Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 23


__ADS_3

Arzan menanti baby Bintang dengan perasaan berdebar. Ini adalah kali pertamanya pria itu hendak memangku anaknya sendiri. Saat Allura sudah membawa Bintang ke hadapannya, lagi-lagi dia terpaku. Bayi merah itu tengah memejamkan matanya dengan sangat lucu.


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Allura dengan heran karena Arzan tak kunjung menerima Bintang dari tangannya.


"Saya ... saya tidak bisa menggendong bayi. Saya tidak tahu caranya," jawab Arzan dengan wajah bersalah.


Allura mengatupkan bibirnya dengan mata yang membulat, ia mengira Arzan sudah bisa menggendong bayi. Namun, ternyata dugaannya salah.


"Hei, jangan menatapku seperti itu!" sergah Arzan yang kesal karena melihat ekspresi wajah yang di tunjukan oleh Allura.


Allura tersenyum saat Arzan menegurnya, tapi kali ini gadis itu tidak merasa kesal sama sekali.


"Jadi, apakah Anda masih ingin menggendongnya, Tuan?" tanya Allura yang sudah bisa menormalkan kembali ekspresinya dari rasa terkejut tadi.


"Tentu saja," jawab Arzan ketus. Entah kenapa jantung pria itu tiba-tiba terpacu dengan debaran yang sangat kuat.


"Baiklah, mari kita ke tempat duduk saja supaya Anda lebih nyaman memangkunya," ajak Allura sambil mulai melangkah menuju sofa ruang keluarga, Arzan pun mengikuti langkah Allura di belakangnya.


Sesampai di sofa ruang tamu, Arzan segera memposisikan dirinya untuk menerima Bintang.


"Kemari!" perintah Arzan dengan semangat.


Allura mulai melangkah mendekati di mana Arzan tengah duduk. Namun, sebelum ia memberikan bintang pada ayahnya, Allura terlebih dulu meneliti penampilan Arzan yang masih lengkap mengenakan jas serta dasi.


"Tuan, apa Anda baru pulang bekerja?" tanya Allura sebelum ia memberikan Bintang.


"Tentu saja. Apa ada yang salah?" tanya Arzan sambil melihat penampilannya sendiri.


Allura menggeleng pelan, hampir saja ia memberikan Bintang pada ayahnya yang baru pulang bekerja.


"Tuan, sebaiknya Anda membersihkan diri terlebih dulu. Nanti baru bisa menggendong Bintang," saran Allura. Akhirnya gadis itu pun membawa Bintang duduk di sofa yang berhadapan dengan Arzan.


"Lho, memangnya kenapa jika aku menggendongnya sekarang? Aku, 'kan ayahnya," ucap Arzan dengan nada tidak suka, ia malah menganggap jika Allura sengaja tidak memberikan Arzan padanya karena tidak ingin ia dekat dengan sang anak.

__ADS_1


Allura bisa menangkap nada tidak suka yang Arzan tunjukkan padanya, tapi karena Allura sudah terbiasa dengan nada seperti itu, jadi ia tidak terlalu menanggapinya.


"Tuan, justru karena Anda adalah ayahnya Bintang. Jadi, Anda harus lebih memahami tentang keadaannya. Bintang masih terlalu kecil dan kulitnya masih sensitif–"


"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Tidak perlu kamu beritahu lagi."


Arzan segera memotong ucapan Allura yang belum selesai, ia tahu jika gadis itu hendak memberitahukannya tentang kebersihan. Pria itu langsung bergegas pergi dari sana dan berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Allura tersenyum kecil saat melihat Arzan yang kesal padanya. Setelah kepergian Arzan, bayi kecil yang berada di pangkuannya langsung mengerjapkan mata bulatnya dengan lucu, rupanya Bintang terbangun kala mendengar suara papanya. Mungkin ia masih mengenali suara yang pernah samar-samar terdengar dari dalam perut mamanya, walaupun Arzan tidak pernah menyapanya secara langsung, tapi setidaknya pria itu selalu mengajak Rivera untuk berbicara.


"Lho, Adek bangun, Nak?" sapa Allura saat menyadari Bintang tengah menatapnya.


"Adek dengar suara Ayah, ya? Tunggu sebentar, ya, Nak. Ayahnya mandi dulu, biar bersih, biar cepat gendong Adek."


Allura mengajak bayi merah itu untuk berbicara, meskipun bayi itu hanya menjawab dengan kedipan mata bulatnya saja, tapi Allura dibuat sangat bahagia olehnya. Gadis itu menjelma menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang.


Awalnya Allura pikir dia tidak akan terlalu menyayangi bayi itu. Namun, siapa sangka kini ia tidak ingin kehilangannya.


"Apa Bintang sudah bangun, Lura?" tanya Nyonya Fika seraya menengok kearah Bintang.


"Sudah, Nyonya," jawab Allura sambil menyerahkan tubuh bayi kecil itu pada Nyonya Fika.


Nyonya Fika dengan segera menerima Bintang dalam dekapannya, tak lupa ia juga memberikan kecupan kecil pada kening dan juga kedua pipi bayi itu.


Allura terus memperhatikan sepasang nenek dan cucu itu, dengan haru. Ia teringat dengan kakek dan neneknya dari pihak sang ayah yang sampai saat ini belum ia ketahui. Meskipun Allura pernah mempertanyakan keberadaan mereka pada mamanya, tapi Ibu Ani tak memberi tahukan atau menjelaskan kondisi keluarga mendiang suaminya.


"Apakah ASI mu lancar, Lura?" tanya Nyonya Fika pada Allura yang masih terdiam memperhatikannya.


"Alhamdulillah, Nyonya. ASI—ku lancar dan banyak," jawab Allura dengan lancar.


"Syukurlah. Malam ini aku ingin Bintang tidur bersamaku. Jadi, bisakah kamu menyiapkan ASIP untuknya?"


Allura sedikit ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Nyonya Fika, lantaran selama ini Bintang tidak pernah tidur berjauhan dengannya. Semenjak Allura menjadi ibu susu, mereka selalu tidur bersama dan itu juga termasuk saran dari dokter, agar Allura tak kesulitan jika harus menyusui Bintang tengah malam.

__ADS_1


M**ungkin tidak apa-apa jika hanya malam ini, batin Allura sebelum ia menjawab pertanyaan Nyonya Fika.


"Te–tentu, Nyonya. Saya ... saya akan mulai memerahnya sekarang," jawab Allura sebelum ia bangkit dari duduknya.


Allura merasa berat karena harus tidur tanpa Bintang nanti malam, ia sudah terbiasa dengan kehadiran bayi itu di sisinya. Jadi, ia merasa ragu jika malam ini dirinya akan tidur nyenyak.


Gadis itu pun mulai melangkah masuk kedalam kamar dan segera menyiapkan alat pumping yang biasa ia gunakan untuk memerah ASI—nya. Tidak lupa, Allura juga menutup serta mengunci pintu kamarnya, hanya untuk berjaga-jaga jika seseorang datang menerobos kamar itu.


***


Selesai membersihkan diri, Arzan segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju sofa keluarga, tempat di mana ia tadi meninggalkan Allura bersama Bintang. Namun, netranya tidak melihat keberadaan gadis itu, melainkan hanya sang mama yang sedang duduk di sana.


"Lho, Ma, Allura mana?" tanya Arzan saat ia sudah duduk di depan Nyonya Fika.


"Mama sedang menyuruhnya untuk menyiapkan ASIP. Nanti malam Mama ingin tidur bersama Bintang. Jadi, Mama menyuruh Allura untuk menyiapkan ASIP—nya sekarang," jawab Nyonya Fika tanpa mengalihkan pandangannya dari sang cucu.


"Lho, kenapa Mama melakukan hal itu? Padahal biarkan saja Bintang tidur bersamanya."


Nyonya Fika mendelik tidak suka saat mendengar ucapan Arzan, anaknya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Bintang, cucu sulungnya.


"Arzan, Mama hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan cucu Mama sendiri, apa salahnya?"


"Hmmm, terserah Mama saja. Tapi aku tidak yakin Bintang akan tidur nyenyak jika tidak bersama ibu susunya," jawab Arzan yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang mama.


"Kamu ini. Sudahlah. Bukankah tadi kamu berniat untuk menggendongnya?" tanya Nyonya Fika mengalihkan pembicaraan mereka.


Arzan menggeleng pelan, ia tahu jika mamanya sedang menghindari pembicaraan mereka.


"Sini, Ma," pinta Arzan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Bukan seperti, Zan. Anakmu ini masih bayi. Jadi, menggendongnya seperti ini." Nyonya Fika memberikan contoh pada Arzan cara menggendong bayi dengan benar.


Pria itu cukup kaku dan was-was saat menggendong bayinya, ia menatap bayi mungil itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya sedikit teriris saat melihat wajah polos Bintang, mengingat ibu kandungnya sendiri seakan tak menginginkan keberadaannya. Beruntung Bintang masih mendapatkan kasih sayang tulus dari ibu susunya, gadis yang mengorbankan masa depan demi uang. Namun, hal itu tidak Arzan memandang remeh Allura.

__ADS_1


__ADS_2