang sama, tapi untuk kali ini ia menampiknya.
"Pa, kapan Papa akan sadar? Anak dan cucu Papa bukan hanya dari Adnan saja. Kami juga keluarga Papa," ucap Tuan Darion sambil menggenggam tangan Tuan Okta.
Rasa kesal pada sang adik sedikit membuat Tuan Darion membencinya. Adnan yang selalu mengambil semua perhatian dari kedua orang tuanya, ditambah dengan kekeraskepalaannya yang memilih gadis kampung untuk ia nikahi, membuat dia tega meninggalkan kedua orang tuanya.
Namun, dibalik itu semua, Tuan Darion tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara Adnan dan juga Tuan Okta.
__ADS_1