
Bella memasak bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Bella melakukannya dengan cekatan. Dia sudah biasa melakukan pekerjaan rumah membantu sang ibu meskipun dia berasal dari keluarga berada tapi tidak membuat dirinya bergantung dengan orang lain. Selagi dia bisa kenapa tidak , itulah Bella. Dia tidak suka menyusahkan orang lain. Didikan dari kedua orang tuanya memang sangat keras dan itu demi kebaikan Bella. Supaya jika nanti sudah dewasa dia akan menjadi pribadi yang lebih baik, tidak sombong akan apa yang dimilikinya sekarang. Bella hanya memasak makanan yang ada di sana. Di sana ada spageti saja jadi Bella hanya memasak itu. Dan ini termasuk makanan kesukaan Barra. Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perut Bella. Bella merasa kaget tapi dia membiarkan itu.
" Lepaskan dulu tanganmu aku kesusahan memasaknya " ucap Bella
" Biarkan seperti ini , aku masih kangen sama kamu " jawab Barra yang masih terus memeluk Bella dari belakang sambil mencium i Bella
" Tapi kita setiap hari ketemu " sarkas Bella. Bagaimana tidak , mereka sering bertemu dan dia bilang kangen yang benar saja keluh Bella dalam hati.
" Cuma ketemu dan tidak bisa memelukmu " sahut Barra dengan manja seperti anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya. Ya begitulah Barra yang akan manja dan cerewet jika bersama Bella. Dia akan banyak tersenyum bahkan tertawa. Bahkan dengan keluarganya saja dia jarang menunjukkan semua itu. Yang ada malah tanpa ekspresi dan datar seperti papan.
" Tapi ini susah Barra . Nanti bukannya selesai malah hancur masakannya. Kalau kamu gangguin terus " semakin kesal Bella dengan tingkah Barra yang selalu mengganggunya sedari tadi. " Jangan cium leherku geli Barra " ucap Bella yang merasa geli karena Barra mengendus leher jenjangnya.
" Aku gak ganggu cuma cium dikit " jawab Barra yang masih melakukan hal yang sama tanpa berusaha untuk berpindah. Karena dia sangat menyukai wangi stowberry pada tubuh Bella. Dia sangat rindu dengan apa yang ada pada diri Bella. Ada kesempatan ya kenapa tidak ya Bar. heheh
jika lama lama seperti ini si ono bisa bisa bangun dari sangkarnya. tapi aku suka batin Barra.
" Jangan terus-terusan , ganggu itu namanya, Ya udah gak usah masak aja biarin kelaparan " Bella mengatakan itu seakan dia merajuk kepada Barra yang mengganggunya memasak. Dia ingin melepaskan appronnya dan akan meninggalkan dapur karena benar benar kesal dengan Barra. Barra terus saja menciuminya dan ada rasa yang aneh dirasakan oleh Bella. Bagaimana pun dia gadis dewasa yang tak tau akan hal hal berbau seperti itu.
" Ya udah aku gak ganggu. Permisi nyonya alexander maaf mengganggu. Saya akan duduk disebelah sana. Kalau kangen panggil aja ya ' ucap Barra seraya melepaskan pelukannya dsn berjalan menuju meja makan di dekat dapur. Barra juga membungkukkan badannya seakan berbicara kepada putri kerajaan. Bella hanya tersenyum dengan tingkah konyol Barra dan dia kembali berkutat dengan masakannya. Setelah beberapa menit makanan mereka sudah jadi.
" Dua piring spageti sudah siap . Selamat makan " ucap Bella dan meletakkan dua piring makanan tersebut ke meja makan. Bella juga menghias makanan itu secantik mungkin. Agar kekasih tercinta menyukainya . Enak di lihat enak di makan juga seperti Bella.
" Hem sepertinya enak " kata Barra sambil mencium wangi masakan buatan Bella. Terasa mengiurkan bukan, wajah cantik Bella body yang bak gitar spanyol pandai memasak . Sempurna. Itulah yang ada dalam pikiran Barra. Merasa begitu beruntung memiliki wanita satu ini.
" Gak tau degh udah lama gak masak . Kalau gak enak gak usah di makan " sahut Bella seraya mengangkat kedua bahunya . Ya memang dia sudah lama tidak memasak.
" Enak sayang , masakan kamu paling enak kalah sama mbok yem " Barra mengatakan itu dengan mulut penuh. Makanan yang selalu memanjakan lidahnya. Dan mbok yem adalah PRT di kediaman alexander.
__ADS_1
" Dih jahat kamu. Dari kecil juga makan masakan mbok yem sama Bunda . Aku bilangin ke mbok yem biar gak dikasih makan sekalian " ucap Bella ya karena mbok yem sudah berjasa dalam hidup Barra dalam hal makanan.
" Dih emang bener sayang. Ya gak apa-apa bilangin aja ntar yang masakin aku kan kamu " ucap Barra seraya mengelus rambut Bella dan mengecupnya . Menandakan bahwa ucapannya barusan adalah benar adanya dari hati dan tidak main main. Jika di gambarkan mungkin hati Barra sekarang seperti taman bunga yang bunganya bermekaran dengan indah.
" Udah ayok makan nanti keburu dingin " putus Bella. Keduanya memakan masakan Bella dengan lahap. Makan siang kali ini terasa nikmat bagi keduanya. Bersama orang tercinta dan masakan orang tercinta. Kini Bella dan Barra duduk di ruang televisi.
Drt drt drt.. dering ponsel Barra
" Angkat saja siapa tau penting " kata Bella tapi tatapannya tidak beralih dari televisi
" Ganggu saja " gerutu Barra
" *hem " jawab Barra
" Wanita itu sudah gue urus sekarang bersama Fadli di kantor polisi " kata Jordan
" Kenapa ?" tanya Bella
" Wanita ular sudah masuk penjara sekarang diurus Fadli " jawab Barra. Bella hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka menghabiskan waktu bersama hingga sore hari . Mengenang masa lalu ketika mereka bersama. Bersenda gurau dan saling bertukar obrolan untuk kedepannya hubungan mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keduanya. Bella memutuskan untuk pulang kerumah diantar oleh Barra. Jika berlama lama berduaan seperti tidak akan baik untuk keduanya. Pasti akan ada syaiton yang tiba tiba datang untuk menyesatkan. Apalagi Barra kini terlihat lebih berani ke sana ke mari tangannya, gak bisa diam. Dan mobil Bella akan diantar oleh sopir kantor nantinya.
" Mau mampir dulu gak ? " tanya Bella yang akan keluar dari mobil Barra.
" Oke . Apa om mawan sudah pulang ? " sebenarnya Barra masih takut untuk ketemu papi Bella. Tapi demi kelangsungan hidup hehe harus berani.
" Belum . Kenapa ?" tanya Bella lagi yang merasa heran dengan Barra. Padahal dulu jika mau datang ya datang saja.
__ADS_1
" Enggak " jawab Barra lalu turun dari mobilnya. Keduanya masuk ke rumah megah kediaman Darmawan yang tak jauh beda dari kediaman Alexander.
" Asalamualaikum mami " teriak Bella. Ini kebiasaan Bella kalau habis dari luar pasti akan teriak-teriak
" Walaikumsalam . Gak usak teriak-teriak sayang kalau pulang kebiasaan " teriak mami Bella dari dapur. Yah begitulah kedua anak dan mami ini sama tapi merasa berbeda.
" Tuh mami juga teriak masa akunya enggak " tegur Bella juga tersenyum merasa lucu dengan maminya ini.
" Ya terserah tuan putri. Hlo ini Barra kan ?" tanya mami Bella kepada Barra yang juga menampakkan wajah sedikit terkejut. Sebab dia juga tau jika Barra sudah berada di tanah air meskipun Bella tidak pernah bercerita kepadanya. Siapa lagi kalau bukan orang suruhan keluarga Darmawan. Yang begitu protektif jika itu menyangkut anak semata wayangnya. Ya mereka memang membebaskan Bella tapi juga tidak melepaskan begitu saja. Bukan berarti tidak percaya tapi bagaimanapun itu untuk kebaikan Bella, sang putri tercinta. Agar tidak tersakiti lagi apalagi sama lelaki yang saat ini berdiri di rumah mereka.
" Iya tante selamat malam " sapa Barra
" Kok bisa barengan? " tanya mami Bella yang merasa heran dengan keduanya. Ya pura pura heran tepatnya.
" Kita satu kantor tante " jawab Barra.
" Iya mi dia Bos Bella sekarang " lanjut Bella
" Oh gitu. Ayok sini masuk " Ajak mami Bella kepada kedua anak muda ini untuk masuk ke dalam.
" Mbok bikinin minum ya dua " teriak mami Bella lalu tersenyum kikuk
" Apa kalian kembali bersama " tanya mami Bella hati-hati.
" Iya tante. Rencananya saya akan menikah i Bella secepatnya " jawab Barra secara tiba tiba . Entah mendapat kekuatan dari mana dia berani mengatakan itu kepada mami Bella. Mami Bella merasa syok dengan apa yang dia dengar sedangkan Bella menepuk jidatnya karena ucapan Barra.
" APA !!! "
__ADS_1