Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 33


__ADS_3

"Apakah kamu menyayangi Bintang hanya karena uang yang kami berikan?" tanya Arzan. Sebenarnya, ia bertanya seperti itu hanya untuk mengetes perasaan Allura saja terhadap anaknya.


Allura beberapa kali menganggukkan kepalanya, ia yakin jika pertanyaan itu hanyalah cara Arzan untuk mengetahui, seberapa dalam perasaan sayang Allura pada Bintang.


"Anda tahu, Tuan? Mungkin ... Anda akan berfikir, saya menyayangi Bintang hanya karena uang. Namun, itu tidak 100% benar. Saya memperlakukan Bintang dengan baik, semua itu murni karena saya menyayangi Bintang. Saya tidak peduli dengan rasa lelah yang terkadang yang menghampiri, karena selama saya masih bisa melihat senyum manis dibibir Bintang, itulah yang akan menjadi obat paling mujarab bagi saya. Apakah Anda tidak merasakannya?" tanya Allura sambil terus menatap Bintang yang tengah tersenyum padanya.


Arzan membenarkan ucapan Allura, ia juga memang merasakan jika Bintang adalah obat di saat rasa lelah menderanya.


"Ya, kamu benar. Kufikir kamu tidak benar-benar menyayangi Bintang karena kamu hanya sekedar ibu susunya saja–"


'Degh'


Perasaan Allura bagai diremas kuat dan diempaskan dari ketinggian, sudut hatinya kembali terasa sesak saat mengingat jika ia hanyalah ibu susu yang akan mengurusnya sampai usia Bintang dua tahun. Setelah dua tahun itu, Allura akan kembali ke kehidupan lamanya.


Sadar, Lura. Kamu hanya sebatas ibu susunya saja, batin Allura.


Arzan menatap Allura yang terdiam dengan pandangan kosongnya.


"–Tapi, ternyata kamu lebih dari sekedar itu," sambung Arzan yang langsung bisa membuat Allura menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Namun, saat pandangan mereka bertemu, Allura segera membuang tatapannya kearah lain. Gadis itu menolak untuk berlama-lama menatap sorot mata tajam Arzan. Walau bagaimanapun Allura harus tetap sadar akan posisinya saat ini.


"Ya, Tuan. Anda benar. Saya hanya sekedar ibu susunya saja. Setelah masa menyusuinya selesai, saya bisa kembali lagi ke kehidupan lama saya," ucap Allura sambil menundukkan kepalanya.


"Maaf, permisi. Saya harus segera membawa Bintang untuk beristirahat. Selamat beristirahat juga untuk Anda," ucap Allura sambil membungkukan sedikit badannya, sebelum ia pergi meninggalkan Arzan yang masih mematung di sana.


Tunggu, apa aku ada salah berbicara? Kenapa dia bereaksi seperti itu? Dia 'kan memang lebih dari sekedar ibu susu bagi Bintang. Mungkin dia memang melakukan ini semua hanya karena uang saja, batin Arzan sambil terus memperhatikan Allura dan Bintang yang mulai menghilang dari pandangannya.


Bagi Arzan, Allura lebih dari sekedar ibu susu Bintang. Dari Allura, Bintang bisa merasakan kasih sayang ibunya yang mungkin sudah lupa akan kehadirannya. Allura bukan hanya sekedar sumber nutrisi bagi anaknya, tapi juga sebagai wanita yang rela menahan kantuk serta lelahnya demi menjaga dan merawat Bintang. Allura sudah 100% berperan sebagai ibu untuk Bintang, meskipun dia bukan istrinya Arzan.


Allura masuk ke kamarnya dengan perasaan hati yang bimbang, ia sangat takut jika suatu hari nanti dia akan meninggalkan Bintang. Bintang memang tidak mempunyai ikatan darah dengannya, tapi Bintang sudah seperti anaknya sendiri dan dia tidak ingin sampai kehilangannya.


"Waktu dua tahun akan segera berlalu, apa aku bisa hidup tanpa malaikat kecil ini? Meskipun dia bukan malaikatku, tapi dialah yang membuat hatiku terikat padanya," gumam Allura sambil terus menatap Bintang yang sudah kembali mengantuk.


"Bi, kalau nanti kamu sudah besar, jangan lupakan Mbak, ya? Mbak beneran sayang sama kamu," ucapnya seraya mengusap kepala Bintang dengan sayang.


Huft, mudah-mudahan saja waktu tidak segera berlalu dengan cepat, aku masih ingin tetap bersama Bintang di sini, batin Allura.


Allura terus menggumamkan ayat suci dalam hatinya, ia berharap hatinya menjadi tenang setelah membaca ayat-ayat itu. Hujan yang deras seakan mengetahui perasaan sedih dan takut Allura.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, Allura pun mulai terlelap menyusul si kecil Bintang yang sudah terlebih dulu melanglang buana dalam mimpinya.


***


Malam ini terasa lebih panjang bagi Arzan, pria itu tak bisa tertidur lagi setelah bertemu dengan Allura dan Bintang. Hatinya mendadak cemas, apalagi setelah melihat raut wajah tak biasa dari gadis yang menjadi ibu susu sang anak.


"Akh, ada apa denganku? Kenapa aku terus memikirkan gadis itu?" gumam Arzan seraya mengacak rambutnya secara asal.


Pria itu pun kembali bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan ke arah jendela yang menjadi penghubung antara balkon dan kamarnya. Hujan deras dan angin kencang di luar, tidak mampu membuat ia mengantuk ataupun kedinginan. Justru hatinya malah semakin panas tanpa sebab.


Arzan kembali mengingat perkataan Tuan Anderson yang memintanya untuk segera menceraikan Rivera dan mencari anak gadis temannya, untuk dijadikan istri atau ibu sambung bagi Bintang, sedangkan hatinya sendiri sudah mulai tertaut pada Allura.


Napas berat kembali terdengar keluar dari hidung mancung pria itu, dirinya benar-benar dibuat frustrasi oleh keadaan.


"Bagaimana meneruskan ini semua? Apa aku harus mulai bersikap acuh lagi pada gadis itu? Tapi ... aku juga tidak ingin menerima perjodohan yang akan Papa lakukan kembali padaku," gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Saat ini Arzan sedang menugaskan Edwin untuk mencari dua orang, yaitu anak gadis teman papanya dan orang yang sudah menolong dia saat kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya. Namun, hingga saat ini Arzan belum juga menemukan titik terang tentang anak gadis teman papanya.


Bahkan Tuan Anderson sendiri tidak mengetahui siapa nama anak gadis itu. Dia hanya memberikan petunjuk yaitu nama 'Adnan' saja, sedangkan nama itu Adnan banyak sekali dan Edwin sudah memberikan berbagai keterangan tentang orang-orang yang bernama Adnan. Namun, di antara semua Adnan itu tidak ada yang mengenal papanya.

__ADS_1


Saat Arzan sedang memandangi air hujan, tiba-tiba ingatannya kembali saat Dokter Nandi menawari dia untuk bertemu dengan orang yang sudah menolongnya dan saat itu Arzan menolaknya, karena ia pikir orang itu akan berbasa-basi untuk meminta imbalan setelah dia menolongnya. Akan tetapi, semua perkiraannya salah, sampai saat ini ia masih belum bertemu dengan orang itu meskipun hanya untuk mengucapkan kata terima kasih.


"Sepertinya aku harus menghubungi Dokter Nandi, dia pasti mengetahui siapa orang yang sedang aku cari saat ini."


__ADS_2