
Anes kini masih berada di kota jogja , Anes menikmati suasana di kota itu . Tadinya sang ayah memintanya untuk ikut kembali dengannya tapi Anes menolak , dengan alasan masih ingin berlibur di sini . Dan di sini Anes berada di sebuah tempat yang terkenal di sana , yaitu Malioboro . Anes berputar putar mencari batik yang sesuai dengan keinginannya . Berjalan sendiri tanpa ada satu orangpun yang dia kenal sungguh membosankan . Tapi suasana yang ramah dan selalu ramai tidak membuat Anes merasa bosan . Hingga tiba tiba Anes tidak sengaja menabrak seseorang .
Bruk
" Sorry sorry . Saya tidak sengaja " ucap Anes lalu membantu orang itu mengambil barangnya .
" Oke , tidak apa apa Lain kali jika jalan lihat jalan bukan ponsel " ucapnya lalu pergi dari hadapan Anes .
" Eh tunggu kita belum kenalan " Anes mengejar orang itu
Orang itu memincingkan matanya mendengar ucapan Anes yang sekarang sudah berada di hadapannya .
" Kita belum kenalan . Emm saya di sini tidak memiliki teman . Apa kita bisa berteman " ucap Anes
" Tidak " ucap orang itu lalu berjalan berlalu dari hadapan Anes lalu masuk ke dalam mobilnya .
" Dasar sombong " kesal Anes .
Anes lalu menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan lagi melanjutkan aktifitasnya yang berburu hal yang seharusnya tidak di beli .
Di beda tempat , di sebuah perusahaan BR kini ruangan yang seharusnya di gunakan bekerja kedua anak manusia itu justru sedang menikmati segala makanan yang sangat memanjakan mata itu . Padahal Barra jam makan siang akan meeting dengan kliennya .
" Sayang aku sudah kenyang " ucap Bella yang merasa kenyang padahal dia hanya mengambil satu-satu setiap makanan itu. Yang benar dia habiskan hanya empek-empek .
" Tapi ini masih banyak sayang " ucap Barra .
" Kamu bisa kasih ke Reno juga Sisil pasti mau . Lagian itu bukan sisa masih baru " ucap Bella .
" Terserah kamu . Aku harus bersiap untuk meeting nanti " ucap Barra .
Cup
" Kecupan singkat untuk semangat "ucap Barra
Cup
Dan kini Barra mencium bibi Bella sedikit lama . Dan juga memberi sedikit ******* lembut .Bella juga turut membalas ciuman Barra itu. Setelah di rasa cukup mereka melepaskan ciuman mereka .
Barra lalu mengusap bibir Bella yang sedikit basah menggunakan jempolnya .
" Ini untuk mengisi batrai sampai nanti pulang meeting " ucap Barra dengan tersenyum dan mengedipkan matanya . Barra lalu berdiri dari duduknya dan kini benar benar bekerja . Bella memanyunkan bibirnya , lalu keluar untuk mengantar makanan tadi ke ruangan Reno dan kepada Sisil yang berada di depan ruangan Barra .
" Gue kan sudah bilang , gue gak mau .Urus aja sendiri tuh janda . Ya kali selalu gue terus yang kena semprot dari tuh orang . Lo gak inget waktu dia ngajak lo makan lo malah ngajakin gue . Dia juga ngajak anaknya ,terus anaknya manggil lo papa . Dih kalau orang denger berasa wanita peliharaan gue " kesal Sisil kepada Reno .
" Kalau gitu lo jadi cewek gue beneran " ucap Reno tanpa ekspresi
__ADS_1
" Yee enak aja . Gue gak mau yaa, lo ngomong gitu biar gue bisa bantuin lo kan . Lo pinter ngibulin ya " kesal Sisil lagi .
Bella masih berdiri di depan pintu ruangan Barra , tadinya Bella mau mendekat tapi setelah mendengar kedua manusia itu ribut Bella memutuskan untuk tidak melanjutkan langkahnya alias menguping dulu saja
" Gue serius " ucap Reno sungguh-sungguh
" Dasar muka datar . Lo bohong juga gue gak tahu . Apalagi serius " ucap Sisil yang sebenarnya juga salah tingkah dan gugup karena ucapan Reno . Namun mencoba untuk tenang .
Bella tersenyum sendiri melihat kedua karyawan Barra itu yang juga sahabat dari Bella sendiri dan Barra .
" Gue harus gimana kalau gue serius " tanya Reno sungguh-sungguh lagi .
" Gue bukan anak kemaren sore yang masih hobi pacaran ya . Gue gak mau pacaran , gue mau cari yang serius kalau lo mau main-main cuma buat janda ganjen lo itu gak ngejar-ngejar lo lagi . Cari siapa kek , jangan gue " usir Sisil lalu fokus kembali ke pekerjaannya . Reno masih setia duduk di samping Sisil .
" Terserah lo mau percaya sama gue atau tidak . Yang jelas gue gak main main sama ucapan gue " ucap Reno lalu berdiri dari tempat duduknya .
" Ehemm " Bella berdehem mendekat ke arah ke duanya .
Sisil tahu jika sahabatnya itu pasti telah mendengar perdebatan diantara dirinya juga Reno . Reno nampak biasa saja .
" Ini ada cemilan buat mengisi tenaga setelah bekerja " sindir Bella .
" Oke " ucap Reno lalu berlalu dari hadapan Bella dan Sisil.
" Dasar muka datar " kesal Bella
" Apa lo pindah aja ke perusahaan bokap ? Tapi gue lihat lo sama Reno deket " tanya Bella
" Enggak . Itu cuma karena gue nolongin dia aja . Anggap aja partner kerja " ucap Sisil yang mengambil makanan yang tadi di bawakan oleh Bella .
Bella menganggukkan kepalanya tanda setuju . Padahal tadi jika dilihat dari wajah muka Reno , terlihat kesungguhannya . Mungkin karena dulu Sisil pernah di khianati sekarang jadi lebih berhati-hati lagi dalam berhubungan . Bella cukup memaklumi itu .
Bella tadi yang bilang jika dirinya sudah kenyang , dia juga ikut memakan lagi . Karena keasikan mengobrol dengan sahabatnya itu .
" Apa lo ntar ikut meeting ? " tanya Bella sambil mengunyah makanannya .
" Enggak , paling Reno " Ucap Sisil
" Apa masih kurang makanannya ? Tadi katanya sudah kenyang kok sekarang makan lagi " tanya Barra yang ke luar dari ruangannya .
Bella tersenyum malu , karena ketahuan makan lagi .
" Tidak . Aku hanya menemani Sisil saja . Iya kan Sil ?" tanya Bella seraya melihat Sisil .
" Emm .. Iya Tuan , saya juga tidak habis jika makan sendirian " ucap Sisil kikuk .
__ADS_1
" Sayang sepertinya meeting kali ini di majukan jamnya , karena klienku ada perubahan jadwal . Kamu mau di sini atau ikut saja ? " tanya Barra kepada Bella .
" Aku di sini saja menemani Sisil . Lagian sudah lama kami tidak mengobrol " ucap Bella .
" Baiklah setelah selesai meeting kita pulang " ucap Barra lalu mengecup kening Bella tanda sayang . Setelah itu Barra menuju ruangan Reno . Reno masih memakan makanan dari Bella tadi . Bahkan sangat lahap Reno memakannya . Tidak biasanya pikir Barra .
" Apa lo satu tahun gak makan " tanya Barra yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Reno .
" Mau apa lo ke sini " tanya Reno seakan dia bosnya .
" Terserah . Mau gue bakar ini gedung juga gak ada yang bisa nuntut gue " ucap Barra kesal .
Reno yang mengerti jika Barra sedang tidak bisa di ajak bercanda , Reno lalu membersihkan makanannya . Meskipun perasaannya sedang kacau .
" Mari Bos " Reno membukakan pintunya untuk Barra .
" Lo putus cinta ?" tanya Barra yang kini keduanya sedang berada di dalam lift .
" Gue di tolak " ucap Reno seraya pandangan matanya menerawang jauh .
hahahahahaha
Gelak tawa terdengar di dalam lift itu . Barra menertawakan jarena sahabatnya ternyata ada juga yang menolaknya .
" Lo jahat " ucap Reno
" Dih jijik gue " ucap Barra
" Siapa yang sudah nolak lo ? " tanya Barra .
" Sekertaris lo " jawab Reno lesu
Seketika Barra menoleh ke arah Reno . Tidak menyangka Reno akan menyukai gadis bar bar seperti Sisil . Reno biasanya akan suka dengan wanita yang elegan , anggun dan cerdas . Bukan berarti Sisil tidak melingkupi semua itu , tapi Sisil lebih sedikit bar-bar saja .
" Lo gak bercanda ? " ucap Barra tak percaya .
Reno menganggukkan kepalanya lemah . Barra lalu menepuk pundak Reno sebagai semangat .
Setelah menempuh perjalanan ke sebuah hotel terkenal di sana . Karena kliennya memintanya untuk meeting di restoran yang berada di hotel itu , dengan alasan karena dia menginap di sana . Barra pun menyetujuinya .
" Selamat siang Tuan Barra , mohon maaf jika terjadi sedikit perubahan jadwal " ucap klien tersebut .
" Tidak masalah . Tapi tidak ada lain kali . Jika terjadi seperti ini lagi saya akan memutuskan kerjasama di antara kita . Karena saya tidak suka jika ada perubahan jadwal mendadak , itu juga akan berpengaruh juga dengan jadwal saya " tegas Barra tanpa basa basi .
Barra adalah orang yang sangat tegas dan sangat di hormati oleh siapapun . jika lelaki paruh baya di depannya ini memiliki kinerja yang bagus maka Barra akan memutuskan kontrak saat itu juga.
__ADS_1
" Sayang maaf menunggu lama " ucap salah seorang wanita yang mendekati kliennya ini . Wanita itu lalu terkejut ketika melihat Barra yang sedang meeting dengan kekasihnya itu .
Barra acuh tak merespon bahkan tidak peduli dengan hal itu .