
Sesuai rencana, Nira pergi ke luar rumah dengan niat ingin menemui Tuan Anderson dan Arzan yang saat ini tengah berada di perusahaan. Nira datang dengan membawakan makan siang untuk mereka. Namun, kepergian Nira dari rumah tidak diketahui oleh Nyonya Fika yang sedang berada di kamar Bintang bersama Bi Endah.
Nira mendapatkan kabar jika Arzan sedang di perusahaan dari Tuan Anderson, gadis itu datang tentu saja dengan niat lain. Sesampai di perusahaan, Nira dengan angkuhnya memperkenalkan diri sebagai calon istri Arzan saat ia melewati meja resepsionis. Bahkan wanita itu menolak untuk menunggu Arzan dan Tuan Anderson di ruang tunggu, ia memaksa untuk menunggu di ruang kerjanya.
"Wah, ruangan kerja Mas Arzan ternyata sangat bagus," gumam Nira saat sekretaris Arzan mempersilakannya masuk.
Sebenarnya Meta ragu mempersilakan Nira untuk masuk ke ruangan Arzan karena selama ini tak ada yang memperbolehkannya masuk ke sana. Apalagi saat Arzan tak ada di tempat. Bahkan, Rivera saja tidak diperbolehkan masuk saat dulu masih menjadi istrinya Arzan, tapi Nira mengancamnya akan memecat dia jika tidak membiarkan dia masuk.
"Aku benar-benar akan menjadi Cinderella jika bisa menikah dengan Mas Arzan," ucapnya lagi sambil mendudukkan diri di sofa yang sudah tersedia di sana. Nira menyimpan kotak makanan yang tadi ia bawa di meja depan sofa.
Gadis itu juga mencoba untuk duduk di kursi kebesaran Arzan, seolah-olah dialah sang pemilik perusahaan.
"Wah, kursinya benar-benar empuk. Pantas saja Mas Arzan betah berlama-lama di perusahaan," gumam Nira untuk kesekian kalinya, ia mengagumi semua fasilitas ruang kerja Arzan yang sangat mewah itu.
Namun, Nira melupakan pemilik yang sesungguhnya, yang saat ini sedang berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang kerjanya. Saking marahnya, bahkan Arzan meninggalkan Tuan Anderson yang masih ada di belakang. Arzan segera meninggalkan ruang meeting, saat ia mendapat kabar jika ada wanita yang mengaku sebagai calon istrinya.
Sesampai di depan ruangannya, Arzan segera membuka pintunya dengan kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Awalnya Nira hendak marah saat melihat pintu itu terbuka lebar, tapi segera ia urungkan ketika Arzan sedang menatap tajam padanya.
Di sana, Arzan melihat Nira yang tengah duduk di kursi kerjanya dengan gaya yang angkuh. Namun, saat melihat kedatangan Arzan, gadis itu langsung meloncat dan berdiri mematung.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan pribadiku?" tanya Arzan tanpa menurunkan pandangannya dari gadis yang sedang berdiri kaku di depannya.
"M–mas ... aku ...."
__ADS_1
"SIAPA YANG MENYURUHMU MASUK KEMARI?" Suara tinggi Arzan terdengar sangat menggelegar di ruangan itu.
Meta sebagai sekretaris Arzan segera bergegas menuju ruangan atasannya. Wanita itu tampak cemas dan khawatir jika dirinya akan dipecat karena sudah membiarkan orang lain masuk ke dalam ruangannya.
"Ma–maaf, Tuan. Saya ... saya yang mengijinkan Nona itu untuk masuk kemari. Dia mengatakan jika dirinya adalah calon istri Tuan, jadi saya membiarkannya masuk. Dia juga mengancam akan memecat saya," ucap Meta sambil menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena sudah lancang membiarkan Nira masuk ke dalam ruangan Arzan.
"Siapa atasanmu, aku atau dia?" tanya Arzan pada Meta tanpa menatap sang sekretaris.
"A–anda, Tu–tuan," jawab Meta dengan terbata-bata.
"Karena kamu yang membiarkan dia masuk, maka kamu juga yang harus menyeretnya keluar dari sini. Anggap saja aku sedang berbaik hati sebab tidak memecatmu saat ini," perintah Arzan.
Meta segera mengangguk mengerti, sedangkan Nira mencoba untuk berlari agar Meta tak menangkapnya. Namun, dia kalah cepat. Meta segera menggusur Nira dari ruangan Arzan.
"Lepaskan aku! Dasar sekretaris si*lan, berani-beraninya kamu memperlakukanku seperti ini! Aku tidak akan membiarkan kamu lolos jika nanti aku sudah menjadi Nyonya Muda Keluarga Rafindra."
Nira terus mengoceh dengan mengumpati Meta. Namun, Meta tidak memedulikannya, wanita itu terus menggusur Nira agar keluar dari ruangan Arzan.
Tak lama kemudian, Tuan Anderson sampai di depan ruangan Arzan. Pria paruh baya itu melihat Nira tengah berontak di cengkeraman Meta, ia pun bergegas menghampirinya.
"Meta, apa yang sedang kamu lakukan? Cepat lepaskan tanganmu dari Nira! Dia adalah calon menantuku," perintah Tuan Anderson.
Meta melirik Arzan yang memberikan isyarat dengan menggeleng, agar ia menuruti Tuan Anderson.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya akan membawa Nona ini keluar," jawab Meta hendak melangkah, tapi Tuan Anderson sudah menghalangi langkahnya dengan berdiri tepat di depan pintu.
"Berhenti dan lepaskan calon menantuku, atau aku akan memecatmu!" perintah Tuan Anderson lagi.
Tanpa mengatakan apapun, Arzan segera melangkahkan kakinya menuju meja tempat ia bekerja. Di sana, ia membuka salah satu laci untuk ia berikan pada sang papa.
"Apa ini, Zan?" tanya Tuan Anderson saat Arzan memberikan sebuah amplop coklat padanya.
"Papa lihat dan baca saja. Bukankah Papa tidak memercayai ucapan Mama? Sekarang aku memberikan bukti-bukti itu langsung. Jadi, Papa bisa menilainya sendiri," jawab Arzan sambil mendudukan dirinya di sofa.
Tuan Anderson mengikuti langkah Arzan dan menyingkir dari pintu keluar, ia mulai membuka amplop coklat itu dengan perasaan yang penasaran sekaligus berdebar.
Berbeda halnya dengan Nira, gadis itu mulai takut dan cemas jika kebohongannya sampai terungkap dan diketahui oleh Tuan Anderson.
Apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai mimpiku untuk menjadi Cinderella berakhir di sini. Ibu dan Ayah pasti akan sangat kesal padaku karena sudah mempermalukan mereka di kampung, batin Nira yang sudah gelisah tak menentu.
Tuan Anderson mulai membaca semua kertas yang ada di dalam sana. Perlahan tapi pasti, Arzan bisa melihat rahang papanya yang mulai mengeras karena menahan kesal. Bahkan, tangannya pun sudah bergetar sambil sedikit meremas kertas itu.
"Nira ... kamu!"
Nira sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya, semua sudah terjadi. Tuan Anderson sudah melihat semua data-data miliknya, di sana juga lengkap dengan foto kedua orang tua Nira dan identitas mereka.
Ma*pus, batin Nira saat ia melihat sorot mata Tuan Anderson yang menatap nyalang dirinya.
__ADS_1
Nira segera mengempaskan cekalan tangan Meta yang sedikit mengendor dan membuat wanita itu jatuh. Setelah terlepas, ia segera berlari menuju tangga darurat untuk kabur dari gedung perusahaan itu.