
Hari-hari berlalu, tanpa terasa Arzan sudah berada seminggu di rumah sakit tersebut dan sampai saat ini pria itu masih setia menutup matanya, sedangkan Tuan Anderson sudah diperbolehkan pulang sejak tiga hari yang lalu. Sejak itu pula Allura tidak pernah sekalipun meninggalkan Arzan, kalaupun pulang maka akan ada mamanya atau mama mertuanya yang akan menggantikan dia.
Seperti saat ini, Allura baru saja selesai memompa ASI-nya untuk ia titipkan pada mamanya. Allura tidak berani membawa Bintang berlama-lama di rumah sakit. Jadi, bayi itu ia titipkan pada Nyonya Fika atau Ibu Ani.
"Ra, apa belum ada tanda-tanda Arzan akan sadar?" tanya Ibu Ani seraya membantu Allura membereskan kembali alat pumping-nya.
"Belum, Ma. Mas Arzan masih belum bangun juga," jawab Allura sambil menggelengkan kepalanya.
Ibu Ani menghela napas panjang setelah mendengar jawaban putrinya, ia sendiri pun tidak bisa membantu lebih selain doa. Walau bagaimanapun dia merasa khawatir serta cemas pada menantunya.
"Maafkan Mama karena tidak bisa membantu lebih, Ra. Mama hanya bisa mendoakan semoga suamimu cepat sadar agar bisa kembali berkumpul bersamamu dan Bintang," ucap Ibu Ani.
Allura memaksakan bibirnya untuk tersenyum sambil menganggukkan kepalanya samar. Seharusnya tiga hari yang lalu mereka pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan Arzan untuknya, tapi hal itu harus tertunda karena musibah yang sedang menimpa Tuan Anderson serta Arzan sendiri.
Saat Allura dan Ibu Ani masih berbincang, tiba-tiba terdengar suara lenguhan Arzan yang mulai terbangun. Allura bergerak cepat dan bangun dari sofa yang tadi ia duduki, begitu pula dengan Ibu Ani yang segera memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan menantunya.
"Mas ...," panggil Allura perlahan.
"A ... ir ...," pinta Arzan ketika ia pertama kali sadar.
Allura segera memberikan air minum untuk suaminya. Tak lama kemudian, dokter yang biasa memeriksa Arzan pun datang.
"Permisi, Nyonya. Saya izin memeriksakan dulu Tuan Arzan," ucap dokter yang baru saja datang bersama Ibu Ani.
__ADS_1
"Silakan, Dokter." Allura mundur dan membiarkan dokter itu memeriksakan suaminya. Diam-diam Allura menitikkan air matanya karena Arzan sudah sadar, meskipun masih dalam keadaan yang lemah.
Alhamdulillah, semoga kamu bisa sembuh secepatnya, Mas, gumam Allura dalam hatinya.
Allura juga tidak lupa menghubungi Nyonya Fika dan Tuan Anderson untuk memberitahukan keadaan Arzan yang sudah siuman dari komanya. Setelah itu, ia pun kembali menghampiri Arzan yang kini sudah membuka mata sepenuhnya.
"Ra ...," sapa Arzan dengan suara pelan.
"Ada apa, Mas? Bagaimana perasaanmu?" tanya Allura seraya membelai wajah pucat sang suami.
"Tidak ada apa-apa, Ra. Maaf karena aku sudah membuatmu khawatir."
"Tidak, Mas. Aku bersyukur karena kamu masih selamat," jawab Allura.
"Mama juga senang karena kamu sudah sadar, Nak Arzan. Semoga kamu cepat pulih," ucap Ibu Ani yang sedari tadi hanya terdiam.
"Amin, Ma. Terima kasih atas doanya."
Allura, Ibu Ani serta Arzan pun menunggu kedatangan Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Allura juga meminta mertuanya untuk membawa Bintang bersama mereka.
Setelah menunggu hampir satu jam setengah, akhirnya keluarga Rafindra pun tiba. Nyonya Fika langsung memeluk putra semata wayangnya dengan haru, tentunya setelah ia menyerahkan Bintang ke tangan Allura.
"Mama sangat bersyukur karena kamu sudah siuman, Nak. Tadinya kami semua sudah mengkhawatirkanmu," ucap Nyonya Fika tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maaf karena sudah membuat kalian merasa cemas. Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian bersedih," jawab Arzan yang masih berada di pelukan mamanya.
"Tentu saja, Zan. Kami begitu mencemaskanmu," timpal Tuan Anderson. "Karena kamu adalah anakku dan juga suami Allura," sambungnya lagi.
Arzan hanya menanggapi ucapan papanya dengan senyuman tipis. Dia seperti ini juga karena melindungi sang papa dari tembakan Pak Darda yang membabi-buta saat itu.
"Maaf, karena melindungi Papa ... kamu menjadi korbannya, Zan," ucap Tuan Anderson dengan penuh sesal.
Arzan dan ketiga wanita yang ada di sana terdiam. Mereka bisa merasakan penyesalan mendalam yang dirasakan oleh Tuan Anderson.
"Tidak masalah, Pa. Yang penting saat ini aku sudah baik-baik saja. Bukankah Pak Darda juga sudah di tahan? Tapi, kenapa saat itu rencananya bisa melenceng dan berubah seperti itu?" tanya Arzan.
Tadinya ia dan sang papa sudah merancang penjebakan untuk menangkap Pak Darda serta Ethan. Namun, untuk alasan lainnya ia tidak mengerti kenapa rencananya jadi berubah dan malah membuat dia dan papanya menjadi korban.
"Beberapa hari lalu, Tuan Darion menghubungi Papa. Dia mengatakan jika Ethan sudah dia serahkan pada kepolisian. Papa dan Tuan Darion mengira jika Pak Darda akan mengurungkan niatnya. Tapi, itu tidak terjadi dan dia malah melakukannya sendirian," terang Tuan Anderson.
Arzan cukup dibuat terkejut dengan cerita sang papa. Dia tidak menyangka jika paman angkat istrinya mau membantu dia. Bahkan, Tuan Darion sendiri yang menyerahkan Ethan.
"Sekarang kita bisa bernapas dengan tenang, Zan. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang berniat jahat pada keluarga kita," ujar Nyonya Fika yang langsung diamini oleh semua orang yang ada di sana.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Menuju tamat ya 🤭🤭🤭
__ADS_1