Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 57


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Arzan dan Allura pun sampai di kediaman Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Sesampai di sana, Arzan segera membuka pintu mobil dan membukakan pintu sebelahnya untuk Allura. Mereka berdua pun masuk disambut oleh kepala pelayan dan Bi Endah yang tengah menggendong Bintang.


"Pak, di mana gadis itu?" tanya Arzan yang langsung menanyakan keberadaan Nira.


"Dia ada di kamar tamu yang di lantai bawah, Tuan. Nyonya meminta saya untuk menempatkan dia di sana," jawab kepala pelayan yang bernama Pak Damar.


"Baiklah, saya akan menemuinya sekarang. Lura, bagaimana denganmu, apa kamu mau menemui sepupumu sekarang?" tanya Arzan pada Allura yang saat ini sudah menggendong Bintang.


"Anu, Tuan ... saya ... saya mau mengurus Bintang dulu. Jika sudah selesai, nanti saya akan menyusul Anda," jawab Allura sambil tersenyum kaku.


Arzan hanya mengangguk sekali, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Allura, Bintang dan Bi Endah yang masih berdiri di sana. Setelah kepergian Arzan, barulah Allura melangkah menuju masuk ke dalam kamar yang dia tempati bersama Bintang.


"Mbak Lura, mau saya buatkan makanan?" tanya Bi Endah, sebelum wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan Allura.


"Boleh, Bu. Kebetulan, saya juga belum makan siang," jawab Allura sambil mengangguk.


"Baiklah, ditunggu sebentar, Mbak. Kalau sudah selesai, nanti saya kasih tahu," ucap Bi Endah sebelum ia berlalu menuju dapur untuk memasak makan siang.


Allura mendekap bayi mungil yang ada di pangkuannya untuk ia bawa ke dalam kamar. Meskipun tadi malam dan tadi pagi ia sudah menghabiskan waktu bersama Bintang, tapi rasa rindu yang ada dalam hatinya tak kunjung juga terobati pada bayi mungil itu. Allura terus menimang sambil menciumi wajah Bintang yang sudah mulai tampak berisi dari terakhir kali mereka datang ke rumah Nyonya Fika.


"Sayangnya Mbak mana, hmmm?" tanya Allura sambil menggoda Bintang.


Bayi mungil itu merespon perkataan Allura dengan mencoba untuk menggapai wajah ibu susunya. Dengan sengaja, Allura mendekatkan wajahnya pada tangan Bintang. Telapak kulit halus dan lembut milik Bintang, menyapu wajah Allura. Sedangkan, gadis itu sendiri memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan Bintang yang sangat ia sukai.


"Kulit kamu sangat halus, Bi ... buat Mbak selalu rindu kamu," gumam Allura.


Sesampai di kamar, Allura pun segera mengunci pintu kamarnya dan membaringkan Bintang di atas tempat tidur. Lalu, Allura pun segera berjalan ke toilet untuk membersihkan tubuhnya sesaat, sebelum menyusui Bintang. Allura juga membuang ASI yang tadi ia bawa ke dalam pot tanaman yang ada di dalam toilet itu.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Allura segera menghampiri Bintang dan memangkunya untuk ia susui. Selalu menjadi kepuasan tersendiri untuk Allura saat melihat bintang yang sedang menggapai pu*ing susunya. Bahkan, Allura juga sering menggoda bayi itu saat hendak menyusu padanya.


Kebersamaan yang Allura rasakan bersama Bintang, membuatnya lupa jika dia hanya sekedar ibu susu saja. Allura merasa jika dia adalah ibu bagi bayi itu. Namun, pemikiran itu ia tepis karena nyatanya Rivera–lah yang menjadi ibu kandung Bintang, bukan dirinya.


"Lura, lagi-lagi kamu menghayal," gumam Allura sambil mengusap wajah dengan sebelah tangannya yang bebas.

__ADS_1


Meskipun Allura sangat menyayangi Bintang, tapi biarlah dia hanya sebatas ibu susu. Allura cukup sadar diri dengan keadaannya.


Setelah Bintang tertidur pulas, Allura segera menyusul Arzan yang sedang berada di kamar tamu, tempat dimana Nira saat ini berada.


Allura sedikit mengernyitkan kening saat melihat pintu kamar itu tertutup dengan dijaga dua pengawal yang sedang berdiri di depan pintunya.


Lho, kenapa pintunya ditutup seperti itu? Apa yang sedang mereka berdua lakukan didalam sana? Kenapa Tuan Arzan tidak membiarkan terbuka saja pintunya? batin Allura.


Tanpa Allura sadari, ternyata dia sudah banyak berpikiran yang negatif pada Arzan dan Nira. Allura segera melangkahkan cepat agar segera sampai di depan pintu itu.


"Pak, kenapa pintunya dijaga dan ditutup seperti itu? Mana Tuan Arzan dan Nira?" tanya Allura saat ia sudah berdiri di hadapan seorang pria yang sedang menjaga pintu itu.


"Tuan Arzan ada di dalam, Nona," jawab pria itu tanpa menatap Allura.


Lagi-lagi Allura memicingkan matanya setelah mendengar jawaban bodyguard itu.


"Kenapa Bapak membiarkan Tuan Arzan dan Nira di dalam hanya berdua?" tanya Allura lagi, kali ini gadis itu terlihat sedikit khawatir. Namun, entah dia khawatir pada siapa.


"Itu adalah permintaan Tuan Arzan sendiri, Nona," jawab bodyguard itu lagi.


"Pak, apakah saya boleh masuk ke dalam?" tanya Allura dengan tatapan memohon. Ia lupa jika Arzan memang menyuruh dia untuk menyusulnya, sedangkan para bodyguard itu sendiri tidak mengetahui jika Allura sudah diizinkan masuk oleh Arzan.


"Maaf, Nona. Harap tunggu sebentar, saya akan memberitahukan kedatangan anda pada Tuan Arzan." B**odyguard itupun mengetuk pintunya sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya ia memutar handle dan masuk ke dalam sana.


Tak lama kemudian, bodyguard itupun kembali keluar dengan sedikit membungkukkan badannya. Dia salah karena sudah membiarkan Allura berdiri di luar kamar dengan perasaan yang cemas.


"No–nona, Anda ... Anda bisa masuk, maaf karena saya tidak mengetahui jika Nona Allura sebenarnya sudah diizinkan untuk langsung masuk ke dalam sana," terang bodyguard itu setelah dia keluar dari kamar yang sedang di tempat ini Nira dan Arzan.


"A–apa? Benarkah aku bisa langsung masuk?" tanya Allura memastikan pendengarannya.


"Benar, Nona. Maaf karena saya sudah salah mengira jika Anda dilarang masuk ke dalam," jawab bodyguard itu lagi.


Tanpa menunggu lama, Allura segera masuk ke kamar itu. Di sana, Allura melihat sepupunya tengah duduk dengan tangan terikat dan di awasi dua pengawal perempuan.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku salah mengira, ternyata Tuan Arzan tidak hanya berdua saja, batin Allura.


"Kenapa kamu lama sekali, Rara?" tanya Arzan saat Allura sudah berdiri di depan pintu.


Allura masih mematung, gadis itu masih terus menatap Arzan dan Nira secara bergantian. Hal itu membuat Arzan menghampiri Allura dan menepuk bahunya untuk menyadarkan dia dari lamunannya.


"Hei, kenapa kamu malah melamun, Rara?"


Lagi-lagi Arzan memanggilnya dengan panggilan 'Rara'. Entah untuk apa maksudnya, tapi itu membuat Allura cukup terkesima.


"Ma–maaf, Tu–tuan. Tapi ... kenapa ... kenapa Anda mengikat tangan Nira?" tanya Allura saat Arzan sudah menyadarkan dia dari lamunannya.


"Maaf, Rara. Tapi, dia tadi sempat memberontak dan melukai salah satu pengawalku. Jadi, aku terpaksa untuk mengikat tangannya seperti itu agar dia tidak kabur dan tidak melukai orang lain lagi," jawab Arzan.


Allura cukup dibuat terkejut saat Arzan mengatakan jika Nira sudah melukai pengawalnya, ia tidak menyangka jika sepupunya bisa berbuat anarkis seperti itu.


"Nir, kenapa kamu sampai berbuat seperti itu?" tanya Allura sambil mencoba untuk mendekati Nira yang masih sedang menatapnya dengan tajam. Namun, belum sempat Allura mendekat, Arzan sudah terlebih dulu mencegahnya.


"Jangan terlalu dekat dengannya, Ra. Dia cukup berbahaya!"


·


·


·


·


·


·


Halo Kakak-kakak 👋👋👋 Author mau kasih tahu nih, maaf sebelumnya jadwal up Novel ini mau di kurangi jadi 2× sehari. Tapi jangan khawatir, sambil nunggu up yang ini, baca juga Novel rekomendasi Author ya 😁 Dari salah satu Author yang gx kalah kecenya Kak Faiz Bellzz👍👍👍

__ADS_1



__ADS_2