
Barra saat ini sedang bersiap untuk pergi menemui sang kekasih tercinta . Barra berpakaian casual , menggunakan celana jeans di padukan dengan kaos hitam dan jaket untuk melengkapi penampilannya . Sangat jarang Barra berpakaian seperti ini , sungguh Barra terlihat tampan berkali lipat . Siapa yang melihat Barra pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangannya .
" Kamu mau pergi nak ? " tanya Bunda Hanna saat Barra baru turun dari tangga.
" Iya bun , Aku mau keluar sebentar . Apa Reno masih di sini bun ? " tanya Barra karena Reno tidak ada di kamarnya.
" Dia pamit untuk pulang ke apartemennya karena ada yang perlu di kerjakan katanya " jelas Bunda Hanna
" Kak Barra akan pergi keluar ya ? " tanya Anes yang entah tiba tiba muncul dari mana
Barra seakan enggan untuk menjawab pertanyaan wanita itu .
" Iya Anes . Barra akan keluar " jawab Bunda Hanna
" Apa Anes boleh ikut kak . Semenjak di sini Anes belum pernah keluar " pinta Anes memohon
" Barra pergi dulu bund . Sudah di tunggu oleh teman " ucap Barra lalu pergi begitu saja
" Kak Barra Anes ikut ya kak Anes mohon ".
" Dia akan pergi dengan temannya Nes , mungkin lain kali . Pergilah jalan jalan jika ingin pergi keluar tante tidak masalah ada supir nanti yang akan mengantarmu " Kata Bunda Hanna
" Apa boleh tante baiklah . Anes minta ijin keluar ya tan " pamit Anes penuh sangat.
Kini Anes sedang berada di dalam mobil . Entah kemana tujuan Anes belum tahu yang penting dia ingin jalan jalan.
" Pak di depan itu bukannya mobil Kak Barra ya ? " tanya Anes kepada sang supir
" Iya non. Itu den Barra " jawab sang sopir yang jarang terlihat
__ADS_1
" Pak ayo ikuti mobil kak Barra " perintah Anes
" Tapi non apa tidak apa apa jika kita mengikutinya ? " tanya pak sopir karena merasa takut jika harus mengikuti Barra.
" Ayolah pak tidak apa , dia itu sudah seperti kakakku dia tidak akan marah . Ayo pak buruan nanti keburu pergi mobilnya " titah Anes sedikit memaksa
" Baiklah non " ucap pak sopir pasrah
Aku akan tahu kemana kak Barra pergi .batin Anes bahagia dalam hati
Mobil yang ditumpangi Anes selalu mengikuti mobil Barra . Hingga mobil Barra berhenti di sebuah toko bunga . Dan terlihat Barra membeli bunga mawar merah kesukaan Bella .
" Untuk siapa bunga itu ? Apa kak Barra memiliki kekasih ?" tanya Anes pada dirinya sendiri
" Ayo pak ikuti terus jangan sampai kita kehilangan mobil kak Barra " ucap Anes karena Barra akan memasuki mobilnya lagi.
Tapi dari kejauhan ada seorang wanita yang menghampiri Barra . Wanita yang berpakaian cukup minim dengan rambut pirang .
" Mau apa lo di sini ? " tanya Barra dingin dengan sorot mata yang tajam.
" Aku kangen Bar sama kamu. Ini calon anak kita kangen sama papanya Bar. Minta di jenguk " ucap Raya
Barra tersenyum mengejek saat Raya mengatakan kalau itu anaknya. Yang benar saja pikir Barra
" Oh ya , pergi dari hadapan gur sebelum gue bertidak lebih " ancam Barra lalu masuk ke dalam mobilnya tak menghiraukan Raya lagi.
" Bar Barrraa... Ini anak lo Barr " teriak Raya seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar
Sedangkan Anes yang berada di dalam mobil mendengar apa yang di ucapkan Raya merasa kaget . Apa mungkin Barra melakukan hal sehina itu pikirnya.
__ADS_1
" Apa wanita itu mengandung anak kak Barra . Tapi kenapa seakan kak Barra tidak peduli dengan wanita itu justru malah pergi . Lalu bunga itu untuk siapa ? " monolog Anes pada dirinya sendiri .
" Menarik " ucap Anes seraya tersenyum licik
Anes masih terus mengikuti kemana Barra pergi . Hingga mobil Barra berhenti di sebuah rumah mewah yang tak kalah dari rumah Barra . Mobil Barra lalu masuk ke dalam .Anes hanya memperhatikan dari jauh .
" Pak , apa bapak tahu ini rumah siapa ? " tanya Anes kepada pak supir
" Ini kediaman Tuan Darmawan nona " jawab Sopir itu
" Untuk apa dia ke sini lalu apa bunga itu untuk Tuan Darmawan itu . Hahh yang benar saja " ucap Anes pada dirinya sendiri yang bertanya tanya karena penasaran.
" Apa Tuan Darma itu memiliki seorang putri ? " tanya Anes lagi yang masih dengan rasa penasarannya
" Iya nona . Dan anaknya sangat cantik seperti model model luar negeri " jawab pak supir dengan senyum seakan mengingat wajah ayu Bella. Sang supir tahu jika Anes memiliki ketertarikan kepada Tuannya itu . Maka sang supir sengaja mengatakan hal itu dan itu memang benar adanya . Pak supir itu sebenarnya juga malas karena sepanjang perjalanan Anes selalu bertanya tentang kehidupan Barra. Dari situlah , pak supir mulai paham kalau Anes memiliki rasa kepada Tuannya itu.
" Apa mereka pacaran ?" tanya Anes lagi
" Saya tidak tahu nona . Jika iya mereka sangat cocok sekali . Yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik , jika mereka menikah pasti akan menghasilkan keturunan yang sempurna. Wah saya sangat menantikan itu " kata pak supir dengan senyum mengembang.
Wajah Anes terlihat menahan amarah dan pipinya terlihat merah menahan rasa marahnya. Karena mobil Barra cukup lama bahkan hampir satu jam tidak keluar dari sana , Anes memutuskan untuk pulang ke kediaman Alexander . Merasa cukup kesal sudah menunggu lama dan ingin melihat siapa wanita itu tapi malah mobil Barra tidak lagi keluar dari sana.
" Sudahlah pak kita pulang saja " kesal Anes
" Baiklah nona "
Sesaat saat mobil Anes meninggalkan kediaman Darmawan mobil yang di kendarai keluar dari sana. Barra pergi bersama Bella . Cukup lama Barra menunggu Bella untuk bersiap diri dan juga karena Sang calon papi mertua menahannya untuk bermain catur . Sebenarnya Barra sangat malas bermain catur , meskipun kini dirinya sudah bisa mengalahkan Papi Edo . Dan dalam permainan itu Barra selalu menang , papi Edo tidak terima akan hal itu maka Barra di minta untuk bermain sekali lagi dan lagi . Hingga akhirnya Barra mengalah supaya cepat selesai tapi apa yang di katakan Papi Edo.
" Apa kamu mengalah demi membuat hati saya senang ? Apa jika saya menentang kamu dan Bella kamu juga akan mengalah begitu saja ? hah dasar lelaki jaman sekarang tidak tahu namanya berjuang " cerocos Papi Bella tanpa henti . Barra hanya diam saja , lalu dia harus bagaimana jika dia tidak mengalah dan Papi Bella tidak menang dia tidak di ijinkan untuk pergi bersama sang kekasih .
__ADS_1
" Sudah Barra pergilah , Bella sudah lama menunggumu " titah mami Maya menengahi keduanya. Merasa kasian dari tadi setiba di rumah Barra lalu di tindas oleh suaminya itu . Bagai anak kecil yang tidak berani membantah pun Barra hanya diam tanpa menjawab.
" Baik tante , saya permisi dulu om , tante " pamit Barra yang takut takut saat pamit kepada Papi Edo yang masih menatapnya tajam seakan ingin melahapnya hidup hidup.