Ceoku Mantanku Suamiku

Ceoku Mantanku Suamiku
Bonchap 14 ( Janda )


__ADS_3

Sudah satu bulan pasca melahirkan baby Berlian , Bella semakin di sibukkan dengan rutinitas mengasuh anak . Bella memang tidak pernah mencari baby sister untuk membantunya mengasih anak . Baginya anak adalah tanggung jawabnya dan dia sendirilah yang akan mengasuh tumbuh kembang anaknya .


Masa pertumbuhan dari usia 0 sampai 5 tahun adalah masa yang cukup singkat . Jadi Bella tidak ingin melewati semua itu . Bella ingin menikmati masa bersama anak-anaknya . Menyaksikan sendiri setiap perkembangan pada anaknya .


Brian putra sulung dari Barra dan Bella begitu antusias dengan kehadiran adiknya . Dia sama sekali tidak merasa iri dengan adiknya . Brian bahkan terlihat lebih dewasa meskipun juga terkadang manja . Karena usianya juga memang masih kecil . Tapi tetap saja Brian adalah sosok kakak yang menyayangi adiknya .


Pagi ini suara tangis bayi terdengar dari dalam kamar Bella . Setiap mau mandi Berlian pasti akan susah di bangunkan . Mungkin merasa tidurnya terganggu sehingga Berlian menangis sekencang-kencangnya .


" Apa yang mommy lakukan ? Kenapa Beli menangis sampai sekencang itu ?" tanya Brian yang sudah rapi untuk berangkat ke sekolah .


Brian mendatangi kamar orang tuanya untuk berpamitan .


" Berli mau mandi sayang . Tapi dia justru menangis . Mungkin tidurnya terganggu " jelas Bella lalu menggendong Berli dan memberinya ASI .


Brian mengangguk patuh .


" Brian berangkat mom . Bye adek . Jangan nangis lagi nanti kamu jelek " ucap Brian mencium mommy dan juga adiknya .


" Iya Kakak hati-hati " jawab Bella menirukan suara anak kecil " Jangan nakal " imbuh Bella lagi .


" Aku anak baik " jawab Brian lalu meninggalkan kamar orang tuanya.


Barra sudah lebih dulu pergi ke kantor karena ada klien yang harus dia temui . Jadi hari ini Brian berangkat dengan pak Totok .


" Permisi nyonya muda . Ini sarapannya " ucap Bi Inem .


" Iya bi makasih " jawab Bella sambil menidurkan Berlian di boks bayinya .


" Adek bayi tidur nyonya muda " tanya inem seraya melihat bayi cantik itu yang sedang tertidur pulas .


" Iya bi . Bibi sudah sarapan ?" tanya Bella .

__ADS_1


" Belum nyonya muda " jawab Inem .


" Sana sarapan . Nanti sakit hlo " ucap Bella yang sudah menyantap masakan Inem


" Nggeh saya permisi nyonya " Inem lalu meninggalkan kamar Bella .


Majikan yang tidak pernah membedakan pekerjanya . Dan selalu baik dengan pekerjanya .


Di kediaman Darmawan . Semua orang tengah bersiap untuk menuju jogja . Nenek Rahma sedang tidak sadarkan diri dan di bawa ke rumah sakit .


Ayu menghubungi papi Edo pagi-pagi sekali . Ayu meskipun sudah menikah masih sering menjenguk Oma nya . Karena rumah nya dengan rumah Oma juga dekat .


" Bella apa kita beritahu pi ?" tanya Mami Maya .


" Jangan dulu mi . Kita lebih baik beri tahu Barra saja . Kalau Bella kasian dia baru saja melahirkan . Kasian Bella dan cucu kita kalau sedih " ucap Papi Edo .


" Iya . Semoga ibu tidak apa-apa " ucap Mami Maya .


Setelah mendapatkan kabar tentang Oma yang sedang sakit . Barra juga tidak ingin memberi tahu istrinya untuk saat ini . Tapi Barra akan pulang dulu dan menyampaikannya secara langsung . Bagaimana pun Oma dan Bella begitu dekat .


" Ian tolong selesaikan ini apa kamu bisa ?" tanya Barra kepada asisten pribadinya tu.


Ian adalah pengganti Reno . Ian mahasiswa baru tapi begitu kompeten dan gigih . Itu yang membuat Barra menyukai Ian . Ian juga berasal dari desa dan dari kalangan biasa . Dia bisa sampai di kota karena kuliah mendapat beasiswa . Dan ketika sudah lulus , mendapat info kalau perusahaan besar milik Barra . Ian dengan semangat memasukkan lamarannya . Tadinya dia merasa tidak percaya diri . Tapi justru dialah yang di terima .


" Bisa pak " ucap Ian .


" Baiklah saya harus pulang karena Oma istri saya sedang sakit " ucap Barra lalu menepuk pelan pundak Ian .


" Baik pak . Bapak hati-hati " ucap Ian seraya membungkukkan tubuhnya sedikit .


Barra tersenyum tipis melihat tingkah Ian yang begitu sopan . Bahkan usianya juga masih terbilang muda .

__ADS_1


Tapi Barra menyukainya . Selain bisa mengikuti apa yang di lakukan Barra . Barra juga merasa lebih terlihat lebih muda jika bersama Ian . Padahal dia sudah memiliki anak 2 .


Dengan mengendarai mobilnya sedikit cepat tapi masih aman . Barra juga bingung sebenarnya . Antara memberitahu istrinya sekarang atau nanti . Tapi kalau nanti pasti istrinya akan marah .


" Ya Jo " jawab Barra ketika mendapat telepon dari Jordan .


" Gue di jogja " ucap Jordan .


" Terus " tanya Barra heran .


" Cuma ngasih tahu lo aja . Siapa tahu kangen " ucap Jordan .


" Kelamaan nge jomblo jadi nggak waras lo ? " ucap Barra .


" Iya gue kesepian . Mungkin ini hukuman gue karena dulu gue suka merasakan kenikmatan yang belum saatnya " ucap Jordan .


" Lo nggak kambuh kan ?" tanya Barra .


" Nggak lah . Gue udah pensiun . Mana si ono kadang juga minta . Tapi gue suruh sabar aja . Dosa , ya terpaksa gue pake sabun " ucap Jordan terkekeh .


" Serah lo . Kalau nggak penting gue tutup " ucap Barra .


" Cariin gue cewek dong . Janda juga nggak papa yang penting bisa " ucap Jordan .


" Eh lo lagi di jogja kan . Lo pergi ke rumah sakit sekarang juga . Oma nya istri gue lagi sakit . Lo coba lihat . Ntar gue nyusul ke sana " ucap Barra


" Jandanya gimana ?" ucap Jordan .


" Berdoa aja lo . Ada suami yang akan menjandakan istrinya . Setelah itu lo ambil " ucap Barra .


" Ingat tapi bukan gue " ucap Barra lagi sebelum sahabat nggak ada akhlak satu itu tidak mengharapkan istrinya .

__ADS_1


Jordan merasa heran dengan sahabatnya itu . Bisa-bisanya dia di suruh berdoa untuk mendapatkan janda .


__ADS_2