
*ting
suara pintu lift terbuka
deg deg deg
suara detak jantung Bella.
belum siap ? iya belum. Tapi tetap harus siap*
Bella dan Sisil berjalan mendekati meja kerja mereka. Bella duduk di ruangan sekertaris di depan ruangan Barra. Sisil disini membantu Bella untuk menggantikan mbak meisya karena dia cuti melahirkan. Tapi jika mbak meisya tidak kembali bekerja dia akan tetap disitu membantu Bella perintah dari Reno. Keduanya duduk diam dalam pikurannya masing-masing karena dari dalam ruangan pak Bos tidak terdengar oleh suara orang yang sedang berbicara. Apa mereka sedang ? ah sudahlah hanya mereka yang tau.
Di dalam ruangan Barra. Di dalam ruangan ini Barra, Reno dan juga seorang yang tiba-tiba datang. Jika Jordan dia memutuskan untuk pulang. Dia merasa bosan jika harus melihat orang bekerja. Dan juga sebenarnya dia diusir oleh kedua sahabatnya karena hanya menganggu pekerjaan.
" Bar gue sayang sama lo "
" Cukup gue dulu gak kenal sama lo. Sekarang juga gak kenal sama lo. Bagi gue lo cuma butiran debu " sarkas Barra
" Bar gue ngelakuin itu karena gue cinta Bar sama lo. Bella beneran selingkuh dari lo " ucap gadis itu dengan menggebu.
__ADS_1
" Siapa yang nyuruh lo masuk. Pecat orang yang ijinin cewek ular ini kesini " teriak Barra
Jika sudah seperti ini Reno hanya diam. Karena jika tanduk Barra sudah keluar maka tidak ada yang berani mendekatinya. Menurut Reno Barra itu sama dengan iblis.
" Baik tuan " ucap Reno
" Panggil keamanan seret wanita ini keluar dari ruangan saya. Jika wanita ini kembali kesini pecat mereka yang tidak becus mencegatnya. Jangan sampai wanita ular ini menginjakkan kakinya disini " titah Barra dengan sorot mata tajam
" Bar aku mau sama kamu . Barra " Raya bangkit dari tempat duduknya berusaha mendekati Barra. Ya gadis itu adalah Raya . Wanita yang membuat hubungan Barra dan Bella renggang bahkan putus. Dengan sigap Reno mencegahnya, sebelum iblis dalam tubuh Barra bangun.
*ceklek
Raya memberontak setelah dua petugas keamanan datang dan menyeretnya keluar. Raya masih berteriak dan memanggil nama Barra tapi Barra tidak menghiraukannya. Barra memijit pelipisnya yang terasa pusing. Kenapa bisa wanita itu datang lagi ? pikirnya. Tapi Jordan juga sudah mengingatkannya jika wanita itu tidak akan tinggal diam
Bella dan Sisil melihat wanita itu. Raya syok melihat Bella juga disini bahkan bekerja bersama Barra. Bella menatap Raya dengan entah apa itu artinya. Bella hanya menatapnya penuh ekspresi. Sebelum Barra keluar dan menarik tangannya untuk meninggalkan perusahaan. Mereka keluar dari gedung melalui pintu lain yang langsung menuju ke basemant ( bukan pintu doraemon ya ).
" Kamu apa-apaan sih narik tangan aku gitu ajh. Kalau ada yang melihat bagaimana ? Lagian pekerjaanku masih banyak " cerocos Bella dengan kesalnya, meskipun dalam hatinya juga ingin tahu apa yang akan di lakukan Barra. Sedangkan Barra tidak menjawabnya langsung membawa Bella masuk ke dalam mobil.
" Dasar robot. Ditanya bukannya jawab malah kayak patung gak bisa ngomong " kesal Bella. Barra hanya melirik sambil tersenyum tipis. Karena gadisnya itu selalu cerewet dan menggemaskan menurutnya. Mobil itu terus berjalan menuju apartemen milik Barra yang tidak pernah Barra kunjungi. Dulu apartemen itu sering Barra dan Bella kunjungi,meskipun hanya untuk makan bersama dan Bella lah yang memasak untuk mereka berdua.
__ADS_1
" Untuk apa kita kesini? " tanya Bella seraya menatap gedung tinggi itu
" Turunlah " tegas Barra seraya membukakan pintu mobil Bella. Bella hanya menghela napasnya kasar. Tapi dia juga mengikuti Barra . Keduanya menaiki lift dengan hening tanpa ada yang berkata. Bella diam dengan pikirannya begitu juga Barra.
" Masuklah " perintah Barra setelah mereka sampai didepan pintu apartemen. Bella menoleh kearah Barra sebelum masuk kedalam ruangan yang penuh dengan kenangan itu. Canda tawa yang sering mereka lakukan di dalam ruangan yang sangat luas dan mewah itu. Saksi bisu perjalanan cinta mereka. Yang kelak akan mereka jadikan tempat tinggal mereka setelah menikah sebelum memiliki anak. Rumah sebenarnya mereka juga sudah memilikinya ,semuanya sudah terencana dan siap. Akan tetapi angan-angan itu harus berakhir karena kesalahpahaman mereka.
Barra memeluk Bella dari belakang seraya meletakkan dagunya di pundak Bella sambil memejamkan matanya. menghirup wangi yang cukup lama dia rindukan. Bella terkaget dengan perlakuan Barra tapi dia diam saja sebab dirinya juga rindu dengan pelukan ini.
" Aku ngajak kamu kesini supaya kita tidak ada salah paham lagi. Jadi aku mohon dengarkan aku dulu " ucap Barra. Tidak ada jawaban dari Bella karena dia sebenarnya juga ingin tahu kebenarannya.
" Ayo duduk disini " ajak Barra sambil menggandeng tangan Bella. " Aku ambilkan minum dulu "
" Gak usah langsung saja. Mau ngomong apa?" tungkas Bella
" Minum dulu nanti baru ngomong biar lebih nyaman "
" Terserah " putus Bella
" Ini minum dulu " ucap Barra seraya meletakkan dua minuman kaleng. " Hanya ada itu gak apa-apakan. Aku juga jarang kesini , kalau rindu kamu pasti kesini . Dulu setelah kita bertengkar kamu memutuskan untuk pergi. Aku mencarimu ke rumahmu tapi om mawan tidak mau memberitahu. Setelah itu ayah menyuruhku untuk mengurus perusahaan yang berada di negara A. Ayah tidak bisa dikarenakan kondisi ayah saat itu kurang sehat " Barra menjeda ucapannya lalu meneguk minuman kaleng miliknya. Bella hanya diam mendengarkan tanpa ada niat untuk menjawab. Dia memberikan waktu untuk Barra berbicara.
__ADS_1