Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 44


__ADS_3

Tak terasa kini sudah weekend lagi. Seperti minggu lalu, Allura berniat untuk mengunjungi mamanya yang sedang di rumah sakit. Dia menitipkan bintang pada Nyonya Fika dan Bi Endah sebelum pergi. Namun, kali ini Allura meminta izin untuk pergi lebih pagi. Kemarin dia mendapatkan kabar dari mamanya, pagi ini beliau akan menjalani operasi dan Allura diminta untuk menemaninya.


"Nyonya, saya sudah selesai memandikan Bintang dan saya juga sudah menyetok ASIP banyak. Bolehkah saya berangkat sekarang?" tanya Allura sambil menyerahkan bintang pada Nyonya Fika.


"Kenapa kabarnya mendadak sekali, Lura?" tanya Nyonya Fika saat Allura yang tiba-tiba membicarakan tentang operasi mamanya.


"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Mama baru memberitahukanku kemarin malam," jawab Allura.


"Baiklah. Maaf, karena aku tidak bisa menemanimu di sana. Aku doakan semoga prosesnya lancar, agar Mamamu bisa kembali sembuh," ucap Nyonya Fika.


Allura mengangguk, ia tersenyum haru saat Nyonya Fika turut mendoakan mamanya. "Terima kasih, Nyonya," ucapnya.


"Bi sayang, Mbak tinggal dulu, ya ... jangan rewel sama Oma. Nanti sore Mbak pulang lagi." Allura menyempatkan diri untuk berpamitan pada Bintang. Dia tidak ingin bayi itu mencarinya dan membuat Nyonya Fika kerepotan karena Bintang menjadi rewel saat tak bersama dirinya.


Setelah berpamitan pada Nyonya Fika dan mengecup kening Bintang, Allura pun keluar dari rumah itu dan berjalan menuju tempat di mana mobil angkutan umum berada. Lagi-lagi gadis itu menolak tawaran Nyonya Fika untuk diantar oleh supir keluarganya.


***


Arzan hari ini berniat untuk mengunjungi seseorang di rumah sakit, dia mendapat kabar jika ibu dari orang yang sudah menolongnya akan menjalani operasi pagi ini. Jadi, dia berniat untuk menjenguknya sebentar, berharap supaya bisa bertemu langsung dengan gadis yang sudah menolongnya.


Penampilan Arzan pagi ini sudah rapih dengan menggunakan setelan kasual. Langkahnya langsung terhenti saat ia dihadang oleh gadis yang akan dijodohkan dengannya.


"Mas Arzan mau kemana sepagi ini dengan tampilan yang sudah rapi?" tanya Nira dengan tatapan menggoda.


"Apa urusanmu mau mengetahui kemana aku pergi?" tanya Arzan dengan ketus. Dia memang tidak menyukai kehadiran Nira di rumah itu.


"Ish, Mas ini .... Wajarlah aku ingin tahu calon suamiku akan pergi ke mana. Karena–"


"Jangan bermimpi untuk bisa menikah denganku," sergah Arzan yang langsung menghentikan ucapan Nira.


Gadis itu langsung berkedip beberapa kali saat Arzan menegurnya. Ini bukan yang pertama kalinya ia ditegur oleh pria itu. Namun, entah kenapa dia seperti merasa Arzan sedang berusaha untuk mematahkan semangat untuk mendapatkannya.

__ADS_1


"Mas–"


"Menjauh dariku!" perintah Arzan sambil menatap tajam gadis di depannya.


Nira langsung menunduk sambil menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Arzan dan membiarkan laki-laki itu pergi begitu saja melewatinya.


Si*l, ternyata cukup sulit juga meluluhkan hatinya. Sabar ... aku harus lebih berusaha keras agar dia luluh dan menerimaku untuk menjadi istrinya, batin Nira seraya menatap punggung tegap Arzan yang mulai menjauh dari pandangannya.


Arzan menghampiri Nyonya Fika yang sedang duduk bersama Bintang di sofa ruang keluarga, dia merasa sedikit heran karena sepagi ini Bintang sudah bersama mamanya.


"Ma, tumben Bintang sudah bersama Mama?" tanya Arzan sambil mendudukan dirinya di samping sang mama.


"Iya, Zan. Allura tadi pamit untuk ke rumah sakit, dia mau menemani Mamanya yang akan menjalani proses operasi hari ini," jawab Nyonya Fika.


Arzan mengernyitkan keningnya saat ia mendengar jawaban sang mama. Dia memang mengetahui jika mamanya Allura sedang di rumah sakit, tapi dia tidak mengetahui siapa orangnya karena memang belum pernah bertemu. Bahkan, Arzan pun tidak mengetahui siapa nama mamanya Allura.


"Benarkah?" tanyanya lagi.


"Kenapa jadwalnya sama persis seperti jadwal operasi Ibu Ani?" gumam Arzan.


Nyonya Fika mengalihkan perhatiannya dari Bintang. Dia sedikit meneliti sang anak dan baru menyadari jika penampilan Arzan lebih rapi dari biasanya.


"Kamu mau kemana, Zan?" tanya Nyonya Fika dengan heran.


"Aku mau ke rumah sakit, Ma. Ibu dari gadis yang menolongku saat kecelakaan akan menjalani operasi pagi ini. Tapi ... kenapa jadwalnya bisa sama seperti jadwal operasi Ibunya Allura?"


Nyonya Fika terdiam sejenak, dia pun sama tidak mengetahui nama kedua orang tua Allura. Saat itu Allura juga hanya mengatakan, jika ibunya sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan penyakit jantung yang dideritanya.


"Jangan-jangan?" Arzan dan Nyonya Fika saling pandang, tebakan pemikiran mereka sama persis, yaitu; Allura adalah gadis yang menolongnya saat Arzan mengalami kecelakaan.


"Ma, aku pergi dulu. Aku harus memastikannya sendiri," ucap Arzan sambil cium punggung tangan mamanya, dia juga menyempatkan untuk mencium kening Bintang sebelum pergi.

__ADS_1


Jika tebakanku ini benar, berarti Allura adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Lewat dia, aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupanku dan berkumpul bersama keluargaku, batin Arzan sambil bergegas masuk mobilnya. Di dalam sana, Pak Ujang sudah siap untuk mengantarkan tuannya ke rumah sakit.


"Pak, langsung ke rumah sakit, ya!" perintah Arzan yang langsung diangguki oleh Pak Ujang.


"Baik, Tuan," jawab Pak Ujang, dia pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat di mana Ibunya Allura saat ini dirawat.


***


Allura sudah sampai rumah sakit sejak setengah jam yang lalu. Di sana sudah ada Bi Erni dan Viana yang menunggu kedatangannya tadi.


"Ra, Mama merasa sangat gugup," ucap Ibu Ani sebelum ia memasuki ruang operasi.


"Mama harus tenang supaya prosesnya berjalan lancar. Hari ini aku akan menunggu operasi Mama sampai selesai," kata Allura sambil mengusap lengan mamanya.


Suster yang bertugas untuk menjemput Ibu Ani pun segera masuk ke ruangan operasi, setelah mendapat persetujuan dari Allura. Sedangkan Allura, Viana dan Bi Erni menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas.


"Kamu tenang, Ra. Ibu pasti kuat, kita doakan saja semoga prosesnya berjalan dengan lancar," ucap Viana saat melihat raut wajah sedih Allura.


"Amiin, Na. Semoga saja seperti itu. Aku sangat khawatir sekali," jawab Allura tanpa mengalihkan perhatiannya dari pintu ruangan operasi yang sudah tertutup.


Viana membawa Allura untuk duduk di bangku yang sudah tersedia di sana. Mereka duduk sejajar bersama Bi Erni. Cukup lama ketiganya terdiam, hingga akhirnya Bi Erni memulai percakapan untuk sedikit mengurangi ketegangan yang terjadi di sana.


"Ra, Bibi dengar kamu bekerja sebagai baby sitter, ya?" tanya Bi Erni pada keponakannya.


"Benar, Bi. Lura juga hari ini meminta izin pada majikanku untuk bisa menemani Mama operasi. Dan ... Alhamdulillah beliau mengijinkan," jawab Allura.


"Oh, syukurlah ... sepertinya majikanmu orang baik, Ra?" tebak Bi Erni lagi.


"Alhamdulillah, Bi. Mereka sangat baik," jawab Allura sambil tersenyum tipis.


Saat Allura sedang berbincang bersama Bi Erni dan Viana, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


"Allura!"


__ADS_2