
Pernikahan Barra dan Bella kini sudah di depan mata . Semua sudah di sibukkan dengan berbagai persiapan Bella dan Barra . Bella dan Barra sudah satu minggu ini tidak di perbolehkan untuk bertemu . Keduanya saat ini hanya bisa berhubungan melalui sambungan ponsel .
" Sayang ayo sini liat dulu degh gaunnya sudah datang " teriak Mami
" Iya mi bentar " teriak Bella
Bella lalu turun ke bawah untuk melihat gaun yang akan di kenakan nanti di acara pernikahannya .
" Ini degh liat . Sempurna sayang " antusias Mami Maya
" Iya mi . Mami simpan saja ya " ucap Bella setelah melihat gaunnya .
" Oke " dengan senang hati Mami Maya menyimpan gaun itu .
" Dua hari lagi kamu sudah menjadi seorang istri . Jadi kamu harus mulai belajar menyiapkan segala keperluan suami kamu nanti , bukan hanya di atas ranjang " ucap Mami Maya memberi wejangan kepada anak semata wayangnya .
" Ihh apaan sih mi . Ngomongnya sampe ke sana sana degh " Bella dengan malu malu
" Ini serius sayang . Kamu harus melayani dari perut sampai yang lainnya " ucap Mami
Maya lagi
" Hemm ya mi " ucap Bella malas .
Beberapa hari ini Barra juga sudah tidak lagi ke kantor tapi kadang dia masih harus di sibukkan dengan pekerjaan kantor . Ayah Arga lah yang sementara waktu menghandle pekerjaan jika itu penting jika tidak paling dia hanya akan meminta Reno dan Sisil untuk menyelesaikan pekerjaan itu .
" Mau makan bareng ? " tanya Reno
" Hah ? " ucap Sisil sedikit kaget , karena semenjak saat itu mereka jarang sekali mengobrol kecuali hanya saat membicarakan pekerjaan .
" Mau makan bareng ? ' Reno mengulang pertanyaan uang sama .
Sisil mengangguk sebagai jawaban , karena masih merasa canggung jika harus keluar berdua . Ya meskipun karyawan di sana sudah biasa melihat ke duanya keluar bersama karena pikir mereka ya mereka tangan kanan dan kiri bos mereka .
" Mau makan di mana ? " tanya Reno setelah keduanya berada di dalam lift
" Lo yang ngajakin makan , kenapa nanya gue ? " ketus Sisil
" Ya siapa tahu lo mau makan apa gitu " ucap Reno
" gue mau makan ..
" Gak ada. Terserah gue, gue yang ngajak " Reno lebih dulu memotong ucapan Sisil . Reno lalu melangkahkan kakinya keluar dari lift lebih dulu .
__ADS_1
Sisil mengerucutkan bibirnya kesal dengan Reno yang terkesan ngeselin itu . Baru juga dia ingin mengatakan keinginannya sudah lebih dulu di potong oleh Reno .
Pria tidak punya perasaan batin Sisil
" Bukankah aku sudah mengatakan perasaanku kepadamu ? " tanya Reno dengan memincingkan matanya ke arah Sisil.
Omo .. Apa dia cenayang batin Sisil
Sisil lalu menatap Reno aneh bagaimana mungkin dia bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya .
" Apaan sih lo gaje degh " gerutu Sisil
" Emang bener kan ? " tanya Reno lalu menghentikan langkahnya di ikuti oleh Sisil yang menabrak punggung Reno.
" Aww . Jidat guee . Lo kalau berhenti ngeremnya jangan dadakan dong , kalau gini kan bisa mencelakakan orang lain " gerutu Sisil lalu mengusap keningnya yang sakit .
" Lagian ini orang keras banget terbuat dari batu apa " lirih Sisil yang masih saja menggerutu.
" Gitu doang . Sini gue liat " Reno lalu menarik tangan Sisil untuk melihat kening Sisil . Dan terlihat sedikit memerah .
Reno lalu mengusap kening Sisil dan meniupnya . Dan semua itu tak luput dari penglihatan karyawan BR yang sedang berlalu lalang , karena saat ini jam makan siang .
" *So sweet "
" Iya ya . Jika pacaran pun cocok "
" Iya sih . Pangeran tampan di perusahaan ini sebentar lagi jadi milik orang lain semua terus gue sama siapa* "
Seperti itulah simpang siur pembicaraan para karyawan di sana .
" Udah gpp " Sisi lalu menghempaskan tangan Reno . Pipi Sisil juga sudah memerah karena perlakuan Reno yang sangat jarang ini .
Kalau dari deket ganteng . Dan bisa juga kelihatan sedikit anget nih orang , gak cuek mulu .batin Sisil
Reno terdiam sesaat , melihat Sisil yang seperti itu .
" Kenapa ? " tanya Reno
Sisil melihat ke arah sekelilingnya . Menatap karyawan yang lewat selalu menatapnya dan juga Reno . Dan bisik bisik terdengar .
" Apa lo gak lihat , semua ngeliatin kita ? Udah ayok keburu lapar gue " Sisil lalu berjalan mendahului Reno .
" Tapi kenapa pipi lo juga merah " tanya Reno untuk menggoda Sisil.
__ADS_1
Sisil lalu memegang pipinya yang memerah itu . Lalu berjalan cepat tanpa menjawab pertanyaan Reno .
" Hey , jawab dulu " teriak Reno dengan sedikit tersenyum lucu melihat tingkah Sisil yang jarang sekali dia tunjukkan . Biasanya dia akan selalu tegas dan galak .
Keduanya kini sedang berada di sebuah restoran yang terletak di depan kantor mereka . Keduanya makan tanpa ada sedikit obrolan karena masih canggung gara gara Reno yang dari tadi menggoda Sisil .
" Bukankah itu Raya ? " tanya Sisil
Reno lalu menoleh kearah mata pandang Sisil . Dan ya , Raya sedang beradu argumen dengan seorang lelaki di sana . Entah apa yang mereka bicarakan tidak terlalu jelas di pendengaran karena posisi duduk mereka terlalu jauh .
" Siapa laki laki itu ? " tanya Sisil
" Sepertinya ayah dari anak yang di kandung Raya " jawab Reno dengan mata yang masih mengarah ke sana lalu melanjutkan makannya.
" Maksud kamu kakak ipar dari siapa itu teman kamu ? " tanya Sisil yang lupa nama teman mereka .
" Fadli " jawab Reno singkat .
" Emm iya itu . Dengar dengar juga sekarang mereka sudah resmi bercerai . Kasian sekali kakaknya Fadli dan juga anaknya harus menjadi korban " ucap Sisil lalu meminum jusnya .
" Kalau kamu di posisi kakaknya Fadli apa yang akan kamu lakukan ? " tanya Reno
" Aku tidak tahu . Dan semoga tidak akan merasakan hal seperti itu . Karena aku paling tidak suka hal seperti itu . Sudah selesaikan ayo kembali ke kantor " ajak Sisil yang terlihat berbeda . Sisil lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar . Karena ya biarkan saja Reno yang membayarnya .
Apa aku salah bicara batin Reno
" Hey tunggu " Reno lalu berjalan mengejar Sisil.
" Dasar wanita . Selalu saja berubah ubah moodnya " kesal Reno.
" Hay Ren " sapa Raya
" Lepaskan tanganmu " ucap Reno dingin .
Raya lalu melepaskan tangan Reno yang tadi dia cekal .
" Apa benar Barra akan segera menikah ? " tanya Raya hati hati .
Reno tidak menjawab , dia lalu berjalan keluar meninggalkan Raya .
" Tunggu Reno " teriak Raya
" Sialan " kesal Raya yang di abaikan oleh Reno
__ADS_1
Semua gara gara bayi di perut ini . Coba saja aku tidak teledor hingga mengakibatkan ada bayi ini di dalam perutku . Apa lagi sekarang pria itu sudah bangkrut karena sudah di tinggal oleh istrinya. Gerutu Raya dalam hati