
Akhir pekan sudah tiba. Arzan mengajak Allura untuk mengunjungi rumah sakit, tentu saja tanpa sepengetahuan Tuan Darion. Arzan diam-diam menyogok asisten pribadi Tuan Darion untuk membocorkan semua jadwal kegiatan tuannya, sehingga membuat dia mengetahui kapan dan hari apa Tuan Darion berkunjung ke rumah sakit.
Awalnya Arzan cukup kesulitan karena asisten Tuan Darion menolak untuk diajak kerja sama. Namun, setelah Arzan mengancam akan mengumbar aibnya, akhirnya asisten itu mau membantu Arzan. Cukup licik memang, tapi semua itu dia lakukan untuk kebaikan.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Arzan saat melihat Allura yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah, Mas," jawab Allura sambil menghampiri Arzan yang sedang duduk bersama Nyonya Fika di ruang keluarga.
"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak Arzan yang langsung diangguki oleh Allura dan Nyonya Fika.
"Mama, maafkan aku karena lagi-lagi Bintang aku tinggalkan," ucap Allura yang merasa tidak enak hati karena terus menitipkan Bintang pada neneknya.
"Hei, Bintang ini cucuku. Jadi, wajar saja jika dia menghabiskan waktu bersamaku. Kamu tidak perlu merasa tidak enak hati seperti itu," jawab Nyonya Fika saat mengetahui Allura merasa sungkan padanya.
Allura mengangguk dan tersenyum setelah mendengar jawaban calon mertuanya. "Kalau begitu, aku dan Mas Arzan akan pergi dulu, Ma," pamit Allura sambil mencium punggung tangan Nyonya Fika, diikuti oleh Arzan yang melakukan hal serupa pada mamanya.
"Iya, berhati-hatilah kalian di jalan nanti," pesan Nyonya Fika pada anak serta calon menantunya yang langsung dijawab anggukan oleh sepasang sejoli itu.
Arzan segera membukakan pintu mobil untuk Allura, mereka juga sempat melambaikan tangannya kearah Bintang yang sedang digendong oleh sang nenek.
Mobil yang dikendarai oleh Arzan pun segera menyatu dengan mobil-mobil lainnya di jalan raya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Allura duduk dengan perasaan yang tidak tenang. Gadis itu terlihat gugup sekaligus was-was, ia takut jika nanti bertemu dengan Tuan Okta, beliau akan membencinya.
Arzan mengerti dengan kegelisahan yang lalu rasakan, pria itu pun langsung menggapai tangan Allura dan menggenggamnya, sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk mengendarai mobil.
"Mas, aku tidak apa-apa. Kamu fokus saja menyetir," ucap Allura saat Arzan sudah menggenggam tangannya.
"Aku tahu, kamu saat ini sedang gugup. Santai saja, Tuan Okta pasti akan sangat bahagia saat bertemu denganmu." Arzan mengecup punggung tangan Allura hingga membuat gadis itu tersipu.
"Sekarang, tarik kamu napas dalam dan keluarkan pelan-pelan," titah Arzan lagi.
Allura tersenyum dan mengangguk. Gadis itupun mengikuti saran dari Arzan. Beberapa kali Allura melakukan hal itu hingga perasaannya kembali tenang.
__ADS_1
"Bagaimana, sudah merasa lebih baik?" tanya Arzan saat melihat Allura duduk rileks.
"Iya, Mas. Sekarang sudah lebih tenang," jawab Allura.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Allura dan Arzan pun tiba di rumah sakit. Sepasang sejoli itu masuk area rumah sakit bersama-sama dengan Arzan yang terus menggandeng tangan Allura. Bahkan, Arzan juga bisa merasakan telapak tangan Allura yang mulai berkeringat.
"Apa kamu masih gugup, sayang?"
Allura hanya mengangguk sabar saat mendengar pertanyaan Arzan. Meskipun tadi di dalam mobil dia sudah berusaha setenang mungkin, nyatanya kini rasa gugup itu kembali hadir dalam hatinya.
"Tenang saja, sayang. Aku akan selalu ada disampingmu. Jadi, kamu tidak perlu takut atau khawatir tentang apapun," ucap Arzan sambil tersenyum lembut menatap Allura.
Gadis itupun hanya bisa mengangguk samar dan mengikuti langkah Arzan yang mulai menghampiri pintu ruang rawat Tuan Okta. Allura semakin mengeratkan genggamannya tak kala pintu yang ada dihadapan Arzan mulai terbuka.
"Assalamualaikum," sapa Arzan saat ia dan Allura sudah berada didalam.
"Wa'alaikum salam," jawab Tuan Okta dengan lirih.
Wajah pria yang sudah dipenuhi kerutan itu makin berkerut saat melihat sepasang sejoli yang tidak dikenal masuk ke dalam ruang perawatannya.
"Maaf mengganggu, Tuan. Saya adalah–"
"Kek, ini Lura. Allura putrinya Papa Adnan, cucu Kakek!" seru Allura yang langsung menghentikan ucapan Arzan. Gadis itu menggenggam tangan Tuan Okta sambil menangis, antara takut dan bahagia karena ternyata kakeknya mencari keberadaannya.
Tuan Okta menatap lekat wanita muda didepannya. Meskipun sudah berpuluh tahun dia tidak bertemu dengan Ibu Ani, tapi hanya dengan melihat sosok Allura, dia bisa kembali mengingat masa lalu.
"Be–benarkah kamu putrinya Adnan, cucuku?" tanya Tuan Okta dengan nada yang bergetar, sungguh suatu keajaiban untuknya bisa bertemu dengan cucu yang tidak pernah dia temui sebelumnya.
Allura menganggukan kepalanya beberapa kali. Wajah gadis itu pun kini sudah dipenuhi dengan air mata.
"Benar, Kek. Aku Allura. Papa ... Papa mengatakan jika namaku mirip dengan mendiang Nenek, Alleira. Apa Kakek mempercayai itu?" tanya Allura dengan penuh harap.
__ADS_1
Tuan Okta langsung memeluk Allura. Tak ada orang lain yang mengetahui nama panjang mendiang istrinya selain keluarga inti. Bahkan, Tuan Darion pun hanya tahu nama mama angkatnya sebatas Karla.
"Kamu ... kamu benar-benar cucuku," gumam Tuan Okta disela-sela pelukannya pada Allura.
Arzan dibuat terharu oleh pertemuan cucu dan kakek itu. Dia ikut bahagia karena ternyata Tuan Okta sama sekali tidak menyangkal jika Allura adalah cucunya. Bahkan, pria tua di depannya itu sama sekali tidak meminta tanda bukti apapun.
"Ra, maafkan Kakek. Kakek sudah berbuat salah kepada kedua orang tuamu. Dulu, Kakek sangat keras kepala dan tidak menerima jika ternyata Adnan lebih memilih Ibumu, gadis yang sudah dinodai oleh anak angkatku sendiri. Maafkan aku," ucap Tuan Okta lagi. Andai Allura belum mengetahui kejadian sebenarnya, pasti saat ini dia akan sangat terkejut.
Tuan Okta seketika sadar akan ucapannya, dia langsung melepaskan Allura dan menatap gadis itu dengan heran.
"Kamu tidak terkejut dengan ucapanku?"
Allura menggeleng dan tersenyum. "Tidak, Kek. Aku sudah mengetahui semuanya. Mama sudah menjelaskan semuanya padaku," jawabnya.
Arzan yang sudah mengetahui hal itu sejak awal, jadi dia juga hanya diam dan membisu dan itu membuat Allura meliriknya.
"Mas ...."
"Aku sudah tahu sejak awal, Ra. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Arzan.
Tuan Okta sendiri saat ini sedang memerhatikan Arzan, dia mencoba untuk mengenali pria muda yang sedang bersama cucunya. Namun, setelah beberapa saat dia terdiam, ingatannya tak bisa menebak siapa pria muda itu.
"Ra, aku lupa bertanya padamu. Pria yang sedang bersamamu itu siapa? Rasanya tidak asing, tapi Kakek tidak mengingatnya," tanya Tuan Okta yang ditujukan pada Arzan.
Tanpa menunggu lama, Arzan pun langsung memperkenalkan dirinya.
"Maaf membuat Anda bingung, Tuan. Saya Arzan, nama Papa saya Anderson. Sebelumnya kita pernah beberapa kali bertemu, tapi mungkin Anda sudah lupa. Papa saya sempat beberapa kali bekerja sama dengan perusahaan Anda, Tuan Okta," jawab Arzan.
Tuan Okta mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, hingga akhirnya dia mengingat sesuatu.
"Apa kamu adalah suaminya Rivera?"
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Hari ini double up, ya kakak-kakak 🤗🤗🤗 Makasih yang udah setia nunggu dan kasih semangat 🙏🙏🙏 Pokoknya ❤️❤️❤️❤️❤️ sekebon untuk kalian 🤗🤗🤗