Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 119


__ADS_3

Seorang wanita muda tengah duduk terdiam, sorot matanya kosong. Raganya memang ada di sana dan sedang bermain bersama anaknya, tapi pikiran gadis itu sedang melanglang buana. Beberapa saat yang lalu, Allura mendapatkan sebuah pesan dari Viana, sahabatnya yang kini ia ketahui bekerja sebagai waitress di salah satu cafe yang ada di kota itu.


Viana awalnya hanya berbasa-basi menghubungi Allura untuk mengetahui kabar wanita muda tersebut. Allura sendiri sangat bahagia ketika layar ponselnya menunjukkan ID pemanggil yang bertuliskan 'Viana'. Tanpa menunggu lama, ibu dari Bintang itupun segera menerima panggilan dari Viana. Allura juga memberitahukan Viana tentang pernikahannya dengan Arzan. Bahkan, Allura bisa mendengar suara haru sahabatnya meskipun awalnya terkejut dan sedikit merajuk. Namun, itu tak berlangsung lama, Viana segera memberitahukan tujuan dia menghubunginya, yaitu untuk menyerahkan sebuah rekaman yang sangat mengejutkan.


Aku harus memberitahukan tentang rekaman ini pada Mas Arzan. Tapi, sepertinya saat ini dia sedang sibuk, gumam Allura dengan tatapan sendu.


Sejak kemarin pulang dari rumah Pak Darda, Arzan dan Tuan Anderson jadi sedikit sibuk. Kedua pria berbeda generasi itu lebih sering berada di ruang kerja. Bahkan, tadi malam saja Arzan baru masuk kamar setelah waktu menunjukkan pukul tengah malam. Akan tetapi, masalah ini harus segera ia beritahukan pada Arzan maupun papa mertuanya, Tuan Anderson.


Setelah Bintang tidur pulas, Allura segera menuruni tangga, ia juga tidak lupa membawa baby monitor untuk mengawasi Bintang yang sedang tidur di kamarnya.


Sesampai di ruang keluarga, lagi-lagi Allura tidak menemukan keberadaan Arzan ataupun papa mertuanya. Di sana hanya ada Nyonya Fika yang sedang duduk sembari membaca majalah dan menikmati teh hangat. Allura pun menghampiri wanita paruh baya itu untuk menanyakan keberadaan sang suami.


"Ma ...." Allura duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Nyonya Fika duduk.


"Ada apa, Ra? Sepertinya kamu terlihat gelisah? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Nyonya Fika begitu menantunya terduduk.


"Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya saja ... apa Papa dan Mas Arzan masih sibuk?" tanya Allura sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Nyonya Fika hanya mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan sang menantu. Tidak biasanya Allura tampak khawatir ketika menanyakan keberadaan suami serta anaknya.


"Mereka masih ada di ruang kerja, Ra. Apa ada yang mau kamu sampaikan?" Nyonya Fika mencoba untuk mencari tahu alasan Allura yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"O ... h." Allura menundukkan kepalanya. Sebaiknya aku beritahu Mama juga. Supaya nanti Mama bisa memberitahukan hal ini pada Papa. Tapi ... aku tidak ingin Mama jadi khawatir, batin Allura sambil memainkan jari-jari tangan yang ada di pangkuannya.


"Ra, ada apa? Ceritakan saja pada Mama jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu," ucap Nyonya Fika saat melihat Allura yang masih tertunduk di hadapannya.


Mendengar mertuanya yang tampak khawatir, Allura menghela napas pelan. Dia memilih tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Tidak ada, Ma. Mama tidak perlu khawatir, aku hanya menanyakan Mas Arzan karena dia sepertinya sedang sibuk. Jadi, sedikit mengabaikanku," jawab Allura akhirnya.


"Kamu yang sabar, Ra. Saat ini kondisinya sedang tidak stabil. Kabar miring tentang Arzan dan keluarga kita sedang bertebaran di luar sana dan itu sedikit mempengaruhi investor yang menyimpan saham di perusahaan kita. Jadi Papa dan Arzan dibuat sibuk dengan hal itu. Jika kondisi ini masih terus berlanjut, bisa-bisa perusahaan kita kena imbasnya," terang Nyonya Fika pada sang menantu, ia berharap Allura mau mengerti dengan keadaan keluarganya saat ini.


Allura tertegun setelah mendengar perkataan mama mertuanya. Dia tidak pernah tahu jika gosip-gosip yang bertebaran buruk bisa mengakibatkan kehancuran untuk sebuah perusahaan.


"Maaf, Ma. Aku tidak mengetahuinya," ujar Allura pelan. "Tapi, adakah hal yang bisa kita lakukan?" Kini Allura ikut khawatir dengan keadaan Arzan dan Tuan Anderson.


Allura mengangguk samar menanggapi ucapan mertuanya. Mereka sama-sama mengkhawatirkan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak saling terbuka.


Setelah mengobrol sesaat, Allura pun pamit lagi ke kamarnya karena ia melihat Bintang yang hendak bangun dari tidurnya. Nyonya Fika lagi-lagi tersenyum kagum dengan kecekatan Allura dalam mengurus Bintang. Wanita itu benar-benar berperan layaknya ibu kandung.


Allura, semoga kamu selalu bahagia berada ditengah-tengah keluarga ini, batin Nyonya Fika sambil menatap punggung menantunya yang bergerak semakin jauh dari pandangan.


****

__ADS_1


Sementara itu ....


Di ruang kerja, Arzan dan Tuan Anderson sama-sama menghela napas lega. Beberapa saat yang lalu, mereka hampir saja kehilangan investor terbesar untuk kelangsungan perusahaannya gara-gara banyak gosip yang mengatakan jika kematian Rivera adalah ulah keluarganya. Namun, setelah Arzan menceritakan semua yang terjadi pada pemilik investor itu secera pribadi, akhirnya beliau pun kembali mempercayainya.


"Hampir saja perusahaan kita gulung tikar karena masalah ini, Zan," ucap Tuan Anderson pada sang anak yang langsung diangguki oleh Arzan.


"Benar, Pa. Hampir saja .... Sepertinya Pak Darda sudah menyebarkan rumor buruk tentang keluarga kita. Dia tidak berkaca pada masa lalunya," kesal Arzan dengan rahang yang mengeras. Andai saja rasa hormat di hatinya sudah tidak ada, maka dia akan menghajar pria paruh baya mantan mertuanya itu.


"Iya, Zan. Papa juga tidak menyangka jika dia akan menggunakan kematian Rivera untuk mencoreng nama baik keluarga kita di depan orang-orang. Padahal, dia sendiri sadar dengan kebusukan yang sudah dilakukan anaknya. Dia juga sepertinya lupa dulu pernah hampir masuk penjara karena hutangnya yang menumpuk," timpal Tuan Anderson. Ya, dia sekarang merasa sudah sangat kecewa dengan pria yang pernah ditolongnya.


Dulu, Pak Darda mohon-mohon untuk dibebaskan dari hutang-hutangnya dengan memberikan Rivera sebagai jaminan. Namun, setelah pernikahan itu berlangsung beberapa bulan, ternyata Rivera malah bertindak sesukanya dan tidak lagi mengakui Bintang sebagai anaknya. Bahkan, dengan tega, Rivera meninggalkan Bintang di rumah sakit bersama orang asing. Akan tetapi, setelah karirnya hancur wanita itu baru meminta rujuk.


"Sudahlah, Pa. Lagi pula sekarang aku dan Bintang bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik berkat Rivera juga. Jika saat itu Rivera tidak mempekerjakan Allura sebagai ibu susu Bintang, maka sampai saat ini mungkin yang masih menjadi istriku adalah Rivera. Tapi, aku yakin jika pernikahan kami tidak akan bahagia seperti saat ini," ujar Arzan sambil tersenyum membayangkan wajah cantik istrinya.


Ya, Arzan semakin hari, semakin mencintai Allura. Dia juga berjanji akan membawa Allura untuk bulan madu setelah masalah keluarga selesai dan setelah acara resepsi di gelar.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Rekomendasi novel hari ini kakak-kakak 😁😁


Jangan lupa mampir ya 🥰🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2