
"Inikah bayi milik Rivera?" tanya seorang wanita yang seusiaan dengan Nyonya Fika pada Allura.
"Be–benar, Bu," jawab Allura singkat. Ia terlalu takut untuk menjawab wanita paruh baya itu.
Jika dilihat dari penampilannya, wanita itu nampak seperti yang tidak menyukai kehadiran Allura. Namun, di detik selanjutnya tiba-tiba wanita itu memeluk Allura dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih karena kamu sudah menjaga putranya Rivera. Wanita itu sama sekali tidak pernah menginginkan anaknya hadir di dunia ini. Bahkan, Tanpa sepengetahuan orang, diam-diam Rivera pernah mencoba untuk menggugurkannya. Tapi, saat itu Ibu menghalangi dia dan meminta untuk memberikannya pada orang lain, jika dia memang tidak menginginkannya," ucap ibu itu di sela-sela pelukannya pada Allura.
Allura tampak mematung ketika mendengar penuturan wanita paruh baya itu. Dia sendiri heran karena ibu itu tiba-tiba berkata seperti itu padanya, sedangkan saudara-saudara Rivera yang lain masih menatap dia dengan tatapan intimidasi.
"Ma–maaf, Bu. Saya ... saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar dan harus dilakukan. Tidak mungkin jika saya harus ikut mengabaikan bayi ini," jawab Allura. Dia tidak berani menceritakan awal pertemuannya dengan Rivera pada orang-orang. Menurutnya, biarkan saja pekerjaannya sebagai ibu susu hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
"Tidak, Nak. Apa yang kamu lakukan adalah hal yang tidak mudah. Bagi sebagian orang, menyukai anak kecil itu mudah, tapi untuk mencintainya, tidak mudah," ujar wanita paruh baya itu lagi.
Allura hanya bisa tersenyum simpul mendengar penuturan wanita berbadan sedikit gempal itu. Ternyata ia sudah salah mengira, Allura kira ia akan ikut disalahkan atas hal yang Rivera lakukan. Namun, ternyata salah. Justru wanita itu malah berterima kasih karena sudah melindungi bintang dari Rivera.
Setelah selesai berbicara dengan Allura, wanita itu pun membiarkan Allura ikut bersama keluarga Rafindra yang lain untuk masuk ke rumah keluarga Rivera. Di sana, ia ikut duduk di samping mama mertuanya. Meskipun sedikit grogi, Allura berusaha setenang mungkin.
Bapaknya Rivera masih tetap melayangkan tatapan tajam pada Arzan dan Tuan Anderson. Tak sedikitpun pria paruh baya itu melirik cucunya yang ada di tangan Allura. Bahkan, ia sama sekali tidak menganggap keberadaannya.
__ADS_1
"Masih berani kalian datang kemari?" tanyanya dengan nada angkuh.
"Maaf, Pak. Kami datang kemari untuk meluruskan kesalahpahaman yang sedang terjadi. Kami tidak mau orang-orang berpikir jika Arzan adalah penyebab Rivera melakukan tindakan bunuh diri itu," jawab Tuan Anderson di tengah-tengah keluarga Rivera.
"Cih, kalian datang kemari hanya untuk mengelak dan terus menyalahkan anakku? Dasar keluarga tidak tahu malu! Jangan pernah berpikir, mentang-mentang keluarga Anda adalah keluarga kaya, Anda bisa menindas keluargaku." Pak Darda langsung bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri Tuan Anderson, tetapi langsung ditahan oleh salah satu kerabatnya.
"Bang, jangan seperti ini. Harusnya abang sadar diri, Rivera melakukan tindakan itu karena dia frustrasi. Semua bukan salah Nak Arzan ataupun keluarganya. Kita tidak bisa menyalahkan mereka tanpa bukti apapun. Apalagi Abang tahu, saat itu Rivera sendiri yang memilih untuk berpisah," ucap salah satu kerabatnya sambil mengusap punggung Pak Darda.
"Tetap saja dia ikut andil dalam kematian Rivera! Andai waktu itu Arzan tidak menjebloskan Rivera ke dalam penjara, anakku tidak akan frustasi dan tidak akan pernah bunuh diri seperti saat ini!" teriak Pak Darda lagi yang sudah sangat emosi.
Arzan yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal. Ada dan tiadanya Rivera tetap menyusahkan dirinya.
"Alasan! Buktinya sekarang anak itu baik-baik saja dan dia masih tetap ada di tangan kalian. Aku yakin, kalian sudah memfitnah putriku," jawab Pak Darda. Sebenarnya dia sangat tahu apa yang Rivera lakukan, tapi hatinya menolak untuk menyalakan sang anak. Dia ingin membuat keluarga mantan besannya agar merasa bersalah dan memberikan tunjangan bagi Rivera. Maka dari itu, ia terus memojokkan Arzan di depan keluarganya.
"Bintang baik-baik saja karena kami merawatnya dengan sepenuh hati. Bahkan, wanita yang saat ini memegang Bintang begitu khawatir dan tidak bisa beristirahat dengan tenang saat anak asuhnya sedang kritis. Lalu, bagaimana bisa Anda terus menyalahkan saya atas tindakan yang Rivera lakukan?"
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kalian harus membayar ganti rugi atas meninggalnya Rivera! Atau ... aku bisa saja membawa permasalahan ini ke jalur hukum," ancam Pak Darda sambil menyeringai.
Arzan dan Tuan Anderson terkekeh pelan ketika mendengar ancaman yang dilayangkan untuk mereka. Jelas saja mereka tidak takut mendengar ancaman itu karena mereka tidak salah apapun.
__ADS_1
"Silakan saja jika memang Anda berniat untuk membawa permasalahan ini ke jalur hukum. Tapi, Anda juga harus siap dituntut atas pencemaran nama baik," tanggap Tuan Anderson yang sedari tadi hanya terdiam sambil memperhatikan anak serta mantan besannya.
Pak Darda langsung terdiam, tentu saja ia merasa takut dengan tuntutan balik itu karena dia sadar diri jika merekalah yang sebenarnya bersalah.
"Bagaimana, apa Anda setuju melakukan hal itu?" tanya Arzan. Pria itu sudah mulai muak dengan tingkah Pak Darda, dia sadar jika mantan mertuanya itu saat ini tengah mencoba untuk memerasnya.
"A–aku ... aku ... aku akan tetap membawa masalah ini ke jalur hukum. Aku harus memberikan keadilan untuk putriku," jawab pria paruh baya itu lagi.
Arzan, Tuan Anderson dan Nyonya Fika hanya bisa menggeleng ketika mendengar jawaban dari mantan besannya. Mereka tidak habis pikir dengan jalan pemikiran pria itu, jelas-jelas anaknya yang sudah bersalah, tapi dia tidak mau menerima kesalahannya.
"Baiklah. Sepertinya Anda sudah memutuskan bagaimana permasalahan ini akan berlanjut ke depannya. Tadinya, kedatangan kami kemari untuk berbelasungkawa dan meminta maaf atas permasalahan yang pernah terjadi di antara keluarga kita. Tapi, sepertinya Anda memilih jalan lain untuk menyelesaikannya." Tuan Anderson bangkit dari duduknya ia mengajak Arzan, istrinya serta menantunya pergi dari sana.
Selepas kepergian keluarga Rafindra dari rumah orang tua Rivera, sebagian kerabat wanita itu menyayangkan atas sikap yang ditunjukkan oleh Pak Darda.
"Abang salah dalam cari masalah. Keluarga mereka tidak bersalah, Bang! Aku kecewa dengan tindakan Abang kali ini," ucap salah satu Paman Rivera sambil melenggang pergi keluar dari rumah itu.
Tak ada seorang pun anggota keluarga di rumah itu yang mau berurusan dengan keluarga Rafindra, akhirnya mereka pun pergi dan membiarkan pria paruh baya itu sendirian.
"Aku akan tetap membuat keluarga Rafindra jatuh dan terpuruk. Meskipun sekarang sudah tidak ada Rivera lagi yang bisa aku pergunakan untuk memeras mereka, aku akan tetap melakukannya sendirian," gumam pria itu seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
__ADS_1