Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 133


__ADS_3

Arzan masuk saat Allura masih didandani, dia bisa melihat jejak-jejak air mata di wajah istrinya. Meskipun saat ini Allura sudah memakai riasan yang, tapi matanya masih sedikit memerah. Arzan menggenggam tangan Allura dengan halus, dia mencoba untuk memberikan kekuatan pada istrinya.


Arzan merasa jika Allura sangat terkejut atas tindakan yang dilakukan Tuan Darion pada mendiang sang papa. Jadi, untuk itu Arzan bertekad membahagiakan wanita yang kini sedang duduk di hadapannya.


"Kamu kuat, Ra. Kamu pasti bisa berlapang dada menerima semua kenyataan ini. Percayalah, karma akan selalu berlaku bagi mereka yang sudah berbuat jahat. Kamu tidak perlu memikirkan hal lain lagi," ucap Arzan seraya mengecup punggung tangan Allura. Sungguh, demi apapun Arzan tidak ingin melihat wanita yang dicintainya bersedih apalagi menangis.


"Aku mengerti, Mas. Terima kasih karena kamu dan Papa sudah menangani Tuan Darion. Aku juga bersyukur Mama saat itu tidak menerima lamarannya."


"Iya, sayang. Maka dari itu, kamu jangan bersedih lagi, ya?" Arzan menangkup wajah Allura sesaat.


Allura mengangguki ucapan suaminya yang disertai dengan senyuman tipis. Ya, sebisa mungkin dia akan berusaha untuk meyakinkan dirinya dan belajar menerima kenyataan itu.


Setelah melihat senyuman Allura, Arzan pun memutuskan untuk segera mengganti pakaiannya, sementara Allura masih menyelesaikan make-upnya.


Selesai mengganti pakaian, Arzan pamit keluar kamar lebih dulu untuk menemui Edwin dan papanya, Tuan Anderson.


***


Disebuah kamar hotel lain, lebih tepatnya kamar yang ditempati oleh Nira beserta keluarganya. Ibu Ina dan Pak Pandu sedang sibuk membujuk Nira agar mau kembali ke kamar dia dan suaminya. Sejak kedatangannya ke hotel, Nira tidak henti-hentinya terus memerhatikan Arzan. Antah kenapa wanita itu masih berusaha agar menarik perhatian suami sepupunya. Hal itu membuat Pak Pandu malu karena dia sampai ditegur oleh Tuan Anderson yang memergoki Nira sedang bersembunyi sembari mengawasi putranya, Arzan.


"Nira, Papa tidak pernah mengajarkan kamu berbuat seperti ini. Sekarang kamu cepat masuk ke kamarmu sendiri!" tegur Pak Pandu yang sudah muak dengan tingkah putrinya.


"Sudahlah, Pak. Bapak jangan terlalu keras pada Nira. Biarkan saja dia di sini," bujuk Ibu Ina. Dia benar-benar selalu memanjakan Nira hingga membuat wanita itu tak pernah mempan jika sedang dinasihati.


"Baik. Jika seperti itu, ayo kita pulang saja. Bapak tidak ingin kalian malah mempermalukan Bapak seperti ini. Bapak merasa tidak dihargai oleh kalian," geram Pak Pandu seraya melangkah menuju pintu kamar.


Ibu Ina gelagapan, tentu saja dia tidak ingin melewatkan pesta pernikahan keponakannya yang begitu meriah, kapan lagi dia akan merasakan pesta seperti itu dan lagi, dia sudah mewawar-wawarkan acara ini pada tetangganya.

__ADS_1


"Bapak, jangan seperti ini. Baiklah, baiklah ... Ibu akan menyuruh Nira agar masuk ke kamarnya dan segera bersiap.


"Nira, cepat pergi ke kamarmu!" titah Ibu Ina pada putrinya.


"Tapi, Bu–"


"Tidak ada tapi-tapian! Cepat keluar sekarang!" perintahnya lagi dengan suara tegas dan membuat Nira terpaksa keluar kamar kedua orang tuanya sembari menghentak-hentakan kakinya.


Sepeninggalan Nira, Pak Pandu pun menghela napas dalam. Sungguh, menghadapi sifat Ibu Ina dan Nira itu adalah tantangan terberat dalam hidupnya.


Ya Tuhan ... aku mohon padamu agar segera menyadarkan Nira dan istriku. Jangan sampai mereka terus membuatku malu dengan semua perbuatan yang mereka lakukan, gumam Pak Pandu seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


***


Acara dimulai ....


Semua tamu undangan sudah berkumpul di ballroom hotel tersebut. Berbagai macam makanan sudah tersaji di sana untuk para tamu dan keluarga-keluarga yang hadir. Acaranya juga begitu meriah karena menampilkan beberapa artis untuk turut memeriahkan acara itu.


Perlahan Arzan membuka pintu kamarnya. Pandangan pria itu langsung tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depannya sambil tersenyum indah.


Gaun pengantin berwarna biru awan yang mengembang bagian bawah itu terlihat sangat mewah di tubuh Allura yang ramping. Gaun itu sendiri mempunyai bahan brokat dan renda di setiap sisinya. Tak lupa dengan bagian dada terbuka dan menampilkan keindahan setiap lekuk tubuh sipemakai, meskipun Allura memakai baju dalaman untuk menutupi kulit putihnya. Begitu juga dengan tiara yang terdapat di pucuk kepalanya, semakin membuatnya elegan bak ratu dari kerajaan.


Kesempurnaan wajah cantik Allura menarik semua pasang mata untuk terfokus melihatnya, ditambah lagi polesan make up flawless yang menempel di wajah itu.


Arzan terdiam untuk beberapa saat. Dia benar-benar tidak menyangka jika Allura akan secantik itu di hari spesialnya.


"Mmmh, anu ... apa kamu sudah siap?" tanya Arzan dengan terbata-bata. Suaranya seakan menghilang karena terkesima oleh kecantikan yang Allura pancarkan malam ini.

__ADS_1


"Aku sudah siap, Mas," jawab Allura pelan seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain, saat ini di sangat gugup. Apalagi Arzan yang menatapnya tanpa berkedip.


Arzan berjalan menghampiri Allura dan menarik wanita itu agar bisa ia dekap.


"Kamu sungguh cantik malam ini," bisik Arzan sebelum ia mengecup keningnya.


"Terima kasih, Mas. Kamu juga sangat tampan dan membuatku terus berdebar," jawab Allura. Lagi-lagi wanita itu tertunduk malu kala mengakui ketampanan suaminya.


Andai saja malam ini bukan malam penting untukku dan Allura, sudah pasti akau tidak akan membiarkan orang-orang melihat kecantikannya, batin Arzan.


Pria itu menyentuh dagu Allura dengan perlahan. Dia merasa tidak tahan lagi saat melihat bibir Allura yang dipoles warna baby pink itu tampak menggoda. Apalagi saat ini Allura sedang menggigiti bibir bawahnya untuk menahan kegugupan.


"Kamu begitu menggodaku," ucap Arzan lagi sembari mendekatkan wajahnya di depan wajah Allura.


Allura dengan refleks menutup mata saat mengetahui jika Arzan akan menciumnya. Namun, belum sempat bibir mereka bersentuhan, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka oleh seseorang.


***


Nyonya Fika merasa sedikit heran pada anak dan menantunya yang belum juga turun ke ballroom. Padahal, acaranya sudah berlangsung lima belas menit yang lalu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk melihat ke kamar Allura, khawatir terjadi sesuatu pada menantunya.


Namun, begitu di membukakan pintu, pandangannya langsung di suguhi Arzan yang hendak mencium istrinya dan itu membuat dia, Arzan maupun Allura sama-sama terkejut.


"Mama, apa yang sedang Mama lakukan di sini?" tanya Arzan sambil pura-pura merapikan tuxedo-nya.


Nyonya Fika mendelik tajam kearah putranya. "Kenapa jadi kamu yang bertanya seperti itu pada Mama, Zan? Harusnya Mama yang marah pada kalian karena sudah membuat kami menunggu lama! Tapi, kalian malah asik berduaan di sini," gerutunya. Bagaimana dia tidak kesal, acara sudah dimulai sejak tadi, tapi yang jadi bintangnya masih bermesraan di kamar.


"Maaf, Ma. Baiklah, kami akan segera menyusul," ucap Arzan akhirnya.

__ADS_1


"Cepatlah." Nyonya Fika beranjak pergi dari kamar pengantin dengan raut wajah yang ditekuk. Namun, sedetik kemudian dia mengembangkan senyumnya karena sudah menggagalkan momen mesra anak serta menantunya.


Lucu juga melihat mereka berdua kesal sekaligus malu, gumamnya sambil terkekeh pelan.


__ADS_2