
Hari-hari berlalu begitu saja ....
Tanpa terasa kini tinggal menghitung jam saat resepsi pernikahan Arzan dan Allura akan di gelar. Acara resepsi itu tidak hanya akan didatangi oleh keluarga Arzan dan Allura saja, tapi juga dari keluarga besar Tuan Okta, kakek dari Allura sendiri.
Keluarga besar dari pihak Ibu Ani begitu tercengang kala mengetahui jika kini Allura menjadi seorang pewaris bisnis yang ditinggalkan oleh Tuan Okta. Bahkan, mereka semakin gencar mendekatinya agar bisa diikut sertakan kerja di perusahaan itu. Namun, Allura yang notabene–nya gadis biasa, lebih memilih menyerahkan perusahaan itu agar dikelola oleh Arzan dan Tuan Anderson.
Acara resepsi itu akan diselenggarakan di ballroom hotel ternama di kota tersebut. Keluarga Allura tampak sibuk mempersiapkan penampilan mereka masing-masing.
Sementara itu ....
Di kamar hotel presidential suite, Allura tengah di make over. Tuan Anderson serta Nyonya Fika benar-benar membuat acara resepsi pernikahan Arzan dan Allura itu terkesan mewah.
Allura merasa sedikit heran karena melihat suaminya yang sejak tadi hanya mondar-mandir dengan ponsel yang dipegangnya.
"Mas, apa terjadi sesuatu?" tanya Allura akhirnya.
"Tidak ada, sayang," jawab Arzan. "Aku akan keluar dulu sebentar," sambungnya lagi.
Sebenarnya, Arzan baru saja mendapat kabar yang cukup mencengangkan. Pasalnya, ia baru saja mengetahui tentang tindakan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Tuan Darion terhadap Pak Adnan dan saat ini dirinya sedang merasa bingung. Dia sedikit khawatir pada istri serta ibu mertuanya tentang kabar ini, tetapi jika dia memberitahukannya sekarang, pasti Ibu Ani serta Allura akan sangat marah dan kecewa.
Allura menatap kepergian Arzan dengan hati yang bertanya-tanya. Arzan pergi dengan wajah kusut, layaknya orang yang sedang memendam amarah dan juga kebingungan.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa raut wajah Mas Arzan tidak seperti biasanya? gumam Allura.
Wanita yang tengah di dandani itupun mengambil ponselnya, ia meminta akan mengirim pesan pada Edwin untuk penjelasan tentang sikap suaminya.
Allura 📨
Edwin, apa ada suatu masalah yang terjadi?
__ADS_1
Allura dengan cemas menunggu balasan pesannya, ia sudah sangat khawatir dan penasaran. Setelah menunggu beberapa saat, Edwin pun membalas pesan dari istri tuanya.
Edwin 📩
Maaf, Nyonya. Saya tidak mengetahui apa-apa.
Allura hanya bisa mendesah kasar saat membaca pesan balasan dari Edwin. Sungguh, saat ini hatinya menjadi tidak karuan setelah melihat raut wajah Arzan.
Setelah beberapa saat Arzan pergi, datanglah Nyonya Fika beserta Ibu Ani ke kamar yang ditempati oleh Allura. Mereka meminta waktu sebentar pada penata rias untuk meninggalkannya dulu.
"Mama, ada apa kalian kemari?" tanya Allura setelah pintu tertutup.
Ibu Ani melirik Nyonya Fika sesaat, ia merasa sedikit bimbang karena harus mengungkapkan kebenaran tentang kematian suaminya pada sang anak. Namun, di sisi lain Ibu Ani sangat khawatir jika Allura akan marah dan membenci orang yang sudah mencelakakan papanya.
"Ra, sebenarnya ada yang ingin Mama sampaikan padamu. Mama mengatakan hal ini agar kamu mengerti kenapa Mama saat itu menolak lamaran Tuan Darion," ucap Ibu Ani sambil menatap lekat Allura.
Allura sedikit menautkan keningnya ketika mendengar ucapan sang mama, ia belum mengerti dengan arah pembicaraan tersebut.
"Lalu, apa Mama punya alasan lain?" tanya Allura.
"Mama harap setelah pembicaraan ini selesai, kamu tidak bertanya apa-apa lagi." Ibu Ani menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia kembali berkata, "Mama tidak menerima Tuan Darion karena dialah yang sudah menyebabkan Papamu meninggal," sambungya dengan napas tertahan.
'Degh'
Jantung Allura seakan tiba-tiba berhenti berdetak saat mamanya mengatakan jika Tuan Darion adalah dalang dibalik kematian papanya. Tanpa terasa, air mata Allura meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tuan Darion dengan mudahnya saat itu melamar istri dari orang yang sudah dia bunuh, tanpa memikirkan perasaannya.
Nyonya Fika segera memeluk sang menantu ketika melihat kilatan amarah yang terpancar dari kedua bola mata Allura. Bahkan, kini kedua tangan wanita itu sudah mengepal erat sampai jari-jarinya tampak memutih.
"Ra, kamu harus sabar. Tenang saja, saat ini Papa sudah memberikan hukuman yang setimpal di negara tempat Tuan Darion berada. Kami juga sangat terkejut saat mendengar berita itu," ujar Nyonya Fika menenangkan Allura. Ia benar-benar tidak ingin membuat acara yang sudah tersusun rapi itu harus hancur karena berita yang disampaikan oleh Ibu Ani.
__ADS_1
"Mama, aku benar-benar tidak menyangka. Aku tahu dia memang pernah hampir berbuat jahat, tapi aku tidak berpikir jika dia juga yang sudah membuat kita berpisah dengan Papa," ucap Allura seraya memeluk Ibu Ani.
Wanita paruh baya itu lantas mengusap kepala anaknya. Dia berusaha untuk menahan sesak di dadanya karena tidak ingin membuat Allura semakin sedih dengan apa yang sudah menimpa mereka.
"Sudahlah, Ra. Mama sudah ikhlas .... Mama yakin, dia akan mendapatkan pembalasan yang setimpal atas perbuatannya dulu. Sekarang kamu bisa tenang dan fokus pada acara yang akan kita laksanakan," jawab Ibu Ani sebelum dia melepaskan pelukannya.
****
Ditempat lain, saat ini Arzan tengah duduk bersama sang papa, Tuan Anderson. Tuan Anderson juga menceritakan semua yang sudah dia lakukan pada Tuan Darion. Bahkan, Tuan Anderson juga mengatakan jika saat ini Allura sudah mengetahui tentang kebenaran itu.
"Sekarang kamu bisa tenang, Zan. Papa sudah mengatur semuanya. Papa juga merasa kecewa karena perbuatan Tuan Darion pada sahabat Papa," ujar Tuan Anderson seraya menepuk bahu sang anak.
"Tapi, Pa ... darimana Papa bisa mengetahui semua ini?" tanya Arzan dengan penuh rasa penasaran.
"Papa tahu dari salah satu anak buah yang ditugaskan untuk mencari tahu tentang asal-usul Allura saat itu. Ditambah lagi, Papa pernah mendengar Mama mertuamu berbicara, jika Tuan Darion ada campur tangan saat kecelakaan itu," jawab Tuan Anderson panjang lebar.
"Allura saat ini pasti sangat bersedih, Pa .... Sebaiknya aku melihatnya dulu." Arzan pamit pada sang papa dan segera menuju tempat dimana kamarnya berada.
Sesampai di sana, Arzan melihat mama serta mama mertuanya baru saja keluar kamar. Lantas dia pun segera menghampiri kedua wanita paruh baya itu.
"Ma ...," sapa Arzan.
Ibu Ani dan Nyonya Fika serentak membalikan tubuhnya dan menatap Arzan. "Ada apa, Zan?" tanya Nyonya Fika.
"Tidak ada apa-apa, Ma," jawab Arzan. "Mmmh ... apa Rara di dalam baik-baik saja?" tanya Arzan sebelum membiarkan kedua wanita paruh baya itu pergi dari hadapannya.
"Rara tidak apa-apa. Dia baik-baik saja," jawab Ibu Ani. Dia sudah meminta putrinya untuk tidak memikirkan hal yang bersangkutan dengan Tuan Darion dan Allura pun menuruti keinginan mamanya.
Arzan terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dari mama mertuanya. "Baiklah. Aku masuk dulu," ucap Arzan yang langsung diangguki oleh Nyonya Fika dan ibu Ani.
__ADS_1