
Allura dan Arzan pulang pada saat hari mulai petang, mereka keluar dari mobil bersama-sama. Nyonya Fika dan Bintang sudah menunggu kedatangan mereka di sofa ruang keluarga, kebetulan di sana juga ada Tuan Anderson serta Nira.
Arzan masuk dengan terus menggenggam tangan Allura, dia meminta bantuan Allura untuk menjauhkan dirinya dari Nira dan membuat gadis itu mengurungkan niat untuk terus memaksanya menjadi calon istri Arzan. Lagi pula setelah yang Arzan lihat, Nira juga tidak berusaha untuk mendekati Bintang, anaknya. Gadis itu sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Assalamualaikum," sapa Arzan dan Allura begitu mereka masuk ke dalam ruangan keluarga.
"Wa'alaikum salam."
Hanya Nyonya Fika saja yang menjawab salam dari Arzan dan Allura. Sedangkan Tuan Anderson dan Nira hanya menatapnya diam.
Allura segera menyalami kedua majikannya seperti biasa, begitupun dengan Arzan yang ikut melakukan apa yang Allura lakukan pada kedua orang tuanya. Nyonya Fika tersenyum simpul saat melihat anaknya juga ikut menyelami dirinya, tentu saja karena hal itu tidak biasa dilakukan oleh Arzan. Bahkan semenjak kedatangan Allura ke rumahnya, pria itu sudah mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya agar tidak mudah terpancing.
"Bagaimana keadaan Ibu Ani sekarang?" tanya Nyonya Fika pada Arzan dan Allura saat mereka sudah duduk di sofa. Allura duduk tepat di sebelah Nyonya Fika yang sedang menggendong Bintang, sementara Arzan memilih untuk mendudukkan dirinya di sebelah Allura.
Nira mendengus kesal saat melihat sikap Arzan padanya, padahal tadi dia sudah bergeser untuk mempersilahkan pria itu duduk di sampingnya. Namun, Arzan malah memilih untuk duduk di samping sepupunya.
"Alhamdulillah, operasi Ibu Ani berjalan lancar, meskipun tadi sempat kekurangan stok darah di rumah sakit. Tapi, untung saja ada salah satu pengawal kita yang kebetulan memiliki golongan darah yang serupa," jawab Arzan sambil sedikit membungkukkan badannya agar melihat sang Mama yang terhalang oleh Allura.
"Oh, syukurlah .... Arzan, apa tebakan kita tadi pagi benar?" tanya Nyonya Fika. Dia masih merasa penasaran, apakah benar Allura yang sudah menolong anaknya.
"Benar, Ma. Dewi penolongku ternyata ada di sekitar kita. Dan ... kita bahkan tidak menyadarinya." Arzan melirik Allura yang sedang menunduk seraya menggoda Bintang.
Nyonya Fika tersenyum hangat sambil menatap Allura. Wanita paruh baya itu segera merangkul bahu Allura untuk mendekapnya, tidak lupa dia juga menggumamkan kata terima kasih karena sudah menolong anaknya saat itu.
"Lura, terima kasih banyak karena kamu sudah menolong Arzan. Jika kamu tidak menolongnya mungkin ...." Nyonya Fika mulai meneteskan air matanya. Sebagai seorang ibu, ia tidak berani memikirkan bagaimana jadinya jika saat itu Arzan tidak selama dalam kecelakaan yang dia alami.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saat itu saya juga kebetulan lewat sana dan melihat kejadian itu. Tidak mungkin jika saya membiarkannya begitu saja," jawab Allura sambil mengusap punggung Nyonya Fika yang masih mendekapnya.
__ADS_1
Tuan Anderson sedikit mematung saat mendengar jawaban Allura. Dia memang meminta Arzan untuk mencari seseorang yang sudah menolongnya, tapi dia tidak menyangka jika Allura—lah yang menjadi penolong sang anak. Akan tetapi, dia tidak berniat untuk membatalkan perjodohan antara Nira dan Arzan.
"Apa benar, kamu yang sudah menolongnya?" tanya Tuan Anderson yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan antara istri, anak dan juga pengasuh cucunya.
Allura merasa segan dengan nada bicara Tuan Anderson, dia menunduk dan mengangguk pelan. "Benar, Tuan."
Tuan Anderson menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia masih terus berpikiran buruk tentang Allura. Bahkan, dia mengira jika Allura menolongnya karena ada maksud tertentu.
"Lalu, kenapa baru sekarang kamu mengakuinya? Padahal, Kamu tahu 'kan, kami sudah lama mencari orang yang pernah menolong Arzan?" tanyanya dengan ketus.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak mengetahui hal itu. Bahkan saya juga sudah lupa kalau saya pernah menolong Tuan Arzan," jawab Allura.
"Huh, alasan. Bilang saja kamu ingin mencari perhatian dari keluarga kami. Jadi, kamu berpura-pura tidak mengetahuinya agar anakku bisa menemukanmu. Iya 'kan?" tuduh Tuan Anderson.
Nira tersenyum tipis sambil mencibir dalam hatinya, dia merasa puas karena melihat Allura yang dikasari oleh Tuan Anderson.
"Cukup, Pa! Kenapa Papa selalu berpikiran buruk sama Allura? Apa alasan Papa tidak menyukainya?" sergah Arzan yang tidak terima jika Tuan Anderson terus-menerus berpikiran negatif terhadap Allura.
Allura sudah tidak tahan, dia tidak mau hubungan antara ayah dan anak itu retak karena dirinya. Akan tetapi, dia pun tidak terima dicap buruk oleh sang majikan.
"Maaf, Tuan. Mohon jangan berdebat karena gara-gara saya. Saya tidak bermaksud untuk membuat hubungan kalian berdua menjadi renggang. Tapi, saya benar-benar tidak melakukan apapun terhadap Tuan Arzan. Waktu itu, saya menolongnya hanya karena kebetulan lewat saja. Saya juga tidak bermaksud untuk menutup-nutupi jika saya yang sudah menolongnya," jawab Allura sambil berdiri untuk pamit dari sana. Dia tidak ingin keributan itu mengganggu Bintang, sehingga membuatnya tidak nyaman. Allura juga sudah tidak tahan dengan pay*daranya yang sudah semakin sakit. Jadi, dia memilih untuk undur diri.
"Saya permisi dulu, Tuan, Nyonya," sambung Allura lagi sambil sedikit membungkukkan badannya. Gadis itu pun berlalu masuk ke kamar dia dan Bintang, tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Puas, Pa?" tanya Nyonya Fika pada suaminya seraya bangkit dari duduknya. Dia merasa kecewa karena melihat sikap Tuan Anderson yang kasar terhadap Allura.
"Ma ...."
__ADS_1
"Mama kecewa dengan sikap Papa yang selalu berpikiran buruk terhadap Allura. Padahal, dia adalah orang yang sudah menyelamatkan anak kita, dia juga yang membantu kita untuk merawat Bintang di saat mamanya tidak mempedulikannya. Tapi, apa yang dia dapatkan dari kita selain rasa sakit hati? Apa Papa tidak pernah berpikir seandainya yang ada di posisi Allura itu adalah Papa? Apa yang akan Papa rasakan saat itu?" cecar Nyonya Fika sehingga membuat Tuan Anderson duduk lesu.
Pria itu terdiam kembali setelah mendengar ucapan-ucapan istrinya. Apa yang sudah dikatakan oleh Nyonya Fika memang benar adanya, tetapi hatinya masih menolak untuk bersikap baik pada Allura.
"Ma–"
"Jika Papa masih terus bersikap buruk pada Allura, lebih baik jangan ajak Mama bicara dulu," ucap Nyonya Fika sambil berlalu dari sana meninggalkan Tuan Anderson, Arzan serta Nira. Gadis itu tidak merasa risih saat melihat tuan rumahnya sedang berdebat, dia malah anteng duduk di sana memperhatikannya.
Setelah kepergian Nyonya Fika, Arzan pun bangkit dan menyusul mamanya yang sudah pergi terlebih dulu. Nira segera menghampiri Tuan Anderson yang masih duduk sambil menundukkan wajahnya.
"Papa yang sabar, ya .... Allura benar-benar sudah keterlaluan terhadap Papa dan Mama. Dia tidak hanya membuat kalian ribut, tapi juga membuat Mama berada di pihaknya," ucap Nira sambil menyentuh bahu Tuan Anderson.
Gadis itu dengan tidak tahu malunya malah menjelek-jelekkan Allura dan membuat Tuan Anderson semakin tidak menyukainya.
·
·
·
·
·
·
Maaf Kakak², hari ini up 2 bab aja ya. Untuk nanti malam gx janji, tapi masih aku usahain. Soalnya Authornya lagi sok sibuk dulu di–real life 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dukungannya 🙏🙏🙏
Semoga sehat selalu 🙏