
" Anak yang di kandung Raya " Jordan menghentikan membaca kertas yang dia pegang . Tapi matanya melirik ke arah Barra
" Kenapa lo liat gue " sentak Barra tak suka
" Apa lo beneran tidur dengan wanita ular ini ?" tanya Jordan memincingkan matanya .
Raya terlihat berbeda antara senang juga merasa aneh mendengan penuturan Jordan yang mengatakan anak yang dalam kandungannya anak Barra .
" Apa lo bilang gak usah ngaco , coba liat sini kertasnya " Barra mencoba merebut kertas yang berada di tangan Jordan .
" Apa !! Jadi ini benar anak Barra ?!" teriak sang Bunda histeris lalu memukul anaknya itu .
" Bunda ampun bunda , Stop " rengek Barra
" Barra masih virgin Bun, kalo gak percaya Barra punya buktinya " bela Barra
Jordan melihat itu malah terkekeh geli . Tapi Ayah Arga nampak tak berekspresi sedikitpun .
" Ngapain lo ketawa ! Tolongin gue . Oh gue tahu lo ngerjain gue ya " seketika Bunda Hanna menghentikan aksi pukulnya .
Barra merasa curiga bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini Jordan malah menertawakannya .
" Sorry kapan lagi ngerjain seorang Bos ternama di seantero jagat raya " ucap Jordan dengan perasaan bahagia karena ank itu bukan anak Barra
" Lalu anak siapa yang dalam kandungannya ?" tanya Bunda Hanna merasa lega karena bukan anak Barra , tapi juga penasaran anak siapa itu .
" Ini anak dari .." Kini mata Jordan menatap Fadli .
Semua orang yang di sana melirik ke arah Fadli yang sejak tadi diam saja . Berbeda dengan Raya yang pucat pasi kebahagiaannya hilang sudah menjadi nyonya Alexander .
" Anak Fadli ? " tanya Barra
" Bukan . Anak dari seorang produser dan juga suami dari kakaknya " Jelas Jordan .
" Apa tidak mungkin , ini anak Barra " teriak histeris Raya tak terima .
" Baiklah karena masalah sudah selesai saya akan membawa wanita ini untuk keluar " ucap Fadli lalu membawa Raya pergi dari sana.
Kedua orang tua Barra membiarkan mereka pergi begitu saja . Barra merasa lega dengan hasil ini .
" Mana biar gue yang pegang kertasnya . Ini sangat berarti bagi gue " ucap Barra lalu mengambil kertas itu dan berdiri hendak keluar.
" Mau kemana kamu . Jangan mentang mentang semua sudah selesai kamu pergi begitu saja Barra . Kamu masih hutang penjelasan sama Bunda " Ucap Bunda
" Barra mau membawakan Bunda calon mantu untuk Bunda . Sebelumnya maaf Yah , Bun. Doakan Barra calon istri Barra gak ngambek lagi " ucap Barra lalu benar benar pergi dari sana .
Tujuan Barra saat ini yaitu kediaman Darmawan . Barra sudah tidak sabar untuk menjelaskan semua ini kepada Papi Edo . Sebenarnya Barra masih merasa takut , karena terakhir kali Barra ke sana peliharaan Papi Edo keluar yaitu segerombolan anjing yang saat itu menghadang Barra .
__ADS_1
" Semoga anak anak Tuan Darma sedang tidur siang " ucap Barra pada dirinya sendiri .
Barra sampai di kediaman Darmawan dengan sedikit takut . Barra menoleh kearah kanan dan juga kiri memastikan tidak ada peliharaan Papi Edo . Penjaga keamanan yang melihat kelakuan Barra merasa heran , jika di luar sana terlihat begitu berwibawa dan jika datang ke kediaman Tuan Darmawan terlihat takut takut .
" Permisi Tuan , ada yang bisa saya bantu Tuan Barra ? " penjaga keamanan mendekati Barra
" Ehh .. Itu .. " Barra menggaruk kepalanya yang tidak gatal , kaget karena tiba tiba ada yang mendekatinya .
" Apa Tuan Darmawan ada di dalam ? " tanya Barra
" Ada Tuan , tadi beliau pulang " jawab penjaga tersebut.
" Emm apa ada anak anak Tuan Darmawan ? " tanya Barra sedikit kikuk
" Anak anak ? Bukannya anak Tuan Darma hanya memiliki satu anak ? " penjaga itu heran
" Bukan-bukan maksud saya peliharaan Tuan Darma " Jelas Barra
" Owalah . Tuan ini ada ada saja . Tidak Tuan . Aman ! " ucap penjaga tersebut dengan senyum lebarnya . Baru tahu apa yang di takuti oleh Barra dari tadi .
Barra segera melajukan mobilnya masuk ke dalam kediaman Darmawan .
tol tok tok
l
" Iya . Apa beliau ada di rumah ? " tanya Barra
" Ada Tuan , silahkan masuk "
Ketika Barra hendak menginjakkan kakinya masuk ke dalam Rumah Papi Edo lebih dulu menghentikan langkahnya .
" Mau apa kamu ke sini lagi ? Pulang sana ! " Ucap Papi Edo yang ternyata sedang membaca koran di ruang tamu.
" Saya mau menjelaskan masalah yang terjadi antara saya dan juga Bella om " ucap Barra
' Bukannya kamu kemaren habis makan malam ya sama wanita yang kamu hamili ? " tanya mami Maya yang baru saja datang membawakan sang suami segelas teh .
" Itu hanya untuk menjebaknya Tuan . Dan ini saya membawa kertas hasil tes DNA-nya . Om dan tante bisa cek sendiri " Barra menyerahkan kertas itu kepada Ke dua orang tua Bella
" Paling itu juga rekayasa " ucap papi Edo yang masih fokus ke arah korannya
" Saya juga membawa vidio rekamannya jika ini bukan hasil rekayasa saya . Saya juga membawa rekaman CCtV di restoran kemaren " ucap Barra dengan tegas .
Barra memang sudah menyiapkan semuanya , karena pasti semua ini akan terjadi . Tidak mudah mempercayai orang yang telah mengecewakan putrinya .
Barra segera memutarkan vidio rekaman tersebut , dari rekaman di restoran ketika mereka makan malam dan juga rekaman ketika melakukan tes DNA hingga di apartemen ketika membuka hasil tes tersebut .
__ADS_1
" Apa ini berarti anak yang dalam kandungan ?" mami Maya merasa lega sebenarnya tapi masih mencoba menutupi raut kebahagiaannya .
Papi Edo juga merasakan hal yang sama tapi tak menanggapinya . Memilih diam dengan pikirannya sendiri .
" Iya tante . Anak yang dalam kandungan wanita itu bukan anak saya . Saya waktu itu di jebak , tapi saat itu saya masih sedikit sadar . Saya tidak akan terpengaruh dengan obat obatan seperti itu . Dan saya juga masih tersegel . Ini saya punya buktinya juga " jelas Barra
" Tidak perlu " ucap Papi Edo
" Apa boleh saya bertemu dengan Bella ? " tanya Barra hati hati
" Apa kamu serius dengan anak saya ? " tanya Mami Maya
" Tentu saya sangat serius dengan anak tante , bahkan saya sudah melamarnya waktu di puncak " jelas Barra
" Dasar anak muda jaman sekarang tidak tahu cara melamar yang benar " gerutu Papi Edo
" Lalu saya harus bagaimana melamarnya om ?" tanya Barra seraya mendongakkan kepalanya karena Papi Edo beranjak dari duduknya .
" Pikir saja sendiri " lalu Papi Edo pergi dari ruang tamu
Barra menghela nafasnya kasar , seakan menumpahkan segala hal yang mengganjal karena masalahnya sudah selesai . Tapi belum jika dia belum bertemu dengan Bella .
" Tante dimana Bella . Saya mohon tante . Saya bersungguh sungguh bersama anak tante . Jika tante tidak percaya nanti malam saya akan mengajak kedua orang tua saya untuk datang kemari "
" Ya , silahkan " ucap Mami Maya yang ingin melihat kesungguhan Barra .
" Baiklah tante saya nanti malam akan kesini lagi bersama kedua orang tua saya . Kalau begitu saya permisi dulu tante " ucap Barra lalu meninggalkan kediaman Darmawan.
Barra lalu melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya . Ini baru pertama kalinya setelah kejadian itu Barra pulang ke kediaman Alexander.
" Bunn, yahh " teriak Barra
" Apa sih . Kamu ini baru juga datang langsung teriak teriak " ucap Bunda Hanna
" Bun, nanti malam kita ke rumah keluarga Darmawan ya . Kita lamar anaknya " rengek Barra
" Kamu ini jangan bercanda , Nikah itu bukan buat main main "
" Ayolah Bun, ya . Bunda ajak Ayah buat lamar anak Tuan Darmawan . Barra serius Bun. Apa bunda tidak mau punya cucu ? "
" Tentu saja mau " ucap Bunda Hanna antusias
" Maka dari itu Bun , Bunda ajak Ayah ya bantuin Barra buat lamar anak Tuan Darmawan . Lagian juga nanti Bunda senang kalau ketemu orangnya "
" Iya Bunda sudah tahu . Bella kan ? Anak dari Maya " ucap Bunda lalu meninggalkan Barra
" Ini gimana Bun , Bunda mau ya "
__ADS_1
Bunda Hanna mengangkat bahunya acuh meninggalkan Barra begitu saja tanpa menjawab dia mau atau tidak untuk membantu membujuk suaminya .