
Arzan, Allura, Nyonya Fika dan Tuan Anderson segera melesat ke tempat di mana kontrakan Rivera berada. Tentunya setelah tadi mereka menitipkan Bi Endah yang ditemukan pingsan oleh warga.
Allura tidak hentinya menangis saat mengetahui Rivera sudah mengambil Bintang darinya. Wanita itu sangat takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada bayi yang sudah ia anggap layaknya putra sendiri. Apalagi Allura sangat mengetahui kondisi kelemahan Bintang, dia tahu jika Rivera pasti akan memberikan susu formula pada anaknya, sedangkan Bintang sendiri tidak bisa menerimanya karena alergi yang ia derita.
"Mas, apa perjalanannya masih lama?" tanya Allura dengan tidak sabar.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah gang sempit menuju rumah kontrakan Rivera, jaraknya lumayan jauh dari jalan raya. Jadi, hal itu cukup menyulitkan mereka. Bahkan, sulit juga dilalui oleh kendaraan roda dua.
"Sabar, sayang. Kita hanya perlu melewati dua tikungan lagi sebelum sampai di sana," jawaban Arzan sambil melihat ponsel yang ia gunakan untuk menemukan alamat kontrakan Rivera.
Nyonya Fika dan Tuan Anderson pun tidak kalah khawatirnya pada cucu pertama mereka. Bagaimana tidak, meskipun Rivera adalah ibu kandung Bintang, tapi mereka mengetahui jika Rivera sama sekali tidak menginginkan bayi itu.
Ya Tuhan, semoga cucuku baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk padanya, batin Nyonya Fika seraya mempererat genggaman tasnya.
Setelah melewati tikungan, keempat orang itupun sampai di sana. Namun, mereka harus kecewa karena ternyata Rivera tidak ada di kontrakannya. Bahkan, pintu rumah Rivera juga terbuka lebar dengan keadaan rumah yang berantakan.
"Mas, kenapa Nyonya Vera tidak ada di rumahnya?" tanya Allura setelah ia memanggil nama Rivera beberapa kali.
"Aku juga tidak tahu, Ra."
"Zan, kamu yakin ini kontrakan wanita rubah itu?" tanya Nyonya Fika seraya memerhatikan sekeliling kontrakan dengan suasana gelap dan sedikit menyeramkan.
"Iya, Ma. Menurut anak buahku, dia sudah tinggal di sini sejak dua bulan lalu," jawab Arzan.
Saat mereka sedang kebingungan, tiba-tiba tetangga yang tadi sore memergoki Rivera membawa bayi pun datang. Dia merasa sedikit terganggu karena mendengar teriakan dari tamu yang bertandang ke rumah tetangganya.
"Tuan, Nyonya, apa yang sedang kalian lakukan? Bukankah ini sudah malam, kenapa kalian ribut di sini?" tanya tetangga itu.
__ADS_1
"Maaf, jika kedatangan kami mengganggu, Bu. Tapi, kami sedang mencari penghuni kontrakan ini. Dia sudah menculik cucuku," jawab Tuan Anderson.
Ibu-ibu itu menatap lekat keempat orang di depannya, dia terus memperhatikan orang-orang yang baru saja mengganggu istirahatnya.
"Tunggu, maksudmu wanita yang bernama Vera?"
"Benar, Bu. Apa Ibu tahu di mana dia sekarang?"
Ibu ibu mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. "Oh, dia tadi lari ke arah jalan raya sambil membawa bayi itu. Dia juga mengatakan jika bayi itu adalah jaminan masa depannya. Saya juga tidak mengerti dengan ucapannya, tapi saya sempat melihat jika bayi itu banyak dipenuhi bintik-bintik di wajahnya," jawabnya.
Allura dan Nyonya Fika sontak terkejut ketika mendengar jawaban dari ibu itu. Dari awal mereka sudah sangat khawatir dengan keadaan Bintang, tapi kini mah kekhawatiran mereka semakin bertambah setelah mendengar tentang wajah Bintang yang dipenuhi bintik merah.
"Ra–"
"Ma, Bintang alergi susu sapi. Jangan-jangan Nyonya Vera sudah memberikannya susu formula itu?" Allura menutup mulutnya karena terkejut.
Tanpa menunggu lama, Arzan, Allura, Nyonya Fika dan Tuan Anderson pun pamit dari hadapan ibu itu. Keempat orang itu pun kembali melewati gang sempit menuju jalan yang ditunjukkan oleh ibu-ibu tadi.
Allura dan Nyonya Fika tidak henti-hentinya mengucap kata istighfar untuk menenangkan hati mereka. Kedua wanita itu sangat mencemaskan keadaan Bintang saat ini.
Dari kejauhan arisan melihat beberapa orang polisi tengah menyeret seorang wanita yang sangat ia kenal.
Bukankah itu Rivera? Kenapa dia digiring polisi? tanya Arzan sambil mempercepat langkahnya.
"Zan, bukankah itu Rivera?" tunjuk Tuan Anderson pada sang anak.
"Iya, Pa. Itu Rivera. Ayo, kita hampiri dia." Arzan menggandeng tangan Allura agar mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Sesampai di depan mobil polisi, Arzan segera menghentikan mobil polisi yang hendak melaju itu.
"Tunggu, Pa. Maaf mengganggu. Tapi, kenapa Bapak membawa dia?" tanya Arzan setelah polisi itu turun dari mobilnya.
"Apa Anda mengenalnya, Tuan? Dia baru saja mendapatkan tuduhan sebagai penculik, saat ini bayinya sedang kritis di dalam sana," jawab polisi itu seraya menunjuk ke dalam Puskesmas.
"Apa?!" seru Allura dan Nyonya Fika secara bersamaan. Lantas, kedua wanita berbeda generasi itu cepat-cepat masuk ke Puskesmas tempat dimana Bintang berada.
Di sana mereka tercengang melihat kondisi Bintang yang sudah sangat memprihatinkan. Allura tak bisa membendung air matanya, wanita muda itu menangis sejadi-jadinya.
"Bintang ...." Allura segera menghampiri brankar yang ditempati oleh Bintang, ia bahkan tak melirik dokter yang sedang duduk di mejanya.
"Nona, Anda siapa? Apakah Anda ibu dari bayi ini?" tanya dokter anak itu sambil berdiri di samping Allura.
"Be–benar, Dok. Dia ... dia adalah putraku," jawab Allura dengan terbata-bata. Meskipun pada kenyataannya Bintang bukan darah dagingnya, tapi Allura begitu mencintai bayi itu.
"Dokter, apa yang terjadi pada cucuku? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" tanya Nyonya Fika.
"Dia mempunyai alergi protein susu sapi. Tapi, sepertinya orang yang bersamanya tadi tidak sengaja memberikannya susu formula itu."
Nyonya Fika mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya begitu memuncak pada Rivera setelah mendengar jawaban dari dokter yang menjaga Bintang.
*B*erani-beraninya wanita rubah itu menyakiti cucu keluarga Ravindra. Awas saja, aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja, batin Nyonya Fika.
Allura pun segera meminta dokter itu untuk membantunya membawa Bintang ke rumah sakit terdekat agar mendapatkan perawatan intensif. Dia tidak ingin penyakit yang dialami oleh bintang semakin parah, sedangkan Rivera sendiri sudah digiring ke kantor polisi dan Arzan pun tidak memedulikannya lagi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Double up, kakak kakak 🤗...