
Allura menatap nanar mangkuk sup ikan yang isinya sudah tandas. Ia sudah sangat merasa lapar saat ini dan makanan miliknya sudah habis oleh Arzan. Tadi ia sempat bertanya pada pelayan yang biasa memasak di sana, semua majikan tidak ada yang menyukai sayur bening dan mereka juga tidak suka sup ikan. Jadi, Allura pun hanya membuat ke satu porsi untuknya.
Namun kini, sup ikan itu sudah tandas dinikmati oleh Arzan. Pria yang biasanya tidak mengonsumsi ikan air tawar, tapi sekarang pria itu sudah menghabiskan sup ikan milik Allura.
"Hei, apa kamu marah?" tanya Arzan yang merasa tidak enak hati.
"Apakah saya pantas untuk marah? Anda 'kan MA-JI-KAN saya," jawab Allura dengan menekankan kata 'majikan'.
Arzan meringis saat mendengar nada bicara Allura yang tidak biasa, ia merasa tidak enak hati karena sudah menghabiskan makanan ibu susu anaknya. Akan tetapi itu semua ia lakukan, karena tidak tahan dengan aroma sup ikan yang menguar. Di tambah lagi perutnya sudah keroncongan karena ia melewatkan makan siangnya tadi.
"Ma–maafkan aku. Aku ... aku tidak bermaksud untuk menghabiskannya. Tapi, sup ikan itu sangat lezat dan membuatku tidak bisa berhenti memakannya," tutur Arzan. Ia berharap Allura tidak marah lagi saat ia memuji masakannya.
Namun, Allura tetaplah Allura. Gadis itu mempunyai kebiasaan buruk jika hendak datang tamu bulanannya, ia adalah gadis yang temperamen saat hendak datang bulan. Mood—nya selalu berubah dan saat ini dirinya sedang marah. Jika amarahnya tidak keluar, maka bisa dipastikan sebentar lagi ia akan menangis. Aneh? Tapi itulah sifatnya.
Arzan semakin merasa bersalah, apalagi sekarang mata Allura mulai terlihat memerah, dengan air yang sudah mulai menggenang di pelupuknya. Kemungkinan air hangat itu sebentar lagi akan turun. Allura menyadari kebiasaannya, ia segera menyeka mata basahnya dan kembali ke dapur tanpa menghiraukan ucapan Arzan padanya.
"Allura kenapa, sih?" gumamnya pelan.
Selepas Allura meninggalkannya, Nyonya Fika datang menghampiri Arzan yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Kamu sedang apa di sini, Zan?" tanya Nyonya Fika yang berhasil mengejutkan Arzan.
Seakan tertarik dari lamunannya, Arzan segera membalikkan tubuh dan menghadap mamanya. "Mama, sedang apa di sini?"
"Mama yang tadi bertanya terlebih dulu padamu, kenapa kamu malah balik bertanya?" tanya Nyonya Fika sambil mengerutkan keningnya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya teralihkan pada sebuah nampan yang berada di atas meja.
"Kamu sejak kapan makan ikan?" tanya Nyonya Fika lagi, ia melihat mangkuk kosong dengan duri ikan di dalamnya.
"Itu ... anu ... sebenarnya ... sebenarnya itu masakan Lura, Ma. Tapi ...."
Bahkan Arzan menjawabnya dengan gugup, ia akan merasa sangat malu jika mamanya sampai menertawakannya.
__ADS_1
"Tapi, apa, Zan?"
"Tapi ... tapi aku yang menghabiskannya," jawab Arzan pelan.
Dan dugaannya benar, Nyonya Fika seketika tertawa pecah. Ia sangat ingat jika anaknya itu pernah mengatakan tak menyukai ikan tawar karena bau amis dan itu membuatnya mual.
Dulu, Nyonya Fika pernah membuatkan beberapa menu yang berbahan ikan agar Arzan mau mengonsumsinya, tapi hasilnya sia-sia karena Arzan tak menyukainya. Namun sekarang, tanpa disuruh pun anak laki-lakinya itu sudah menghabiskan satu mangkuk sup ikan.
Tak lama berselang, Allura kembali membawa satu mangkuk sup ikan di tangannya. Arzan menatap mangkuk itu dengan pandangan berbinar, tapi ia juga tidak sengaja melihat tatapan Allura yang menatap galak padanya.
Nyonya Fika yang melihat sepasang sejoli itu terkekeh pelan, Arzan yang mengetahui alasan mamanya tertawa hanya bisa menunduk malu. Sedangkan Allura menatap heran pada sepasang ibu dan anak itu.
"Nyonya, maaf. Saya akan makan dulu di belakang," pamit Allura.
"Makan di sini saja, Ra," perintah Nyonya Fika.
Allura langsung menghentikan langkahnya saat ia mendengar perintah dari sang majikan. Namun, lagi-lagi ia merasa tidak enak hati karena harus berhadapan dengan Arzan yang masih mematung di sana.
"Sudahlah, jangan hiraukan anak itu. Biarkan saja dia berdiri di sana," ucap Nyonya Fika sambil mendelik pada Arzan dan menarik tangan Allura agar duduk di sampingnya.
Arzan mendengus kesal pada sang mama, karena kini ia menjadi nomor sekian setelah Allura.
"Apa?!" sergah Nyonya Fika saat mendengar dengusan Arzan.
Allura tersenyum simpul saat melihat wajah Arzan yang tengah tertekuk karena kesal, entah kenapa hati Allura merasa sedikit terhibur saat melihatnya seperti itu.
Saat Allura sedang menikmati makanannya, tiba-tiba ia mendengar suara Bintang yang sedang menangis. Tanpa menunggu lama, Allura meninggalkan makanannya dan segera bergegas menuju kamar tempat di mana Bintang tengah tertidur.
Ya Tuhan, bahkan Allura meninggalkan makanannya sendiri demi Bintang yang sedang menangis. Benar-benar pemikiran seorang ibu, batin Nyonya Fika saat ia keluar dari dapur dan tidak mendapati Allura duduk di meja makan.
"Zan, tidak bisakah kamu menolongnya?" tanya Nyonya Fika saat ia melihat Arzan yang masih duduk di sana dengan memainkan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Menolong siapa, Ma?" tanya Arzan sambil mendongakkan kepalanya.
"Tentu saja menolong Allura, Zan. Mama sedang memasak. Kamu bisa memegangi Bintang dulu, sementara Allura menghabiskan makanannya," tanggap Nyonya Fika sambil menatap tajam sang anak.
Mama benar-benar berubah semenjak ada Bintang dan Allura di sini, batin Arzan sambil beranjak pergi dari meja makan dan berjalan menuju kamar Allura dan Bintang.
Sesampai di sana, Arzan tidak langsung masuk. Justru pria itu berdiam kaku mematung di depan pintu kamar yang terbuka lebar. Mata tajamnya menatap pemandangan yang selama ini hanya pernah dilihatnya sekali. Tanpa sadar naluri laki-lakinya bangkit begitu saja, hanya dengan melihat aset berharga Allura yang tengah menyusui anaknya.
Arzan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menyadarkan diri dari na*su yang tiba-tiba menghampirinya.
Sabar Arzan, kamu harus bisa menjaga sikapmu! perintah Arzan pada dirinya sendiri.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk dan juga gelora na*su, Arzan mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tidak mau jika Allura sampai berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.
Arzan menghampiri pintu kamar Allura sambil berdeham untuk menetralkan degup jantungnya yang masih berpacu tinggi.
"Ehmm."
Allura yang sedang fokus menyusui Bintang, tiba-tiba terperanjat kaget saat mendengar suara deheman seorang pria. Ia lupa untuk menutup pintu kamarnya saking terburu-buru karena melihat Bintang yang menangis.
Allura menyambar selendang yang biasa ia gunakan untuk menggendong Bintang dan menutupi aset berharganya yang tengah dinikmati oleh bayi merah itu.
"Tu–tuan, sejak kapan Anda berdiri di sana?" tanya Allura dengan wajah was-wasnya. Semoga Tuan Arzan tidak melihat pemandangan tadi, batin Allura. Bahkan kini wajahnya mulai terasa panas saking malu atas tindakan cerobohnya tadi.
"Tenang saja, aku baru saja sampai disini," jawab Arzan yang berkilah.
"O–oh. Ada perlu apa Anda kemari, Tuan?" tanya Allura tanpa membalikan tubuhnya yang sedang memunggungi Arzan.
"Mama menyuruhku untuk menjaga Bintang dulu, sementara itu kamu habiskan makananmu," jawab Arzan bernada dingin, seolah-olah ia tidak peduli dengan perasaan Allura yang tengah merasa malu.
"O–oh, ba–baiklah. Tunggu sebentar karena Bintang sedang me–"
__ADS_1
"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah mengetahuinya." Arzan memotong ucapan Allura yang handak menjelaskan kegiatan Bintang, bayi kecilnya.