
Allura segera membenahi pakaiannya dan berjalan cepat menuju box tempat Bintang tertidur. Wanita berusaha bersikap biasa saja karena sebenarnya saat ini jantungnya sudah berpacu dengan kencang. Apa yang dilakukan Arzan tadi benar-benar membuat dia mabuk.
Lain halnya dengan Arzan, pria itu segera masuk ke kamar mandi untuk meredam sesuatu yang sudah sangat bergejolak dalam dirinya. Ia tidak menyangka jika anaknya sendiri yang akan menggagalkan rencana terindahnya bersama sang istri, Allura.
Ya Tuhan ... padahal aku sangat ingin melakukannya. Tapi, kenapa Bintang tidak mengijinkanku? batin Arzan di bawah guyuran air shower yang dingin. Sepertinya aku harus menyiapkan acara bulan madu berdua bersama Allura, sambungnya lagi.
Allura sendiri merasa sedikit bersalah pada Arzan karena harus membuat pria itu kembali menunggu, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan Bintang begitu saja.
Selesai mandi, Arzan kembali memakai pakaiannya yang tadi. Saat ini ia masih berada di kamar Allura, jadi di sana tidak ada pakaian miliknya.
"Apa Bintang tidur lagi?" tanya Arzan sambil menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil yang tersedia di kamar Allura.
"Sudah, Mas. Sepertinya tadi dia hanya sedikit bermimpi saja," jawab Allura seraya kembali menidurkan Bintang lagi di atas kasur.
"Ya sudah, kamu mandi dulu. Aku yang akan menjaganya." Arzan kembali merebahkan dirinya di samping sang putra, sedangkan Allura mengangguk dan mengambil handuk serta baju ganti untuk ia bawa ke dalam kamar mandi.
Setelah hampir setengah jam, Allura pun keluar dari kamar mandi, kini tubuhnya sudah lebih segar dari sebelumnya. Saat ia keluar dari kamar mandi, Allura sedikit mengernyit karena melihat Arzan dan Bintang yang sedang tertidur sambil berpelukan. Gadis itu tidak menyia-nyiakan momen tersebut, ia segera mengambil ponselnya dan memotret foto Arzan dan Bintang yang sedang terlelap.
Allura menatap kagum hasil jepretannya. Sepasang ayah dan anak itu begitu terlihat mirip. Bintang benar-benar meng—copy wajah Arzan, tak ada satu bagian pun yang mirip dengan Rivera.
"Wah, kalian benar-benar mirip," gumam Allura sambil tersenyum dan terus memperhatikan ayah serta anak itu.
Setelah puas memandangi kedua wajah tampan berbeda generasi itu, Allura pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menghampiri kedua mertuanya yang masih duduk di sofa ruang keluarga, tengah menonton televisi.
"Lho, Ra. Mama kira kamu tidur, mana Arzan dan Bintang?" tanya Nyonya Fika ketika menyadari kehadiran menantunya.
"Mas Arzan dan Bintang masih tidur, Ma. Aku tidak mengantuk, jadi aku memilih untuk membiarkan mereka berdua beristirahat," jawab Allura. Gadis itupun duduk di samping mama mertuanya yang sedang menonton berita, sedangkan Tuan Anderson tengah membaca sesuatu di tab—nya.
__ADS_1
Nyonya Fika menilik penampilan menantunya dengan kening mengernyit, tidak biasanya Allura akan mandi di waktu siang seperti saat ini. Apalagi wanita itu juga sampai keramas. Namun, tatapannya tak sengaja melihat tiga tanda merah yang berada di belakang tengkuk wanita muda itu.
Ya Tuhan ... ternyata anakku sudah tidak sabaran. Sampai-sampai dia tidak mau menunggu waktu malam ..., batin Nyonya Fika sambil tersenyum tipis.
Allura menoleh, ia merasa sedikit risih dengan senyuman tipis yang tercetak di bibir mertuanya. Senyuman itu terasa janggal karena Nyonya Fika terus menatap kearah leher belakangnya saja.
Kenapa Mama memandangku seperti itu? Apa ada sesuatu yang menempel di leherku? batin Allura sambil mengusap bagian leher belakangnya.
"Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Nyonya Fika, berbisik di dekat telinga Allura.
Gadis itu menyipitkan matanya saat mendengar pertanyaan dari sang mertua, ia tidak mengerti dengan arah pertanyaan itu.
"Melakukan apa, Ma?" tanya Allura.
"Jangan malu-malu. Mama hanya ingin mengetahuinya saja." Nyonya Fika mengibas-ibaskan tangannya.
"Ck, kamu ini ... masa hal seperti itupun harus Mama jelaskan." Nyonya Fika mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Allura dan berbisik sesuatu di sana.
Allura membulatkan mata dan mengatupkan bibirnya ketika mendengar bisikan dari Nyonya Fika. Ia masih belum mengerti kenapa mertuanya bisa sampai berbisik hal seperti itu.
"Ke–kenapa Mama mempertanyakan hal itu? A–aku dan Mas Arzan belum berbuat sejauh itu," kilah Allura dengan cepat. Ia tidak ingin Nyonya Fika semakin menggodanya dengan berbagai prasangka yang berbeda dengan kenyataannya.
"Kenapa kamu menutupinya, Ra? Padahal, Mama tidak masalah jika kamu dan Arzan sudah melakukannya. Lagi pula, itu hal wajar bagi pasangan suami istri yang baru menikah seperti kalian berdua," ucap Nyonya Fika pelan.
"Ti–tidak, Ma. sungguh." Allura kembali menggelengkan kepalanya.
"Benarkah? Wah ... padahal Mama sudah sangat mengharapkan cucu baru dari kalian," tanggap Nyonya Fika sambil sedikit menekuk wajahnya dan memperlihatkan raut kecewa. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan sama sekali tentang keturunan karena baginya Bintang juga masih kecil dan belum sepantasnya memiliki adik.
__ADS_1
Allura tersenyum kaku saat mendengar dan melihat raut wajah kecewa dari mama mertuanya. Namun, untuk saat ini yang masih belum berpikiran mempunyai anak sendiri. Baginya, Bintang masih kecil dan ia ingin memberikan perhatiannya dulu pada anak sambungnya, sebelum nanti ia memiliki anak sendiri.
"Mama jangan berpikir seperti itu. Bintang masih kecil dan masih memerlukan perhatian lebih dariku. Jadi, mungkin aku akan menunggu beberapa tahun untuk mempunyai anak. Aku ingin fokus merawat Bintang dulu," jawab Allura sambil menyentuh tangan mama mertuanya.
"Hmmm, tidak apa-apa, Ra. Mama paham. Dan ... ya, kamu benar. Bintang masih kecil dan masih memerlukan perhatian lebih darimu. Terima kasih karena kamu sudah menyayanginya, layaknya anak sendiri," ucap Nyonya Fika sambil memeluk sang menantu.
"Bintang juga putra Lura, Ma. Dia putra pertamaku. Jadi, sudah wajar saja aku memikirkan bagaimana perasaannya dan memutuskan apa yang terbaik untuknya," jawab Allura seraya membalas pelukan Nyonya Fika.
Pelukan mereka baru terlepas ketika Arzan dan Bintang ikut bergabung di sana. Sepasang ayah dan anak itu nampak baru bangun dari tidur siangnya.
"Ada hal mengharukan apa, Ma? Kenapa kalian berpelukan?" tanya Arzan seraya mendudukan tubuhnya di salah satu sisi sofa seberang istri serta mamanya.
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya sedang menikmati pembicaraan kami saja," jawab Nyonya Fika yang kembali berfokus pada layar televisi.
Allura sendiri hanya mengulum senyumnya saat melihat Arzan yang tidak puas mendengar jawaban sang mama.
"Sayang, memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Arzan pada sang istri, ia masih sangat penasaran karena melihat Allura dan mamanya berpelukan tadi.
"Ti–"
"Zan, sejak kapan kamu menjadi pria yang begitu ingin mengetahui tentang sesuatu secara mendetail?" tanya Nyonya Fika pada anaknya. Bahkan, ia memotong perkataan yang hendak di ucapkan Allura.
"Sudahlah, Zan. Kamu tidak perlu mengetahui tentang pembicaraan Mama dan istrimu. Papa saja yang dari tadi duduk di sini tidak mendengarkannya," imbuh Tuan Anderson yang sedari tadi sibuk dengan tab ditangannya.
Ya, Allura dan Nyonya Fika melupakan kehadiran Tuan Anderson di sana. Kedua wanita itu larut dalam pembicaraan mereka tadi.
Arzan hanya bisa menghela napasnya sesaat, ia pun tak lagi bertanya dan sibuk dengan Bintang yang kini ingin berdiri di pangkuannya.
__ADS_1