Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 40


__ADS_3

Allura terdiam mematung sejak beberapa menit lalu, gadis itu tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan sepupunya yang dari kampung. Namun sangat disayangkan, sepupu Allura tidak mengakuinya sebagai saudara. Melainkan dia malah bersikap seolah-olah jika mereka tidak saling mengenal.


Allura tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di rumah itu. Dia terlalu menutup mata untuk urusan keluarga majikannya, tapi kali ini ia merasa sedikit penasaran dengan alasan apa sepupunya bisa datang ke rumah keluarga Rafindra.


Kenapa Nira ada di sini? Bagaimana dia bisa kenal keluarga ini? Dan ... kenapa dia bersikap seolah tak mengenaliku? batin Allura.


Kesadaran Allura tertarik kembali saat Bintang menangis di tangannya. Bayi itu seolah tidak terima jika ibu susunya mengabaikan dia. Allura segera pergi dari ruangan tamu itu setelah Bintang menangis.


Sedangkan gadis yang bernama Nira terus memerhatikan Allura secara diam-diam. Allura dan Nira sama-sama dari kampung, mereka hanya sesekali bertemu karena Allura menetap di kota bersama ibu dan ayahnya. Begitupun Nira yang menetap di kampung. Jadi, kesempatan mereka untuk bertemu pun jarang.


Allura tahu jika keluarga Nira tak ada yang lain tinggal di kota selain dia. Allura menebak, ini kunjungan Nira yang pertama kalinya, karena meskipun Allura jarang bertemu dengan paman dan bibinya, mereka masih sering berkomunikasi.


"Sepertinya ada yang tidak aku ketahui, sudahlah. Aku fokus saja pada Bintang," gumam Allura sambil menimang bayi di tangannya, gadis itu membawa Bintang untuk pergi ke taman.


Di ruangan tamu, saat ini Arzan, Nyonya Fika dan Tuan Anderson tengah berbincang dengan tamu mereka yang baru saja datang. Nira Agniya, nama gadis yang mengaku anak Adnan itu disambut hangat oleh Tuan Anderson. Bahkan, pria paruh baya itu mengumpulkan orang-orang yang ada di rumahnya saat kedatangan Nira tadi, termasuk Allura.


"Jadi, Apa benar kamu anaknya Adnan?" tanya Tuan Anderson dengan tegas.


"Be–benar, Tuan," jawab Nira dengan gugup. Bahkan telapak tangannya yang berada di pangkuannya, seolah basah karena keringat dingin yang keluar saking gugupnya.


"Tenang saja, kamu tidak perlu gugup seperti itu. Kami tidak akan berbuat jahat padamu," ucap Tuan Anderson yang melihat kegugupan dari Nira.


"Ba–baik, Tuan," jawab gadis itu.


Nyonya Fika sendiri hanya terdiam dan tidak ikut bertanya tentang gadis di hadapannya, dia masih tidak habis pikir terhadap suaminya yang ingin terus menerus ikut campur kehidupan pribadi anak mereka. Namun, dia juga tidak bisa menentang keinginan sang suami. Jadi, dia pun hanya bersikap biasa saja.


Sedangkan Arzan sendiri bersikap lebih dingin dan acuh. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya, bukan karena apa-apa, tapi dia merasa ilfeel dengan penampilan Nira yang berani dan sangat terbuka. Bagaimana tidak, Nira datang bertamu dengan pakaian yang minim, dia hanya memakai hotpants dan kaos ketat yang membungkus tubuhnya.

__ADS_1


Sangat berbanding terbalik dengan Allura, batin Arzan yang tanpa sadar membandingkan kedua wanita itu. Padahal dia sendiri tidak tahu jika mereka adalah saudara sepupu.


Meskipun Nyonya Fika dari tadi hanya terdiam, tapi dia terus memerhatikan gerak-gerik gadis di depannya yang terlihat seolah gugup diada-adakan. Ada setitik rasa curiga dalam hatinya. Namun, ia tidak berani berburuk sangka dulu.


Entah kenapa, aku merasa sepertinya dia bukan benar-benar anaknya Adnan, batin Nyonya Fika.


"Kalau boleh tahu, ada apa Tuan mencariku?" tanya Nira. Dia merasa sedikit heran karena ada orang yang tiba-tiba datang dari kota dan mencari papa sepupunya. Hal itu langsung membuat Mama Nira menunjuk pada dirinya. Mama Nira juga berpesan agar bersikap acuh jika bertemu orang yang dikenalnya.


"Saya mencari anaknya Adnan. Dia pernah membantu kami saat dalam kesulitan dan ... kami juga pernah membicarakan tentang perjodohan yang akan kami lakukan," jawab Tuan Anderson dengan menatap lekat gadis di depannya.


Setelah mendengar ucapan sang suami, Nyonya Fika segera membuang pandangannya ke arah lain, begitupun dengan Arzan.


Pria satu anak itu sudah tidak mengerti dengan pemikiran papanya sendiri. Tanpa berpamitan atau berbasa-basi, Arzan langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua orang tuanya bersama gadis yang dia ketahui bernama Nira itu.


"Arzan, kamu mau ke mana?" tanya Tuan Anderson.


Tuan Anderson bisa melihat kekecewaan pada gadis muda di depannya, hal itu membuat dia merasa sedikit tidak enak hati.


"Maafkan Arzan, Nak. Dia memang selalu bersikap acuh pada orang yang tidak dikenalnya, jangan ambil hati," ucap Tuan Anderson yang langsung diangguki oleh Nira.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti," jawab Nira sambil tersenyum tipis.


Sepeninggalan Arzan, perbincangan itu terus berlanjut dengan didominasi oleh Tuan Anderson dan Nira, sedangkan Nyonya Fika sendiri tak banyak bertanya dan hanya sesekali menanggapi saja.


Arzan tadinya hendak pergi ke ruang kerja, tapi niatnya ia urungkan setelah melihat Allura yang sedang bersama Bintang di taman. Lantas pria itu pun menghampiri mereka.


"Hei, kukira kamu sedang berada di kamar, kenapa kalian berada di sini?" tanya Arzan begitu ia berada di hadapan Allura.

__ADS_1


Allura yang tengah duduk pun mendongakkan kepala untuk menatap pria jangkung di depannya.


"Tidak ada, Tuan. Kami hanya sedang menikmati suasana sore saja, kebetulan hari ini cerah. Jadi, suasananya bikin nyaman dan tenang," jawaban Allura sambil tersenyum lembut.


Sesaat Arzan terkesima dengan senyuman Allura, ibu susu Bintang itu memiliki lesung pipi di sebelahnya dan itulah yang membuatnya terlihat manis jika sedang tersenyum.


"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" tanyanya lagi.


Allura mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Arzan. Menurutnya, pria itu tidak perlu meminta izin karena semua kawasan rumah itu adalah miliknya.


"Anda tidak perlu izin saya, Tuan. Silakan saja jika ingin duduk," jawab Allura sambil menunjuk bangku panjang yang ada di depan.


"Tidak, aku ingin duduk di sebelahmu. Aku juga ingin melihat Bintang," tolak Arzan yang langsung duduk di sebelah Allura tanpa menunggu jawaban gadis itu.


Allura tidak berani menggerutu saat melihat perubahan wajah Arzan yang langsung terlihat frustasi.


"Anda kenapa, Tuan? Sepertinya terlihat lelah sekali, mau cerita? Saya juga pendengar yang baik, lho!"


Arzan menoleh sesaat pada ibu susu anaknya, diam-diam dia tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan gadis itu sebelum mengembuskan napas beratnya.


"Papa kembali memaksaku untuk melakukan perjodohan. Dan ... wanita itu adalah calonnya," jawab Arzan pelan.


Allura membulatkan matanya setelah mendengar jawaban Arzan, kini semakin banyak yang ia pikirkan dan membuatnya penasaran.


"Ma–maksud Anda ... Nira yang akan menjadi calon istri Anda, Tuan?" tanya Allura dengan terkejut. Bahkan kini gadis itu sudah sepenuhnya memusatkan perhatiannya pada ayah dari bayi yang ia susui.


"Iya .... Tapi, bagaimana kamu bisa mengetahui namanya? Bukankah kamu pergi sebelum dia mengenalkan dirinya?" tanya Arzan yang merasa heran pada Allura.

__ADS_1


"Dia adalah sepupuku."


__ADS_2