
Bella dan Barra melajukan mobilnya untuk menemani sahabatnya . Bella tahu betul jika kini Sisil sedang tidak baik-baik saja.
" Sayang memangnya Sisil mau kemana ?" tanya Barra hati-hati
" Mau ke bandara katanya nyusul in Reno . Tadi dia sudah ke apart Reno tapi tidak ada . Dan ada petugas kebersihan juga mengatakan kalau Reno tidak lagi tinggal di sana " jelas Bella .
" Iya memang . Reno pindah ke rumah barunya yang baru saja dia beli . Dia mau ke Amsterdam tapi kedua orang tua Reno justru akan ke sini . Jadi Reno belum tahu kapan akan ke sana . Mungkin kalau dia ke bandara ke sana sekarang dia akan menjemput kedua orang tuanya " jelas Barra
Bella mencerna penjelasan Barra . Jadi Sisil sekarang sedang ke bandara dan dia mengira jika Reno yang akan pergi ke Amsterdam .
" Jadi kita kemana?" tanya Barra lagi karena Bella hanya diam saja.
" Ke bandara . Sisil sudah ke sana " ucap Bella .
Menempuh perjalanan sekitar 1 jam akhirnya mereka sampai di bandara . Bella segera turun dan mencari keberadaan Sisil . Di sana terlihat dari jauh bahwa Sisil sedang memeluk Reno dengan isak tangisnya .
" Jangan pergi . Maaf selama ini aku tidak memberi kepastian tentang perasaanmu . Aku juga mencintai mu . Tapi aku masih ragu dengan perasaan ku sendiri . Setelah melihat beberapa hari ini kamu menghindar terus dari aku . Aku merasa ada yang hilang " ucap Sisil yang masih berada di pelukan Reno .
Reno hanya diam tak bergeming . Dia masih mencerna apa yang baru saja dia dengar . Koper ke dua orang tuanya juga masih dia genggam dengan erat . Kedua orang tua Reno yang berada tidak jauh darinya juga mendengar pernyataan Sisil . Dan mereka tersenyum melihat kedua anak muda itu .
" Aku tidak akan pergi " ucap Reno seraya tersenyum simpul penuh arti .
__ADS_1
" Benarkah ? Lalu kenapa kamu di sini ?" tanya Sisil heran seraya mengeriyitkan keningnya .
" Aku di sini menjemput ke dua orang tua ku " jawab Reno ragu seraya tersenyum manis .
Sisil lalu menegakkan tubuhnya . Dia mengusap air matanya dengan kasar . Saat ini rasanya Sisil ingin lari sejauh mungkin dari sana .Malu ? Ya itu yang dia rasakan saat ini .
" Hallo cantik . Perkenalkan saya mamanya Reno " ucap Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Sisil tersenyum kikuk masih belum yakin dengan apa yang terjadi tadi .Namun dia tetap menerima uluran tangan mamanya Reno .
" Sisil tante " jawabnya .
Barra juga ikut tersenyum melihat tingkah konyol sekretarisnya itu .
Mereka lalu mendekati Sisil dan juga Reno .
" Gimana ?" tanya Bella seraya menahan senyumnya .
" Aa gue malu " ucap Sisil lalu memeluk Bella menyembunyikan wajahnya .
Remo lalu mendekati Sisil dan menggenggam tangannya .
__ADS_1
" Tidak usah malu . Jika tidak seperti ini mungkin kita selamanya akan seperti ini " ucap Reno mencoba menenangkan Sisil .
Sisil hanya menganggukkan kepalanya . Wajahnya memerah masih menahan malu karena ulah nya . Harusnya tadi dia bertanya dulu tidak langsung seperti itu . Tapi apa yang di katakan Reno ada benarnya .
" Tapi aku malu " ucap Sisil
" Gaya gayaan lo . Malu segala " ledek Bella .
" Hai om tante . Selamat datang " sapa Barra kepada ke dua orang tua Reno .
Mereka saling peluk . Ya karena mereka juga sudah seperti orang tua dan anak .
" Kamu sekarang sudah beristri dan sebentar lagi akan menjadi ayah " ucap mamanya Reno seraya mengelus pipi Barra dengan lembut .
" Terima kasih karena kamu sudah menampung anak ini " ucapnya lagi .
" Tante jangan sungkan . Barra sudah menganggap kalian juga kedua orang tua Barra sendiri " jawab Barra tulus .
" Kamu memang yang ter baik " ucap papanya Reno seraya memeluk Barra .
Perusahaan yang dia bangun dengan jerih payahnya sendiri tiba-tiba saya bangkrut karena ulah saudara tirinya . Tapi dengan bantuan keluarga Barra , mereka bisa memulai kembali usaha mereka .
__ADS_1