
Di perusahaan BR kini pagi pagi sudah ada keributan karena ulah Raya . Dia berusaha masuk ke dalam namun di cegah oleh keamanan , jika mereka meloloskan semua akan kena marah Barra. Raya terus memberontak mencoba untuk masuk kedalam gedung itu , bahkan berteriak memanggil nama Barra. Meski petugas keamanan tersebut menjelaskan bahwa Barra tidak ada di kantor .
" Jika tidak ada kemana di hah. Kalian jangan mencoba untuk membodohi ku ya , kalian pegawai rendahan jika saya sudah menjadi istri Barra kalian akan menyesal telah berbuat seperti ini " teriak Raya
" Tapi memang Tuan tidak ada di dalam. Memang pekerjaan kami hanya sebagai security tapi setidaknya kami melakukan pekerjaan halal bukan mengemis seperti apa yang anda lakukan " ucap petugas keamanan itu lalu berlalu dari sana.
" Dasar sok suci kalian " teriak Raya . Dia terus memaki karyawan di sana .
" Ada apa ini ? " tanya Arga , ayah Barra yang baru datang
" Ini Tuan nona ini membuat kerusuhan di sini dan selalu berteriak memanggil nama Tuan Barra " jelas petugas keamanan tersebut
" Sa.. Saya pacar Barra Tuan . Bahkan saya juga mengandung anaknya Tuan . Ini sa .. saya mempunyai hasil usg nya " ucap Raya tergagap
Ayah Arga mengerutkan dahinya heran , anaknya tidak mungkin melakukan kesalahan sedikitpun . Bahkan pada saat dia berjalanpun jika di depannya ada kerikil mungkin dia akan tahu . Jadi tidak mungkin Barra melakukan hal sekeji itu .
" Pergilah " Setelah mengatakan itu Ayah Arga berlalu dari sana. Raya tidak berani lagi berteriak melihat sikap dingin Ayah Arga.
Apa dia kecewa sehingga dia pergi begitu saja. Ini baru awal Barra . batin Raya lalu tersenyum miring dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut . Dia sedikit lega setidaknya justru dia malah bertemu dengan Ayahnya Barra .
Ayah Barra kini berada di dalam ruangannya . Dia masih memikirkan ucapan Raya , Apa benar anaknya seperti itu ? Apa benar anak dalam kandungan Raya itu adalah cucunya ? Anak Barra ?
tut tut tut
" Ren , apa kamu kenal dengan wanita yang namanya Raya ? " tanya Ayah Arga
" Iya yah . Kenapa ayah bisa kenal dengan wanita itu ? " tanya Reno heran . Reno juga Jordan sudah dekat sedari kecil dengan Barra jadi keduanya sudah menganggap Ayah Arga seperti ayah mereka . Ayah Arga juga sudah menganggap keduanya sebagai anak , sebab Ayah Arga tahu betul bagaimana dengan kedua anak itu dengan keluarganya .
__ADS_1
" Wanita itu datang ke kantor dan bilang kepada Ayah , kalau dia mengandung anak Barra . Apa itu benar Reno ? " Ayah Arga bukan orang yang akan langsung berburuk sangka atau menilai sebuah masalah secara sepihak . Ayah Arga adalah ayah yang tegas dan berhati hati . Sifat Barra menuruni sifat sang Ayah.
" Apa ayah meragukan Barra ? Ayah tahu betul siapa Barra . Ayah tidak perlu khawatir Reno akan memastikan semua itu tidak benar " jawab Reno meyakinkan
" Baiklah . Ayah percaya kepadamu "
" Ayah tidak usah khawatir . Ayah Reno matikan dulu telponnya jika tidak ada yang penting lagi karena saat ini kami sedang meeting "
" Baiklah , lanjutkan pekerjaan kalian . Ayah serahkan semua ini kepada kalian. Pastikan jangan sampai Bunda kalian tahu , jadi segera selesaikan " titah Ayah Barra dengan tegas . Setelah itu Ayah Arga mematikan sambungan ponselnya .
***
" Siapa barusan ? " tanya Barra setelah mereka melakukan meeting untuk menggantikan karyawan yang lama. Barra ingin segera menyelesaikan masalah yang di kota S dan kembali ke kota J . Seminggu tidak bertemu rasanya seperti setahun .
" Ayah . Wanita itu datang ke perusahaan untuk menemui mu . Dan saat itu Ayah baru saja tiba di kantor , wanita itu mengatakan jika dia sedang mengandung anakmu " jelas Reno
" Tiket pesawat sudah saya pesankan Tuan . jam 3 sore nanti kita akan berangkat ke kota J " ucap Reno formal merasa takut jika Barra sudah seperti itu.
" Hmm " hanya deheman yang di berikan Barra sebagai jawaban.
Reno lalu pergi dari ruangan Barra . Dia segera menghubungi kedua sahabatnya yang lain untuk segera mengurus wanita gila itu .
" Jo , Tugas lo yang kemaren sudah nemu hasil belum sama Fadli . Wanita itu semakin berulah .Dan tadi sempat bertemu dengan Ayah " jelas Reno kepada Jordan dalam sambungan ponselnya .
" Oke semua sudah beres . Ayah pasti tidak akan mudah percaya gue tahu itu "
" Ya udah gue matiin dulu . Jangan rindu lo sama gue " setelah mengatakan itu Reno lalu matikan sambungan ponselnya seraya tertawa geli dengan ucapannya sendiri .
__ADS_1
Sejak dulu antara Barra , Reno dan Jordan selalu bersama , bahkan candaan mereka yang tak berfaedah itu menjadi pemikiran yang berbeda oleh teman kampusnya . Lebih tepatnya Reno dan Jordan , jika Barra hanya kadang kacang ketularan ketidak warasan sahabatnya .
" Dasar sahabat laknat " umpat Jordan saat Reno mematikan sahabatnya secara sepihak . " Dia pikir gue doyan laki apa . Kalau gue terbukti , kalau gue masih normal tapi mereka berdua . Kan gak pernah dekat sama cewek " pikir Jordan
Barra dan Reno kini sedang berada di pesawat menuju ke kota J . Barra sudah menyiapkan kejutan untuk sang kekasih . Dia tidak mengatakan kepada Bella kalau dia akan pulang hari ini . Bahkan dari tadi panggilan ataupun pesan dari Bella tidak ada yang di balas olehnya . Hanya satu pesan dan mengatakan kalau Barra sedang meeting itu pun tadi pagi .
Setelah sampai di Bandara Kota J , Barra dan Reno di jemput oleh sopir pribadi mereka . Dan menuju di kediaman Alexander .
" Asalamualaikum " sapa keduanya
" Walaikum salam " jawab Anes yang berada di luar saat itu . " Kak Barra baru datang ? Hai kak Reno " tanya Anes ramah
Barra hanya melirik sekilas tanpa menjawab . Sedangkan Reno tersenyum tapi tidak tahu arti dari senyuman itu lalu mengikuti Barra masuk ke dalam rumah .
" Kalian baru pulang ? Istirahat saja dulu nanti kita makan malam bersama " kata Bunda Hanna yang baru keluar dari dalam dapur . Barra dan Reno menghampiri Bunda Hanna dan mencium tangan sang Bunda .
" Barra tidak makan malam di rumah bun . Barra sudah ada janji " ucap Barra lalu baik ke atas menuju kamarnya .
" Mau kencan ya ? Wah anak Bunda sudah besar " goda Bunda Hanna
" Iya bun " jawab Reno lalu mengedipkan sebelah matanya . Dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya . Reno juga memiliki kamar di sana karena sering menginap di rumah Barra.
" Dasar anak nakal " ucap Bunda Hanna yang merasa senang jika anaknya sudah memiliki teman perempuan . Tapi berbeda dengan Anes yang merasa kesal mendengar candaan Reno dan juga sang tante .
Apaan sih . Kak Barra gak boleh jadi milik orang lain selain gue batin Anes dengan kesal.
Anes sudah menyukai Barra dari dulu meski Barra tidak pernah menanggapi semua itu . Anes selalu melakukan hal hal yang berlebihan untuk mendekati Barra . Dan itu sangat membuat Barra tidak menyukainya bahkan sebagai sepupu sekalipun .
__ADS_1