Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 71


__ADS_3

"Wah ... wah ... wah, kamu sudah lama tidak pulang kemari. Dan ... saat pulang pun sudah membawa bayi serta seorang pria. Apa dia suamimu? Kapan kalian nikah? Kenapa bisa tiba-tiba punya anak? Ternyata ... kamu bukan gadis yang benar-benar polos, ya?" tanya Dewi bertubi-tubi saat dia melihat mobil mewah yang baru saja keluar dari halaman kontrakan rumah Allura.


Allura mengernyit samar saat mendengar pertanyaan-pertanyaan Dewi yang menurutnya tidak masuk di akal.


"Apa maksudmu Tuan Arzan? Dia majikanku dan bayi itu, dia anak asuhku. Oh, ya ... aku lupa memberi tahukan padamu jika aku sekarang bekerja sebagai baby sitter. Jadi, kamu jangan berpikiran buruk lagi tentangku. Karena ... jika kamu tetap melakukannya ... aku tidak akan tinggal diam!" ancam Allura. Dia sudah terlalu muak harus mengalah pada Dewi yang selalu merundungnya.


"Apa-apaan kamu, Lura? Kamu sudah berani mengancamku?" tantang Dewi sambil berkacak pinggang dan menatap Allura dengan tajam.


"Mengancam? Aku tidak mengancammu. Aku hanya memperingatkan kamu agar tidak macam-macam padaku," jawab Allura acuh. Dia tidak peduli lagi jika Dewi sampai marah padanya, sudah cukup Dewi selalu merendahkannya dulu. Sekarang, dia tidak akan memberikan kesempatan itu lagi.


Dewi membulatkan matanya tak kala melihat Allura yang balik menantangnya. Padahal seingatnya, Allura adalah gadis yang paling mudah dia bully. Namun sekarang, Allura sudah jauh berbeda dari perkiraannya.


"Cih ... apa sekarang kamu merasa sudah lebih baik dariku, Allura?" Dewi terus saja mengompori ibu susu Bintang. Dia tidak ingin mengalah begitu saja karena Dewi yakin, Allura mempunyai sisi lemah yang masih bisa ia bully.


"Entahlah ... yang pasti aku tidak serepot kamu yang selalu mencari kesalahan dan kelemahan orang lain," jawab Allura lagi sambil menggedikkan bahunya, hingga membuat Dewi kesal dan mengepalkan tangannya erat-erat.


Allura tersenyum tipis saat melihat Dewi yang mulai terprovokasi oleh emosinya sendiri. Bukan salah dia, jika gadis itu marah.


"Sudahlah, Dew. Kamu tidak perlu mencari kesalahan orang lain lagi untuk kamu jadikan kelemahan dia, agar bisa kamu bully. Apa kamu tidak lelah hidung terus-menerus seperti itu? Bukankah kamu juga ingin hidup tenang? Jadi, mari diam dan jangan mengusik kehidupan orang lain," sambung Allura lagi sebelum Dewi menjawab ucapannya.


Saat Dewi tak kunjung menjawab perkataan Allura, ibu susu Bintang pun memutuskan untuk pergi dari hadapan Dewi. Jika terus berbicara dengan gadis itu, hanya akan membuang-buang waktu saja untuk Allura.


Namun, baru saja Allura mendekati pintu, Dewi kembali menghentikannya dengan mengatakan sesuatu yang tak pernah terbesit ataupun terpikirkan oleh Allura.


"Harusnya kamu jangan menjadi gadis yang sok suci, Allura. Aku tahu, Mamamu itu bukan benar-benar istri Papamu, 'kan? Dan kamu bukan benar-benar anak Paman Adnan?" tanya Dewi dengan seringainya jahat di wajahnya. Apalagi saat melihat Allura yang seakan terkejut dengan ucapannya, hal itu membuat Dewi wakin jika Allura adalah gadis haram, anak dari pria yang menemuinya beberapa hari lalu.


"Apa maksud dari ucapanmu, Dewi? Sudah kukatakan, kamu jangan sembarangan berbicara. Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaan Ibuku, jika sampai beliau mendengar ucapan konyolmu seperti itu?" tanya Allura. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran tetangganya itu.

__ADS_1


Dewi yang selalu mencari kekurangan dan kelemahan Allura, tentu saja sudah biasa. Namun, kali ini Dewi sudah keterlaluan. Bagaimana bisa, dia beranggapan seperti itu tanpa ada bukti apapun. Sedangkan, Allura tahu jika dirinya adalah anak Papa Adnan karena Allura pernah menjadi salah satu pendonor darah saat papanya mengalami kecelakaan.


"Kenapa kamu masih mengelak? Apa aku harus memberikan bukti-bukti atas ucapanku?" tantang Dewi lagi.


Allura menggelengkan kepalanya samar, Dewi bukan gadis yang bisa ia hadapi dengan mudah.


"Aku tidak mempunyai cukup waktu luang untuk meladenimu. Jadi ... silakan pergi dari halaman rumahku!" usir Allura sambil mengibaskan-ibaskan tangan seperti orang yang sedang mengusir ayam dari pekarangan rumahnya. Tanpa menunggu Dewi pergi dari halamannya, Allura meninggalkan gadis yang masih menatap nyalang dirinya itu sendirian.


Setelah masuk ke rumah, Allura segera menutup pintu rumah itu. Dia menyandarkan punggungnya di pintu, untuk melepas perasaan emosi yang tadi sempat menderanya akibat mendengar ucapan Dewi yang tidak masuk akal.


Sebenarnya apa yang coba Dewi ucapkan tadi? Kenapa dia sampai berpikiran jika aku bukan anak Papaku? Ada-ada saja, gumam Allura sambil kembali menggelengkan kepalanya pelan.


Saat Allura masih berdiri di hadapan pintu, tiba-tiba Ibu Ani keluar dari kamarnya, hingga membuat Allura sedikit terkejut.


"Kamu sedang apa, Ra?" tanya Ibu Ani seraya mengernyit heran, kulit-kulit yang sudah mengeriput itupun tampak sedikit lebih jelas.


Allura yang sedang dalam lamunannya, cukup tersentak saat mendengar pertanyaan sang mama yang tiba-tiba ada di depannya.


"Mama terbangun karena sedikit mendengar kegaduhan di luar, ada apa? Apa Dewi mengganggumu lagi?" tanya Ibu Ani. Dia tahu jika Allura sering diganggu oleh gadis tetangganya itu.


"Sudahlah, Ma. Mama tidak perlu memikirkan dia, biarkan saja. Lagi pula, Allura bisa melawan Dewi sendirian," jawab Allura disertai senyuman manis di bibirnya. Dia tidak ingin Ibu Ani terlalu mengkhawatirkannya.


"Kadang Mama heran, Ra .... Apa sih unggulnya dia yang hanya anak tiri Bu Siska? Padahal, Mamanya sendiri yang menjadi pelakor. Syukur-syukur Bu Siska masih mau merawatnya. Tapi gadis itu malah berlaga berlebihan–" ucap Bu Ani yang sudah sangat kesal pada Dewi. Jadi, dia pun kembali terpancing emosi dan mengatakan hal buruk tentang gadis itu.


"Sudah, Ma. Kita jangan ikut nyinyir dengan kehidupan orang lain." Allura menghentikan perkataan mamanya. Jika tidak, mungkin akan terus berlanjut.


Ibu Ani pun hanya bisa mendengus kasar saat Allura menghentikan perkataannya. Namun, sesaat kemudian, ia baru menyadari suatu hal.

__ADS_1


"Apa Tuan Arzan sudah pulang?" tanya Ibu Ani saat ia tidak melihat keberadaan majikan Allura di rumahnya.


"Sudah, Ma."


"Oh, ya sudah. Kamu istirahat sama Bintang saja, biar Bibi tidur bersama Mama malam ini," perintah Ibu Ani yang langsung diangguki oleh Allura.


"Baik, Ma."


Allura pun masuk ke kamarnya, dia melihat Bintang yang sedang tertidur sambil memunggunginya. Hal itu membuat Allura tersenyum kala menatap punggung mahluk kecil di depannya.


"Aduh ... Bintang makin gemes deh," gumam Allura sambil duduk di sampingnya dan mengusap punggung kecil itu.


Tak berapa lama kemudian, Bintang terbangun dan menangis. Allura segera meraupnya dan memberikan ASI-nya secara langsung sambil menimang bayi itu.


Namun, baru beberapa saat ia menyusui Bintang, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka seseorang, baik Allura maupun orang itu, keduanya saling terdiam.


"Allura, apa yang sedang kamu lakukan?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Halo kakak-kakak πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹ Gimana sama part ini? Bikin deg-degan gak? Sabar ya ... Authornya juga deg-degan lho 🀭🀭🀭. Sambil nunggu ini up, yu baca dulu rekomendasi novel hari ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡ Ceritanya gx kalah seru lho πŸ€—πŸ€—πŸ₯°πŸ₯°



__ADS_2