
Waktu makan malam tiba, Allura diminta untuk ikut gabung bersama keluarga Rafindra, begitupun dengan Nira. Allura masih merasa sedikit heran dengan perilaku sepupunya, yang enggan untuk mengakui jika mereka saling mengenal. Bahkan, semenjak tadi siang mereka bertemu, Allura belum sempat untuk berbicara lagi.
Saat ini di meja makan hanya ada mereka berdua, Allura berniat untuk menanyakan semua dari perilaku Nira terhadapnya. Allura menarik tangan Nira, ia meminta gadis itu untuk berbicara sebentar dengannya.
"Nira, aku penasaran bagaimana bisa kamu datang kemari secara tiba-tiba? Apalagi kamu sampai mengenal keluarga Rafindra seperti ini?" tanya Allura saat mereka sudah ada di dapur berdua, kebetulan di dapur itu sudah sepi dan tidak ada lagi pekerja.
"Memang apa salahnya jika aku bisa datang kemari? Kamu 'kan bukan orang satu-satunya yang bisa datang ke kota!" tanggap Nira dengan nada juteknya.
"Maksudnya bukan seperti itu, Nira. Aku hanya penasaran, bagaimana bisa kamu mengenal keluarga ini? Apa aku salahnya untuk menanyakan hal itu?" tanya Allura lagi.
"Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang tiba-tiba datang ke kampung dan mencari ayahmu. Dan ... ya, aku mengaku sebagai anaknya, aku melihat orang itu sepertinya bukan orang sembarangan. Jadi, aku dan Ibu berbohong untuk bisa mengubah nasib kami. Bahkan ... kamu tahu, ternyata orang itu akan menjodohkanku dengan anaknya," celoteh Nira dengan bangga.
Allura beberapakali menggelengkan, dia tahu jika keluarga sepupunya itu cukup matre, tapi dia tidak menyangka jika sifat mereka akan berimbas pada keluarganya.
"Tapi untuk apa kamu membohongi Tuan Anderson, Nir? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika mereka bukan orang sembarangan, bagaimana jika nanti mereka mengetahui rencanamu?" tanyanya sambil menatap Nira dengan serius.
"Maka dari itu, Ra. Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal. Jika aku berhasil mendapatkan cintanya Tuan Arzan, kamu bisa terus menjadi baby sitter anaknya," ucap Nira, dia berharap Allura bisa diajak untuk berkompromi dengannya.
"Aku tidak mau. Aku yang akan mengatakannya secara langsung pada Tuan Anderson. Aku akan mengakui jika gadis yang dibawanya bukan orang yang dia cari," jawab Allura dengan tegas.
"Hei, jangan seperti, Ra. Please, aku cuma mau merasakan jadi orang kaya, itu saja." Nira menatap Allura dengan iba, ia berharap Allura mau sedikit berbaik hati untuk membiarkannya menjalankan rencana yang sudah disusun bersama ibunya.
Allura menggeleng tanpa menjawab ucapan Nira. Gadis itu berlalu begitu saja menuju meja makan sambil menyiapkan air untuknya.
Tak berapa lama kemudian, anggota keluarga Rafindra datang. Tuan Anderson terus tersenyum ramah saat melihat Nira yang sedang berpura-pura menyiapkan minuman. Sedangkan Allura hanya memutar bola matanya dengan malas.
Ratu drama. Oke, kita lihat ... apa kamu bisa tahan dengan sikap dingin Tuan Arzan, batinnya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Nira benar-benar berusaha untuk menarik perhatian Arzan dan Tuan Anderson. Dia bisa bersikap manis pada mereka, begitupun pada Nyonya Fika, tapi yang Allura lihat, Nyonya Fika tak terlalu merespon sikap Nira padanya.
"Terima kasih, Nira. Kamu gadis yang baik," ucap Tuan Anderson saat Nira sudah menyimpan gelas berisi air putih di sampingnya.
"Sama-sama, Tuan." Nira tersenyum manis pada Tuan Anderson.
"Jangan memanggilku 'Tuan', Nira. Kamu akan menjadi menantuku nanti. Jadi, biasakan panggil dengan sebutan 'Papa' saja, sama seperti Arzan," ucap bulan Anderson yang langsung diangguki oleh Nira dengan senyum mengembang sempurna.
"Baik, Pa–"
"Cukup, Pa! Jangan keterlaluan seperti ini. Ingat Pa, aku belum menyetujui untuk menikahinya," sergah Arzan yang langsung menghentikan ucapan Nira saat itu juga.
Semua orang menatap Arzan dengan pandangan yang berbeda, Allura merasa tidak nyaman saat melihat keributan di keluarga majikannya, sedangkan Nyonya Fika hanya bisa menunduk lesu sambil menggelengkan kepalanya.
Lagi dan lagi, Tuan Anderson berbuat sesuka hatinya. Arzan pergi dari ruang makan lagi, diikuti Allura di belakangnya. Saat Nyonya Fika hendak menyusul, tangannya segera dicengkeram oleh Tuan Anderson yang melarangnya untuk pergi.
"Tapi, Pa ... Arzan–"
"Sudahlah, biarkan saja anak itu. Nanti juga akan makan setelah dia kembali tenang." Tuan Anderson segera duduk dan mulai membuka piringnya. Nyonya Fika dengan terpaksa ikut duduk dan melayani suaminya.
Nira sendiri hanya terdiam, dia tidak menyangka jika Arzan sangat menolak keinginan papanya dengan tegas. Bahkan pria itu berani untuk menolaknya secara terang-terangan perintah sang papa.
"Maafkan aku, Pa, Ma ... mungkin Mas Arzan tidak menerima perjodohan ini. Apa ... sebaiknya aku pulang saja?" tanya Nira dengan wajah bersalah.
Raut wajah Nira yang murung membuat Tuan Anderson merasa sedikit bersalah, pria paruh baya itu tidak ingin Nira bersedih. Padahal dalam hatinya Nira saat ini sedang tersenyum, dia menebak jika Tuan Anderson masih ada di pihaknya dan tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja.
"Tidak, Nira. Kamu jangan berpikir seperti itu. Arzan pasti masih membutuhkan waktu untuk bisa menerimamu sebagai calon istrinya. Harusnya kamu lebih semangat untuk mendapatkan perhatiannya," ucap Tuan Anderson sambil tersenyum untuk menenangkan gadis muda di depannya.
__ADS_1
Nira menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia masih berlaga menyedihkan untuk menarik simpati pasangan paruh baya itu. Namun, diam-diam bibirnya tersenyum simpul.
***
Arzan baru menyadari Allura mengikutinya saat dia mendengar pintu kamar yang di tempati oleh Bintang tertutup rapat. Arzan memang tidak mengetahui jika Allura juga meninggalkan meja makan. Lantas ia pun menghampiri pintu kamar Allura dan Bintang untuk menentukan.
Tok ... tok ... tok ....
Tak perlu menunggu lama, setelah Arzan mengetuk pintu, kini Allura membukakannya. Wanita itu mengernyit heran saat melihat Arzan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Allura sambil menggendong Bintang di tangannya.
"Kenapa kamu pergi dari ruang makan?" tanya Arzan sambil menatap lekat Allura.
Entah kenapa, Arzan selalu merasa tenang saat ada disekitar Allura. Meskipun tadi pria itu sempat merasa kesal pada ada papanya, tapi kini dia sudah kembali tenang.
Allura menundukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Arzan, ia merasa tidak enak hati pada anak majikannya itu.
"Kenapa hanya diam saja?" tanya Arzan saat Allura tak kunjung memberi jawaban.
"Saya ... saya ... maaf, Tuan. Mungkin ini sedikit kurang sopan. Tapi, saya merasa kurang nyaman jika masih terus berada di sana. Jadi, saya memutuskan untuk pergi saja," jawab Allura pelan. Meskipun alasan lainnya adalah ia yang merasa muak pada sikap Nira. Namun, ia tidak berniat untuk menceritakan masalahnya pada Arzan.
Arzan menganggukan-anggukkan kepalanya beberapa kali. Pria itupun mengambil ponselnya yang berada dalam saku celana dan mengotak-atiknya sesaat.
"Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman. Bagaimana jika kita makan di halaman belakang saja? Aku akan panggilkan Bi Endah untuk menjaga Bintang sebentar. Aku juga sudah memesan makanan untuk kita berdua," ajaknya.
Allura menengadahkan untuk menatap langsung manik mata pria di depannya, ia cukup merasa terkejut dengan ajakan Arzan yang tidak biasa.
__ADS_1
Ada apa dengannya? Tumben sekali ....