Ceoku Mantanku Suamiku

Ceoku Mantanku Suamiku
Bonchap 10


__ADS_3

Hari ini keluarga yang dari jakarta memutuskan untuk kembali karena Barra sudah berlibur beberapa hari yang mengakibatkan pekerjaannya menumpuk pastinya . Jordan juga ikut kembali setelah mengikuti perjalanan yang cukup melelahkan . Brian , pria kecil itu yang tidak merasa lelah sedikitpun . Bahkan masih betah jika tinggal di tempat Oma buyutnya . Tapi tetap saja Bella tidak tega meninggalkan putra semata wayangnya.


Mobil yang mengantar Bella dan yang lainnya susah siap .


" Kalian hati-hati di jalan " ucap Oma seraya memeluk cucu kesayangannya .


" Iya Oma . Oma buyut juga harus sehat terus " ucap Bella mengusap tubuh renta neneknya .


" Iya . Segera beri Oma cucu buyut lagi . Biar tambah rame . Nanti kita juga nunggu cucu buyut lagi dari Ayu dan Bisma " ucap Oma dengan senyum yang tidak pernah luntur .


" Iya Oma . Doakan saja supaya Brian nanti segera memiliki adik . Begitu juga Ayu semoga segera memberi cicit untuk Oma . Biar tambah rame " ucap Bella .


" Iya " ucap Oma seraya melirik Ayu yang hanya tersenyum menanggapi obrolan dari Oma dan kakak sepupunya .


Setelah berpamitan mereka segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Jogja .


*******


Pagi harinya di kediaman Bella dan Barra . Biasanya jika pagi hari Bella sudah bangun dan menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya . Tapi tidak untuk kali ini . Tubuh Bella terasa berat untuk bangun . Rasa malasnya justru lebih dominan dari biasanya .


Barra yang melihat istrinya masih tidur di bawah gulungan selimut segera mengecek kondisi tubuh istrinya . Jika biasanya dia yang akan di bangunkan oleh istrinya tapi tidak kali ini .


" Tidak panas " lirih Barra .


" Sayang kamu kenapa ? Kamu pusing ?" pertanyaan beruntut Barra .


" Aku tidak apa-apa, hanya saja aku malas sekali bangun . Tapi kepala ku memang sedikit pusing . Mungkin karena habis naik pesawat " ucap Bella dengan mata terpejam .


" Baiklah tidurlah lagi . Aku akan membawakan mu sarapan " Barra lalu mencium kening Bella dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya .


tok tok tok


" Mommy , Daddy " panggil Brian .


" Mommy , Daddy " teriaknya lagi pintu kamar masih terkunci .


" Sebentar den kecil . Mungkin mommy sama daddy masih tidur " ucap bi Inem .


Barra yang baru selesai mandi segera menghampiri pintu kamarnya mendengar teriakan anaknya .


Dengan handuk yang dia lilitkan di pinggang Barra membukakan pintu .


Inem yang melihat pemandangan indah di depannya tidak melewatkan begitu saja . Baru kali ini dia melihat tubuh majikannya yang ternyata sangat bagus seperti model-model pria yang memiliki badan bagus , perut kotak-kotak .


" Ini beneran perut " gumam Inem .


Barra yang baru menyadari Inem menatap tubuhnya sampai bengong tersenyum miring .


" Ayo masuk " ucap Barra kepada Brian .


Inem menganggukkan kepalanya dan ikut masuk .


" Kamu ngapain ikut masuk ?" tegas Barra .


" Oh . Itu anu Tuan muda . Saya ini " ucap inem gelagapan .


" Sudah pergi sana " ucap Barra lalu menutup pintu kamarnya .

__ADS_1


Kedua pria tampan berbeda generasi tapi ketampanan keduanya jelas sama . .


" Kenapa mommy masih tidur dad ? Apa mommy sakit ?" tanya pria kecil itu polos .


" Mommy hanya mengantuk saja . Mungkin kelelahan di perjalanan kemarin " ucap Barra mencoba menenangkan putranya .


Brian mendekat kearah mommy nya . Lalu tangannya terulur memegang kening mommy nya . Memastikan apakah mommy nya demam atau tidak .


Setelah menyentuh kening mommy nya Brian lalu menempelkan telapak tangannya di keningnya . Mengecek suhu tubuh mommy nya .


" Tidak panas " ucap Brian


" Daddy , tapi mommy tidak demam " ucap Brian .


" Iya " ucap Barra setelah selesai mengenakan pakaian kantornya .


Hari ini Barra sudah mulai bekerja . Jika terlalu banyak libur pekerjaannya akan menumpuk ...


" Sayang sarapan dulu ya nanti baru lanjut tidur . Aku sudah menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi mu " ucap Barra .


" Aku tidak apa-apa . Tidak usah memanggil dokter . Tidur sudah membuat pusing ku mereda " ucap Bella .


" Tapi tetap harus sarapan dulu " ucap Barra yang sudah membawa nampan yang terdapat makanannya .


" Aku mau makan gado-gado di ujung gang " ucap Bella kepada Barra .


" Hah? Baiklah aku akan mencarikan " ucap Barra .


" Brian di sini bersama mommy ya dad . Hati ini Brian tidak sekolah saja ya dad . Kasian mommy " ucap Brian yang kini sudah duduk di samping mommy nya .


" Mommy tidak papa . Brian harus tetap sekolah . Tapi di antar bibi dulu ya " ucap Bella .


" Baiklah " Brian menganggukkan kepalanya lemah .


Barra mencarikan makanan yang di minta oleh istrinya . Sebenarnya Barra menyadari sesuatu tapi masih belum ingin mengatakan kepada istrinya . Menunggu dokter saja nanti yang menyampaikan ..


Setelah mendapatkan pesanan istrinya ,Barra segera melajukan mobilnya menuju rumahnya . Bersamaan mobil Barra terparkir ada sebuah mobil lagi yang datang .


Dokter yang di minta Barra untuk memeriksa istrinya sudah datang .


" Selamat pagi Tuan Barra . Maaf terlambat , jalanan cukup macet " sapa dokter perempuan .


Barra memang sengaja memilih dokter perempuan untuk istrinya meskipun sahabatnya sendiri dokter yang memang sudah tidak di ragukan lagi .


" Pagi dok . Mari silahkan masuk " ucap Barra .


Ke dua nya menaiki tangga menuju kamar Barra .


Brian masih dengan setia menunggu mommy nya . Brian memijit kening mommy nya juga tangan dan kaki . Pria kecil itu terlihat begitu cemas dengan keadaan ibu nya .


" Daddy " ucap Brian ketika melihat daddy nya datang .


Barra lalu mencium kening anaknya lalu menggendongnya .


" Apa mommy akan baik-baik saja " ucap Brian bertanya kepada daddy nya .


" Tentu saja boy . Mommy mu akan baik-baik saja " ucap Barra .

__ADS_1


" Sayang bangun dulu dokternya sudah sampai " Barra mencoba membangunkan Bella .


" Emmmh " Bella mencoba membuka matanya .


" Saya akan mulai memeriksa nyonya terlebih dahulu " ucap dokter tersebut lalu memegang pergelangan tangan Bella lalu tersenyum dan mengangguk .


" Sepertinya akan ada anggota baru di rumah ini " ucap dokter itu mencoba menjelaskan .


" Maksud dokter ? " tanya Bella .


" Sepertinya nyonya akan memberikan adik untuk putra nyonya " ucap sang dokter lagi dengan senyuman .


" Sungguh aku akan memiliki adik bayi " ucap Brian yang terlihat paling bersemangat .


Barra dan Bella tersenyum melihat begitu antusiasnya sang putra memiliki seorang adik .


" Aku akan menjaga mommy dan adik ku mulai dari sekarang . Daddy juga oke " ucap Brian yang kini sudah memeluk tubuh ibunya


" Tuan dan nyonya alangkah lebih baiknya menemui dokter kandungan terlebih dahulu . Untuk memastikan saja dan untuk mendapatkan vitamin . Apakah ibu mual-mual ? " tanya dokter itu lagi


" Tidak dok . Hanya saja kepala ku sedikit pusing " ucap Bella .


" Baiklah saya beri obat ini saja . Mohon untuk selalu berhati-hati terlebih dahulu . Usia kandungan ibu masih muda " nasehat dokter .


" Baik dok terima kasih " ucap Bella dan Barra .


" Terima kasih bu dokter . Aku dan daddy akan menjaga mommy dan calon adikku baik-baik " ucap Brian


" Ya tentu " ucap dokter itu lalu memutuskan untuk pamit .


Brian masih merengek untuk tidak masuk sekolah . Tapi tetap saja dia harus berangkat ke sekolah . Meskipun Brian ingin sekali menjaga ibu dan adik nya .


" Jadilah ansk baik . Sebentar lagi Brian akan menjadi abang . Jadi harus menjadi contoh yang baik untuk adik mu nanti " ucapan Bella membuat pria kecil itu bersemangat .


" Aku berangkat . Jika butuh apa-apa segera telpon aku " ucap Barra mencium kening istrinya .


" Iya . Tapi aku ingin makan ke dondong " ucap Bella terlihat sedikit manja .


" Baiklah aku akan mencarikannya nanti " ucap Barra .


" Tidak .Nanti aku mau pergi ke pasar bersama bi inem saja . Boleh ? " Bella meminta ijin


" Pasar ? Di sana desak-desakan sayang . Tidak baik untuk mu dan anak kita " ucap Barra .


" Tapi ini ansk kita yang ingin " ucap Bella .


" Cih . Selalu saja anak yang menjadi alasan padahal ibu nya yang ingin " ucap Barra seraya melipat tangannya di perut .


Mata Bella sudah terlihat merah menahan tangisnya .


" Ya sudah . Pergilah . Biarkan saja jika nanti anak mu ileran . Dasar daddy tidak berperasaan " ucap Bella yang sudah menangis .


Barra terkejut karena tiva-tiba saja istrinya menangis .


" Daddy . Daddy apakan mommy ? Kenapa mommy menangis ?" ucap Brian yang tadi habis bersiap dan mengambil tasnya .


" Tidak . Daddy tidak berbuat apa-apa " elah Barra .

__ADS_1


" Bohong . Sudah mommy , jangan menangis. Kalau mommy menangis nanti adek bayi juga ikut menangis " ucapan Brian begitu terdengar dewasa .


" Baiklah . Pergilah bersama Inem . Nanti biar di antar supir sekalian ajak totok sekalian untuk membawakan barang mu " Ucap Barra mengalah .


__ADS_2