
"Allura, maafkan aku karena sudah keliru terhadapmu. Ternyata kamu adalah anak kandung Adnan yang sebenarnya," ucap Tuan Anderson begitu mereka masuk ke dalam ruang rawat Ibu Ani.
Allura mengernyit heran karena melihat perubahan sikap Tuan Anderson yang sangat berbeda dari biasanya, ia tidak melihat wajah angkuh pria paruh baya itu, melainkan rasa bersalah yang teramat dalam pada tatapannya.
Allura menatap Arzan yang sedang berada di belakang Nyonya Fika, ia mencoba bertanya lewat tatapannya pada pria itu. Namun, Arzan tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum saja padanya.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Kenapa sikap Tuan Anderson tiba-tiba berubah drastis seperti ini? Atau ... jangan-jangan Nira sudah ketahuan berbohong. Tapi ... sejak kapan? batin Allura yang terus bertanya-tanya.
"Lura, apa kamu mau memaafkanku?" tanya Tuan Anderson yang kali ini mencoba untuk menatapnya dengan serius.
Allura sempat melirik Nyonya Fika yang mengangguk samar, wanita paruh baya itu mengisyaratkan, jika Allura tidak perlu takut lagi pada Tuan Anderson.
"Aku tahu, aku pernah berbuat salah dan mencurigaimu. Bahkan, aku juga sering berkata kasar padamu. Aku minta maaf, Lura. Aku harap kamu mau memaafkanku," ucap Tuan Anderson sambil menundukkan kepalanya, ia terlalu malu jika harus menatap mata Allura.
Allura melangkah dan mendekati Tuan Anderson yang masih berdiri di samping Arzan, gadis itu menatap Tuan Anderson dan tersenyum ramah.
"Tidak masalah, Tuan. Lagi pula, saya sudah memaafkan Anda sejak lama," jawab Allura.
Tuan Anderson langsung menatap gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya, ia pun merangkul Allura dan membawa dalam dekapannya. Tidak lupa, Tuan Anderson juga mengecup puncak kepala Allura dengan sayang.
"Terima kasih, sayang. Kamu benar-benar gadis yang baik," gumam Tuan Anderson.
Ibu Ani dan Bi Erni masih tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Bahkan, kini kedua wanita itu masih saling bertanya lewat tatapan mata.
Nyonya Fika yang menyadari tatapan heran dari keluarga Allura pun langsung melangkah dan mendekati brankar tempat Ibu Ani berada. Sebelumnya, ia juga meminta maaf pada Ibu Ani dan Bi Erni atas kedatangannya yang tiba-tiba.
"Nyonya, kalau boleh tahu, Anda siapa dan ada perlu apa dengan Allura?" tanya Ibu Ani pada Nyonya Fika yang kini telah berdiri di sampingnya.
Jantung Allura terasa berdebar saat melihat Nyonya Fika yang sedang berdiri di samping sang mama, ia sangat takut jika wanita paruh baya itu akan menceritakan tentang pekerjaannya pada Ibu Ani.
Semoga saja Nyonya Fika tidak mengatakan pekerjaanku pada Mama, aku masih belum siap kalau nama mengetahui pekerjaanku sekarang, batin Allura.
__ADS_1
Arzan tersenyum dan mengusap bahu Allura untuk menenangkan gadis itu. Pria itu menatap Allura seakan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Meskipun Allura sedikit meragukan tatapan Arzan, tapi ia berusaha untuk yakin pada Nyonya Fika, ia percaya jika Nyonya Fika tidak akan menceritakan profesi pekerjaannya pada sang mama.
"Kami ... kami majikan Allura. Maaf, sebenarnya kami adalah teman dekat Adnan. Kemarin ... kami sempat salah mengira jika Nira adalah anak dari Adnan. Ternyata setelah ditelusuri lagi, Nira sudah membohongi kami semua. Dan ... maaf ... selama itu suamiku sudah berperilaku kasar pada Allura," ucap Nyonya Fika sambil menunduk, ia merasa bersalah karena suaminya sudah memperlakukan Allura dengan kasar.
"Nira? Jadi ... apa yang sudah dikatakan kamu itu benar, Ra? Nira ada di sini?" tanya Ibu Ani pada sang anak.
Allura langsung mengangguk beberapa kali saat mendengar pertanyaan yang ditujukan oleh mamanya.
"Ya Tuhan ... anak itu, masih saja bertingkah sampai sekarang," gumam Ibu Ani pelan sambil mengusap dadanya sebelum kembali bertanya, "Tapi, ada apa kalian mencari suamiku?"
Tuan Anderson pun menceritakan bagaimana sikap Adnan pada mereka dulu, tetapi ia tidak menceritakan tentang rencana perjodohan yang sudah direncanakannya sejak lama. Tuan Anderson memilih untuk menunggu sampai Ibu Ani benar-benar sembuh dan keluar dari rumah sakit. Ibu Ani terus mendengarkan cerita Tuan Anderson tentang bagaimana Nira bisa ada di rumahnya sekarang.
"Jadi, sekarang di mana anak itu?" tanya Ibu Ani setelah Tuan Anderson dan nyonya Fika selesai menceritakan tentang niatnya mencari anak Adnan.
"Saat ini, Nira masih berada di rumah kami. Mbak tidak perlu khawatir dia akan bertingkah lagi. Kami ke sini untuk meminta maaf pada Allura. Selain itu, kami juga ingin membawa Allura kembali ke rumah untuk memutuskan hukuman apa yang pantas bagi Nira," jawab Nyonya Fika.
Allura memicingkan matanya saat mendengar jawaban Nyonya Fika yang meminta dia untuk memutuskan hukuman bagi Nira, sedangkan Allura sendiri tidak terlalu memedulikan pembuatan Nira.
"Kenapa harus saya, Nyonya?" tanyanya sambil melangkah mendekati sang mama.
Allura langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tidak mau jika harus menghukum sepupunya. Meskipun Nira sudah beberapa kali berbuat salah padanya, tapi Allura tidak mempermasalahkan hal itu.
"Apa kamu yakin tidak mau memberikannya hukuman?" tanya Arzan yang kini sudah berdiri di belakangnya.
Allura memutarkan kepalanya dan menatap Arzan, ia heran dengan pria itu karena sesaat yang lalu masih di belakang Tuan Anderson, tapi sekarang sudah berdiri berada di belakang dirinya.
Kapan dia mengikutiku? tanya Allura dalam hatinya.
"Hei, aku sedang bertanya padamu!" tegur Arzan saat Allura hanya menatapnya tanpa berkedip.
Allura mengerjapkan matanya beberapa kali dan kembali memunggungi Arzan.
__ADS_1
"Sudahlah Tuan, biarkan saja dia pulang ke kampung. Lagi pula kasian paman dan bibi, aku tidak mau sampai membuat mereka khawatir pada Nira," jawab Allura.
Ibu Ani tersenyum sambil mengusap kepala sang anak, ia merasa bangga karena Allura tidak memiliki dendam pada saudara sepupunya.
"Apa kamu yakin, Ra?" tanya Nyonya Fika lagi.
"Saya yakin, Nyonya. Setiap keburukan yang dilakukannya terhadap saya, saya tidak pernah membalasnya. Jadi, biarkan saja dia pulang," ucap Allura dengan yakin.
"Baiklah ...." Nyonya Fika mengembuskan napas beratnya, ada rasa kecewa karena ternyata Allura tidak membalas perbuatan Nira padanya.
Semoga gadis itu tidak menggangu Allura lagi, batin Nyonya Fika.
"Ya sudah, sebaiknya kamu pulang bersama majikanmu saja, Ra. Tegur Nira sepantasnya supaya dia tidak melakukan tindakan buruk lagi padamu," perintah Ibu Ani setelah mendengar jawaban Allura.
"Lalu, bagaimana dengan Mama dan Bibi di sini?" tanya Allura seraya kembali menggenggam tangan mamanya.
"Kamu tenang saja, Ra. Bibi pasti akan menjaga Mama kamu sampai benar-benar sembuh," tanggap Bi Erni yang sedari tadi hanya diam saja.
"Baiklah. Lura pamit, Bu. Nanti akan aku akan menelepon," jawab alura yang langsung diangguki oleh Ibu Ani.
Arzan, Nyonya Fika serta Tuan Anderson pun langsung berpamitan pada Ibu Ani dan Bi Erni, mereka kembali pulang bersama Allura.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Arzan terus tersenyum. Kali ini dia tidak akan menolak dijodohkan oleh orang tuanya karena Allura–lah yang akan menjadi calon istrinya.
Namun saat di tengah perjalanan, tiba-tiba Nyonya Fika merasa kepanasan, wanita paruh baya itu terus bergerak gelisah dan terus memepet Tuan Anderson yang sedang duduk di sampingnya.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Tuan Anderson yang merasa heran dengan gerak-gerik sang istri.
"Mama juga tidak tahu, Pa. Rasanya sangat tidak nyaman," jawab Nyonya Fika.
Arzan dan kedua orang tuanya berpisah mobil karena tadi Tuan Anderson pulang ke rumahnya terlebih dulu untuk menjemput Nyonya Fika. Sedangkan, saat dalam perjalanan ia sempat memakan makanan yang di bawa oleh Nira untuk suami dan anaknya.
__ADS_1
"Ma, bukankah tadi Mama sempat memakan makanan yang ada di jok belakang?" tanya Tuan Anderson lagi. Nyonya Fika mengangguk dan membenarkan pertanyaan sang suami.
Sesaat, keduanya sering terdiam, sebelum akhirnya Tuan Anderson memilih untuk menghubungi Arzan lebih dulu agar pulang ke rumahnya. Sedangkan dia dengan sang istri pergi ke suatu tempat untuk membereskan masalah yang sedang terjadi pada Nyonya Fika.