Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 124


__ADS_3

"Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan kabar kecelakaan yang menimpa Tuan Anderson. Beliau saat ini sedang berada di rumah sakit bersama Tuan Arzan," ucap seseorang dari sebrang sana.


Baik Nyonya Fika, maupun Allura, sama-sama terdiam. Kedua wanita itu syok dengan kabar yang mereka dengar.


Allura segera tersadar dari rasa terkejutnya, ia pun segera mengambil ponsel yang masih digenggam oleh Nyonya Fika dengan cepat.


"Maaf, Pak. Saat ini suami dan mertuaku sedang berada di rumah sakit mana?" tanya Allura.


"Beliau ada di Rumah Sakit GGD gezondheid yang berada di jalan Hourvan," jawab orang itu lagi.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Pak. Kami akan segera ke sana."


Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, Allura pun memutuskan panggilan itu. Ia segera menghampiri Pak Ujang yang sedang di halaman bersama Bibi Erni. Entah dari kapan kedua orang itu memutuskan untuk menjalin hubungan, tapi Allura tidak mempermasalahkannya, begitupun dengan Nyonya Fika dan Ibu Ani.


"Pak Ujang, tolong antarkan aku dan Mama ke Rumah sakit GGD gezondheid!" pinta Allura begitu ia sudah berdiri tak jauh di mana Pak Ujang dan Bibi Erni berada.


"Siap, Non!" seru Pak Ujang seraya berdiri menuju carport.


Bibi Erni dengan tergopoh-gopoh menghampiri keponakannya, ia sedikit khawatir pada Allura karena wajah wanita itu nampak basah dengan hidung yang memerah.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Bibi Erni.


"Papa dan Mas Arzan saat ini sedang ada di rumah sakit, Bi," jawab Allura sembari mengusap air matanya yang kembali menetes.


"Ya Tuhan ...." Bibi Erni menutup mulutnya karena terkejut mendengar jawaban Allura. "Apa yang sudah terjadi, Ra? Bagaimana bisa Tuan Anderson dan suamimu ada di rumah sakit?" tanyanya lagi.


"Aku juga tidak tahu, Bi. Sekarang aku dan Mama baru akan menemui mereka. Bibi tolong beritahukan hal ini pada Mama Ani. Aku dan Mama Fika mau berangkat sekarang," ujar Allura sebelum ia berlalu dari hadapan Bibi Erni.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan sang keponakan, Bibi Erni pun segera mengangguk mengerti dan membiarkan Allura pergi bersama Nyonya Fika serta Pak Ujang.


Di perjalanan, Nyonya Fika tak henti-hentinya mengusap istighfar, ia begitu khawatir dengan keadaan Arzan dan suaminya, Tuan Anderson.


"Pak Ujang, ayo percepat mobilnya!" perintah Nyonya Fika karena ia sudah tidak sabar agar segera sampai di tempat tujuannya.


"Ma ... sabar, Ma." Allura berusaha untuk menenangkan mama mertuanya, ia sendiri sedang membawa Bintang di tangannya. Allura benar-benar menepati janjinya, ia selalu membawa Bintang kemana-mana karena tidak ingin kejadian buruk yang menimpa Bintang terulang kembali.


"Mama sudah sangat khawatir pada Papa dan Arzan, Ra."


Allura lagi-lagi hanya bisa menenangkannya lewat ucapan. ia sendiri pun merasa khawatir serta cemas dengan apa yang sudah terjadi pada mertua serta suaminya.


"Aku juga cemas, Ma. Tapi, saat ini kita tidak bisa melakukan apapun selain berdoa, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Papa dan Mas Arzan," ucap Allura lagi. Setidaknya ia sedikit beruntung karena Bintang yang pintar, bayi itu sedikit pun tidak rewel dan hanya terdiam sambil memerhatikan neneknya yang tengah bersedih.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam setengah, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Pak Ujang berhenti di pelataran rumah sakit. Allura dan Nyonya Fika segera turun di depan lobby, sedangkan Pak Ujang kembali menjalankan kendaraannya menuju tempat parkiran. Tanpa menunggu sopirnya, Allura serta Nyonya Fika segera berjalan menuju meja resepsionis. Mereka perlu menanyakan ruangan tempat suaminya tengah di rawat.


"Permisi, Mbak. Apa ada pasien yang bernama Tuan Anderson di rawat di sini?" tanya Allura pada sang petugas resepsionis.


"Benar, Mbak. Saya menantunya dan ini istrinya."


"Beliau korban kecelakaan, sekarang sudah di rawat di ruang VIP," jawab petugas resepsionis itu.


"Baiklah. Terima kasih."


Tanpa menunggu lama, Allura dan Nyonya Fika segera bergegas menuju ruangan yang dimaksud oleh petugas resepsionis tadi. Kedua wanita itu sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kekhawatiran mereka.


Sesampai di sana, ternyata ada Edwin yang sedang berbicara bersama beberapa orang petugas kepolisian.

__ADS_1


"Edwin!" seru Allura begitu ia melihat pria yang menjadi asisten pribadi suaminya.


"Nona Allura, Nyonya Fika? Ke–kenapa kalian ada di sini?" tanya Edwin yang merasa heran karena kedua istri-istri majikannya tiba-tiba hadir di sana. Belum sempat Allura dan Nyonya Fika menjawab, seorang petugas kepolisian segera menjawab pertanyaan yang Edwin layangkan.


"Maaf, Tuan Edwin. Kami yang sudah menghubungi mereka."


"Oh. Baiklah."


"Edwin, bagaimana keadaan suami dan anakku?" tanya Nyonya Fika begitu ia berdiri di hadapan asisten anaknya.


"Maaf, Nyonya. Saat ini keadaan Tuan Anderson masih belum sadarkan diri, beliau terkena luka tembak di bagian perutnya. Begitupun dengan Tuan Arzan, dia juga ikut terkena karena berusaha menghalangi Tuan Anderson," terang Edwin yang langsung membuat Nyonya Fika terduduk kala mendengarnya.


"Lalu, apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Allura pada salah seorang petugas kepolisian yang ada di sana.


"Sudah, Nona. Pak Darda juga kami lumpuhkan karena dia sempat berusaha untuk kabur setelah melakukan penembakan pada Tuan Anderson dan Tuan Arzan," jawab petugas itu.


"Edwin, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Nyonya Fika pelan.


Allura segera menuntun Mama untuk masuk ke dalam ruang rawat papa mertuanya. Di sana ia melihat Tuan Anderson yang sedang tidak sadarkan diri, begitu pula dengan Arzan yang berada di samping ranjang sang papa. Edwin memang meminta petugas rumah sakit agar memperbolehkan Arzan dan Tuan Anderson dalam satu ruangan. Edwin mengikuti langkah istri-istri majikannya setelah ia berpamitan dengan para petugas kepolisian.


Sekretaris pribadi Arzan itu mulai menceritakan semua hal yang ia ketahui, mulai dari Arzan yang keluar kantor dengan tergesa-gesa, hingga pemandangan mendebarkan karena Pak Darda yang terus memepet mobil Tuan Anderson. Ia juga menceritakan Pak Darda yang menyerang mereka dengan menggunakan senjata api, sedangkan saat itu Arzan dan Tuan Anderson tidak menggunakan apa-apa. Nyonya Fika berkali-kali mengusap air matanya, begitupun dengan Allura.


"Tapi, saya cukup heran karena dia tidak menyerangku maupun sopir pengganti itu," ucap Edwin diakhir kalimatnya.


"Itu karena dia hanya mengincar Papa dan Mas Arzan saja," jawab Allura pelan.


Pandangan mata Allura tak lepas dari sang suami serta papa mertuanya yang masih tidak sadarkan diri akibat efek bius. Tuan Anderson hanya mendapat luka tembakkan satu di bagian perut, sedangkan Arzan mendapat tiga luka tembak, tetapi masih beruntung karena tidak sampai mengenai alat vitalnya. Saat ketiga orang itu masih berbincang, tiba-tiba .... Alat pendeteksi jantung milik Arzan berbunyi nyaring dan mengejutkan Allura, Nyonya Fika dan Edwin.

__ADS_1


"Mas Arzan ...." Allura dan Nyonya Fika segera menghampirinya. Sementara itu, Edwin segera memanggil dokter untuk memeriksa Arzan.


"Mas ... bangun, Mas ...," lirih Allura sebelum dokter datang.


__ADS_2