Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 21


__ADS_3

Setelah memakan waktu hampir satu jam lamanya, Allura dan Arzan kini sampai di kediaman Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah. Tadinya Nyonya Fika tidak akan lama tinggal di Negara I, tetapi setelah melihat rumah tangga anak dan menantunya yang di ambang kehancuran, akhirnya ia pun memutuskan untuk menetap di sana.


"Welcome home, my grandson," ucap Nyonya Fika seraya mengambil alih Bintang dari gendongan Allura. Tidak lupa, ia juga mengajak Ibu susu bintang untuk masuk ke dalam.


"Selamat datang di rumahku, Allura. Semoga kamu betah bekerja di sini," ucap Nyonya Fika pada Allura.


Allura menanggapi ucapan Nyonya Fika dengan anggukan kepala disertai senyuman manis.


"Terima kasih, Nyonya."


Sebelum mereka masuk ke dalam rumah, Arzan memilih untuk segera kembali ke kantor. Sedari tadi Edwin terus-menerus menghubunginya.


"Ma, aku sudah menjemputnya. Sekarang aku pamit kembali ke kantor," pamit Arzan pada Nyonya Fika.


Nyonya Fika yang hendak melangkah langsung berhenti dan menatap sang anak. Tadi saat ia menelepon Arzan, putranya berkata sedang tidak sibuk, tapi kini anaknya itu tiba-tiba pamit begitu saja dengan alasan ada pekerjaan mendadak dan hal itu tidak biasa di mata Nyonya Fika.


Ada apa dengan Arzan? Bukankah tadi dia sendiri yang menawarkan diri untuk menjemput anak dan ibu susunya? Lalu, kenapa sekarang pergi begitu saja? Sudahlah, mungkin dia memang benar-benar sedang terburu-buru, batin Nyonya Fika. Meskipun dirinya merasa sedikit heran, tapi tidak membuat Nyonya Fika untuk bertanya lebih lanjut pada Arzan dan memilih membiarkan sang anak untuk kembali bekerja.


Setelah melihat mobil Arzan yang kembali melaju di jalan raya, Nyonya Fika pun kembali mengajak Allura untuk masuk ke dalam rumahnya.


Rumah Nyonya Fika sangat besar dan mewah, ini pertama kalinya Allura melihat rumah seperti itu secara langsung, biasanya ia hanya melihat rumah besar dan mewah itu lewat TV saja. Namun kini, rumah megah itu terpampang nyata di depannya.


"Ayo, Lura!" ajak Nyonya Fika yang menyadari langkah Allura yang terhenti di belakangnya.

__ADS_1


Allura yang masih melihat takjub rumah itu langsung menoleh begitu Nyonya Fika mengajaknya.


"Oh, i–iya, Nyonya," jawab Allura dengan terbata-bata.


Setelah kemarin mereka bertemu, Allura memutuskan untuk memanggil Nyonya Fika dengan sebutan 'nyonya'. Ya, itu semua karena ia sadar diri, dia hanya orang yang tengah menggadaikan jasanya demi uang.


Allura mengikuti langkah Nyonya Fika yang mulai memasuki rumahnya. Lagi-lagi Allura dibuat terpukau oleh pemandangan di dalam rumah megah itu. Guci serta lukisan-lukisan mahal menyambut kedatangannya.


Wah, benar-benar seperti rumah yang ada di dalam sinetron saja, batin Allura seraya berdecak kagum.


Nyonya Fika terus mengajaknya melangkah masuk ke dalam menuju kamar tempat di mana ia dan cucunya akan tidur.


"Ini kamarmu dan Bintang. Aku sengaja tidak memisahkan kalian agar kamu lebih mudah jika Bintang ingin menyusu saat malam hari," ucap Nyonya Fika sambil membukakan salah satu kamar yang berada di dekat tangga.


Tak hanya sampai di situ, di kamar itu juga terdapat rak buku yang berisikan buku-buku dongeng untuk ia bacakan pada Bintang.


Semua perlengkapan bayi milik Bintang sudah tersedia di sana. Meskipun saat itu Bintang lahir secara tiba-tiba, tapi semua perlengkapannya sudah tersedia sejak jauh-jauh hari. Nyonya Fika sempat mempunyai firasat jika cucunya akan lahir di bulan ketujuh, sama seperti Arzan, papanya. Jadi, ia menyiapkan semua itu tanpa sepengetahuan anak serta suaminya.


"Nyonya, bukankah fasilitas ini terlalu mewah untuk saya yang hanya ibu susunya saja?" tanya Allura yang merasa sungkan terhadap semua yang dilakukan oleh Nyonya Fika terhadapnya.


Nyonya Fika menggeleng dengan cepat, dia menampik pertanyaan yang diajukan oleh Allura.


"Tidak, Lura. Kamu berhak diperlakukan istimewa di sini karena pekerjaanmu pun istimewa," jawab Nyonya Fika.

__ADS_1


Allura tersenyum kaku mendengar jawaban Nyonya Fika, ia masih merasa pekerjaannya saat ini adalah hal yang tabu dan aneh di mata orang banyak.


"Terima kasih, Nyonya. Saya akan melakukan pekerjaan saya sebaik mungkin," ucap Allura dengan bersungguh-sungguh.


Meskipun saat ini pekerjaannya mungkin merupakan pekerjaan yang aneh, tapi Allura tidak akan mundur begitu saja. Bukan hanya karena uang dia bertahan, tetapi karena hatinya yang meminta dia untuk terus berada di sisi Bintang. Allura sangat menyayangi anak asuhnya.


Nyonya Fika membiarkan Allura dan Bintang untuk beristirahat sejenak dari rasa lelah mereka, sedangkan ia sendiri keluar dari kamar itu.


Sepeninggalan Nyonya Fika, Allura segera menyusui Bintang kembali. Bayi itu seakan mengerti, jika ada ibu susu di dekatnya, ia tidak akan mau minum ASIP. Namun, saat Allura tidak ada di sampingnya, bayi itu langsung menerima ASIP begitu saja tanpa ada drama menangis atau tindakan penolakan lainnya.


Selesai menyusui Bintang, Allura tidak lupa untuk menangkupkan bayi itu di dadanya sambil menepuk pelan punggungnya agar bersendawa. Hingga tak lama kemudian, Allura mendengar bayi itu sendawa, Allura terkikik geli. Lantas, ia pun mencium kening Bintang.


"Anak pintar, kenyang ya, miminya?" tanya Allura yang dijawab senyuman oleh bayi yang baru berusia dua minggu itu.


Ada rasa kebanggaan tersendiri untuk Allura, ia bangga karena dirinya bisa mengurus bayi itu dan memberikan asupan nutrisi untuknya. Di tambah lagi, dia bukan pecinta makanan pedas. Jadi, Allura sama sekali tidak keberatan saat dokter memintanya untuk tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung capsaicin itu.


Setelah Bintang merasa kenyang, kini bayi itu mulai terlihat kembali mengantuk. Allura segera memangku—nya sebelum bayi itu menangis dan benar saja, belum ada sepuluh menit Allura menimangnya, bayi itu sudah mulai terlelap.


Allura terus menimang bayi itu sampai benar-benar tertidur pulas. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun menyimpan Bintang di atas kasur yang sudah dilapisi oleh karpet bayi. Allura sengaja tidak memakaikan Bintang pampers karena masih terlalu kecil, ia memilih untuk selalu mengganti popoknya saja. Toh lagi pula bayi itu masih harus dia bedong.


Allura sadar, dirinya banyak belajar dari Bintang. Gadis itu mulai mempelajari semua tata cara mengurus bayi lewat Bintang. Allura yakin, jika dia tidak mengurus Bintang, maka, kemungkinan dia juga tidak akan mempelajari semua tata cara mengurus bayi seperti sekarang.


Bintang benar-benar mengajarkan sesuatu yang berharga untuknya, Allura mendekap bayi mungil itu dan ikut terlelap bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2