Ceoku Mantanku Suamiku

Ceoku Mantanku Suamiku
BAB 34


__ADS_3

" Foto USG ?" tanya mami maya setelah melihat foto tersebut seraya mengeriyitkan alisnya tanda Mami Maya heran .


" Apa Bella hamil ? " tanya Mami Maya lagi sebelum membuka foto berikutnya . Lalu Papi Edo menyuruh Mami Maya membuka foto berikutnya .


" Apa apaan ini Pi ? Apa ini benar benar Barra " Tanya Mami Maya


" Papi juga belum tahu pasti Mi , nanti Papi akan meminta Jack mencari tahu kebenarannya " lirih Papi Edo yang merasa kecewa dengan apa yang baru mereka lihat .


" Pagi Mi , Pi ? " sapa Bella kepada kedua orang tuanya .


" Ada apa kenapa hanya diam ? " Tanya Bella lagi saat tidak mendapat jawaban dari kedua orang tuanya . Dan dari wajah kedua orang tua Bella seperti tersirat sebuah kekecewaan .


" Ini " Bella mengambil salah satu foto yang di pegang oleh sang Mami .


" Jadi kalian diam hanya karena foto ini ? " jawab Bella dengan santai .


" Kenapa kamu tidak kaget ? Apa kamu juga sudah tahu ? " berondong pertanyaan oleh Mami Bella . Bella hanya menganggukkan kepalanya seraya mengoles selai pada rotinya ,karena Bella tidak bisa sarapan yang berat berat .


" Kenapa tidak bilang ? Kenapa kamu tidak marah ? Dan kamu sekarang malah biasa biasa saja seakan tidak ada masalah . Wanita ini kan yang membuat kamu dan Barra berpisah . Dan sekarang wanita itu sedang mengandung anak Barra ? " cerocos Mami Maya dengan kesal .


" Jauhi lelaki itu ! " tegas Papi Edo lalu berdiri dari duduknya berlalu dari meja makan sebelum menghabiskan sarapannya.


" Pi ? ! " ucap Bella memelas


" Ini cincin dari mana ? Tumben kamu mau memakai cincin kalau tidak acara penting ?!" tanya Mami Maya lagi ketika di sana hanya ada Bella dan sang Mami .


" Ini dari Barra mi " lirih Bella..


Mami Maya menghela nafasnya kasar sungguh Mami Maya yang tadinya mempercayai Barra kini justru di buat kecewa lagi .


" Tinggalkan Barra , Ini demi kebaikan kamu . Lelaki seperti dia tidak pantas untuk kamu . Besok Mami akan minta orang untuk antar kamu ke rumah nenek di jogja . Untuk urusan kantor biar Papi kamu yang ambil alih . Sekarang bersiaplah untuk ke rumah nenek " tegas Mami Maya dan berlalu dari sana meninggalkan Bella yang tercengang dengan perkataan sang Mami . Tidak biasanya Maminya akan membuat keputusan yang sedikit berlebihan .


" Mi " lirih Bella


Mami Maya menghentikan langkahnya sejenak .


" Sebelum masalah ini terselesaikan . Ini demi kebaikan kamu " Mami Maya mengatakan itu tanpa menoleh ke arah Bella .


Kenapa bisa begini batin Bella


Bella lalu memasuki kamarnya dan segera berkemas . Bahkan semenjak dari tadi Barra selalu menghubunginya karena Bella sama sekali belum membalasnya.


Bella membuka setiap pesan yang di kirim oleh Barra .

__ADS_1


*Sayang kamu udah mau berangkat ke kantor


sayang kamu lagi ngapain , tumben gak bales chat aku . Nanti aku mau meeting di restoran deket kantor kamu , nanti sekalian kita makan siang bersama ya .


Kenapa masih belum balas ?


Sayang* ...


Ya seperti itulah sebagian isi pesan Barra . Dan yang lainnya juga ada panggilan yang belum sempat di jawab oleh Bella , entah karena enggan untuk mengangkat atau bagaimana Bella masih bingung dengan keadaan yang semula baik baik saja tapi selalu di usik oleh wanita rubah itu.


" Sayang ayo lekas turun sudah di tunggu supir " panggil Mami Maya


" Iya mi , ini Bella mau turun " jawab Bella dari dalam kamar


" Ya sudah Mami tunggu di bawah " setelah itu mami Maya memutuskan untuk menunggu Bella di bawah bersama sang suami yang tak lain Papi Edo .


" Semoga ini yang terbaik " Ucap Bella kepada dirinya sendiri .


Bella turun ke bawah dengan koper kopernya di bantu oleh mbok Sumi. Sebenarnya Bella tidak perlu membawa banyak barang , tapi dari pada harus beli dan juga masih banyak baju Bella yang belum di pakai maka lebih baik membawa baju yang ada .


" Sudah siap sayang ? ' tanya Mami Maya


" Iya mi " jawab Bella dengan memaksakan senyumnya.


" Ini pi " jawab Bella polos


" Ini , sekarang pakai ini " tegas Papi Edo yang mengganti ponsel Bella dengan yang baru.


" Papi " Bella dengan raut wajah yang susah di artikan .


" Ya sudah , kamu sudah di tunggu supir ayok " ajak Mami Maya yang juga turut mengantar sang putri semata wayangnya bersama dengan Papi Edo .


Kedua orang tua Bella merasa kasian dengan anaknya yang selalu tersakiti oleh orang yang sama . Meskipun mereka merasa bahwa sebenarnya Barra lelaki yang baik , tapi kejutan pagi ini sungguh membuat keduanya merasa sangat kecewa .


Mobil yang di tumpangi oleh Bella kini berada di jalanan padatnya ibu kota . Mobil itu akan menuju bandara untuk ke kota jogja di mana rumah sang nenek berada . Setelah sampai di bandara Bella segera turun , sedangkan kedua orang tua Bella hanya mengantar sampai di pintu masuk bandara . Sebenarnya tidak rela tapi demi kebaikan Bella .


" Kamu baik baik di sana , jagain nenek " pesan Mami Maya .


" Iya mi , Papi sama Mami baik baik juga di sini ya " lalu Bella berhambur ke dalam pelukan Maminya dengan mata yang mulai basah .


" Sudah ini hanya sementara dan juga demi kebaikan kamu " Mami Maya mencoba menenangkan sang putri .


" Ya udah , Bella masuk ya pi , mi "

__ADS_1


" Iya hati hati " bukan Mami Maya yang mengatakan tapi papi Edo yang dari tadi hanya diam saja .


Bella lalu memeluk sang Papi dengan tangisnya yang pecah.


" Sudah , masuklah " tegas Papi Edo .


Bella lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya . Perasaan Bella kini bercampur aduk , entah kecewa juga dengan Barra dan juga merasa mungkin ini yang terbaik untuknya . Agar masalah ini segera terselesaikan .


Sedangkan Barra yang kini baru saja sampai di kantor merasa gelisah karena tidak biasanya Bella mengabaikannya .


Apa aku melakukan sebuah kesalahan batin Barra.


Barra mencoba menghubungi Bella lagi namun kali ini ponsel Bella tidak bisa di hubungi .


" Kenapa tidak bisa di hubungi , kamu kenapa sih sayang ! " emosi Barra


" Arghh " teriak Barra lalu melempar semua yang ada di atas meja .


.tok tok tok


" Permisi pak " ucap Sisil yang masuk ke dalam ruangan Barra dan cukup kaget karena melihat ruangan Bosnya itu berantakan .


" Keluar " ucap Barra dingin .


Sisil yang merasa takut lalu keluar dari ruangan Barra begitu saja . Dari pada kena amuk pikirnya .


" Gila serem banget " Ucap Sisil seraya mengelus dadanya .


" Siapa yang gila ? Siapa yang serem ? " tanya Reno yang tiba tiba datang .


" Monyet lo " latah Sisil


" Lo ngatain gue monyet ? " ucap Reno seraya memincingkan matanya merasa heran dengan perempuan di depannya ini.


" Bukan , enggak . Emm maksud gue ahh sudahlah " lalu berlalu menuju ruang kerjanya


" Terus siapa yang lo katain gila dan serem itu " tanya Reno yang masih penasaran


" Bos lo tuh yang gila " jawab Sisil tanpa menoleh ke arah Reno .


Brak


Keduanya terkaget lalu Sisil tersenyum kaku

__ADS_1


__ADS_2