Ceoku Mantanku Suamiku

Ceoku Mantanku Suamiku
BAB 11


__ADS_3

" Kamu sedang apa disini ? " tanya Bella. Kedua pria itupun menoleh bersamaan.


" Aku kesini mau antar kamu kerja " jawab Dimas


" Ayo berangkat " sahut Barra


" Sorry ya dim gue duluan , soalnya gue udah janjian dulu sama Barra. Lo gak apa-apakan ?"


" Lo balikan sama dia? " tanya dimas


" Nggak dim "


" Iya "


Jawab Barra dan Bella secara bersamaan. Bella menoleh kearah Barra.


" Nggak dim. Gue kemaren keluar kota sama dia terus mobil gue ada di perusahaan jadi Barra jemput gue " ucap Bella


" Oh oke. Lo hati-hati dijalan gue duluan. Ntar makan siang bareng ya kemaren belum sempat ngobrol " Dimas berlalu dari sana . Dimas tau jika Bella masih mencintai Barra. Meskipun Dimas juga mencintai Bella tapi Dimas tidak mau mengungkapkan perasaannya. Dimas tidak mau persahabatannya hancur jika dia mengungkapkan perasaannya.


Bella masuk kedalam mobil Barra. Sepanjang perjalanan hening tidak ada yang bicara. Hanya pikiran mereka yang sedang berkejambuk dengan isi hati masing-masing.Setibanya di kantor banyak bisik-bisik tetangga tentang hubungan mereka yang terlihat cukup akrab. Apalagi kini mereka berangkat bersama menggunakan mobil yang sama. Dan Barra sendirilah yang mengendarainya tidak menggunakan sopir.


*apa mereka pacaran


biasanya kan kalau pergi pak agra pasti bersama reno bukan si enoh


pasti yang cewek kecentilan seraya pak nos muda gantik abis*


Begitulah kira-kira suara sumbang para karyawan yang masih terdengar oleh Barra dan Bella. Jika Bella merasa risih tapi berbeda dengan Barra yang nampak biasa saja .


" Sudah tidak usah didengarkan . Apa perlu aku pecat mereka ? Aku blacklist sekalian biar tidak ada yang mau menerima mereka bekerja !" ucap Barra karena kasian dengan Bella yang merasa tidak nyaman dengan ucapan karyawannya. Barra pun hendak berbalik badan menegur karyawannya tapi Bella sudah menghentikan langkahnya.


"Tidak perlu biarkan saja . Lagian aku juga gak apa-apa " tegas Bella meskipun dalam hati merasa kesal.

__ADS_1


" Jika merasa tidak nyaman katakanlah padaku "


Bella hanya tersenyum seraya mengangguk menanggapi ucapan Barra. Kemudian mereka melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan Ceo. Baru sampai dilantai 30 mereka sudah disambut kedua anak curut pengganggu kenyamanan dan biang rusuh.


" Pacaran mulu gue udah kayak yang jadi bos ini itu gue semua. Dasar bos gak tau diri " ucap Reno mengungkapkan kekesalannya. Karena Barra menyerahkan pekerjaannya kepada Reno. Sebenarnya ke kota B kemaren bersama Reno tapi Barra menolak karena dia ingin bersama Bella supaya lebih dekat. Sedangkan Bella berlalu begitu saja tanpa peduli dengan ke tiga pria tersebut.


" Hay cantik kenalan dong " Sapa Jordan saat Bella melewatinya


" Gue colok mata lo "kata Barra seraya berjalan menuju ruangannya


" Ya elah berjanda Bar. Tapi kalau dia mau gue ayok-ayok ajh " jawab Jordan disambut tawa Reno dan Jordan. Mereka berdua sangat menyukai menjahili sahabat satunya ini.


" Jangan macam-macam gue kirim ke afrika lo mau ?!"


" Janganlah Bar gue kesini pengen kumpul bareng kalian. Ntar malam ke club xx yuk cari angin "


" Sini gue kentutin kalau mau cari angin " sehingga tawa Barra dan Reno terdengar.


" Gimana disana udah beres ?" tanya Barra yang sudah mulai serius.


" Udah makanya gue balik . Tapi kalau ceweknya kita harus hati-hati dia pasti enggak bakalan diam. Cewek ular " Kata jordan


" Yang penting kita harus jaga-jaga supaya tuh cewek gak banyak tingkah. Udah eneg gue mah tuh cewek muna. Sok polos " ucap Bara sambil begidik ngeri


" Yang penting sekarang gimana lo sama Bella ? Lo sampai nginep di sana enggak ada dalam rencana. Lo emm udah itu ?" tanya Reno hati-hati


" Lo gak usah pura-pura bego. Di sana ada bencana susah sinyal. Gak usah sok nanya lo pasti tau gue gimana. Gue emang cinta sama Bella tapi gue enggak segila itu kambing " jelas Barra.


" Ya meskipun gue ingin " tambah Barra


" Iya gue tau pasti si ono sesak napas didalam ruangan bersama cewek cantik mana bodynya . Terus cuaca dingin hujan lagi " timpal Jordan seraya membayangkan yang iyak-iyak


" Itu kalau elu. Pasti tuh cewek kagak aman. Secara otak lo udan dipenuhi yang namanya diantara dua kaki. Ke sono mulu pikiran lo heran gue. Bisa-bisanya lo lulusan kedokteran, takut gue kalau padiennya cewek ntar malah hamil semua " uacap Reno. di sambut gelak tawa Barra dan Reno

__ADS_1


" Lo pikir gur dokter Cabul. Kelakuan gue emang minus tapi kalau masalah pekerjaan gue itu harga diri gue " tungkas Jordan


" Syukurlah kalau lo masih punya setitik harga diri. Cuma kalau malu lo kayaknya kagak punya " jawab Barra


" Dia punyanya cuma kemalu*n " tambah Reno. Tawa ketiga pria tersebut pecah seolah melepas rindu karena jarang bertemu meskipun hanya beberapa bulan. Ketiganya lanjut mengobrol hingga jam makan siang tiba . Mereka bertiga memutuskan untuk makan siang bersama di restoran dekat kantor. Karena pekerjaan Barra sebenarnya menumpuk.


" Mau makan siang bareng Bel ?" tanya Jordan . Barra hanya melirik sekilas ke arah Jordan kesal kenapa dia perhatian kepada Bella.


" Tidak usah pak saya akan makan diluar bersama teman saya " tolak Bella halus


" Gak boleh ! Makan bareng kita saja sekalian " seru Barra sebab dia tahu Bella akan makan bersama Dimas.


" Maaf saya sudah ada janji dengan teman saya . Permisi " pamit Bella tanpa menghiraukan ketiga pria tampan tersebut.


" Ikuti dia " perintah Barra


" Dasar bucin akut"


" Dasar posesif "


Kata Jordan dan Reno bersamaan kemudian terkikik geli dengan sikap Barra yang cemburu seperti remaja


Bella menuju lobby di sana sudah ada sisil juga. Mereka akan makan siang bertiga bersama Dimas. Keduanya berdiri di lobby untuk menunggu jemputan dari Dimas . Tak berselang lama mobil dimas pun kelihatan hilalnya. Kemudian mereka makan di warung seblak bukan restoran. Karena Bella sangat menyukai makanan pedas. Barra dan ke tiga temannya terbengong kenapa makan di tempat biasa pikir kedua sahabat Barra. Jika Barra sudah terbiasa dengan segala hal tentang Bella.


" Lo mau makan disitu ? " tanya Reno. Karena setau Reno Barra tidak suka makanan pedas. Tapi saat bersama Bella kadang Barra memaksakan untuk tetap memakannya.


" Lo bosan hidup ?" tambah Jordan. Jika Barra makan makanan pedas pasti Jordanlah yang jadi repot karena Barra tidak mau kerumah sakit. Bagi Barra apa gunanya memiliki sahabat dokter jika tidak dimanfaatkan. Sedangkan yang ditanya bingung sendiri. Jika dirinya turun nanti dia tumbang sebab masih banyak pekerjaan menumpuk. Tapi di sisi lain dia juga ingin mengikuti Bella karena rasa cemburunya terlalu besar.


Apakah Barra memilih untuk mengikuti Bella? Atau memilih memikirkan kesehatannya.


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Matur nuwun

__ADS_1


__ADS_2