
" Sepertinya gue mau balik ke Amsterdam , gue mau mengundurkan diri Bar . Sudah saatnya gue kembali dan membantu perusahaan bokap gue " ucap Reno tiba-tiba .
Barra menatap Reno yang sedang mematikan puntung rokoknya di asbak yang berada di atas meja sofa di dalam ruangan itu . Barra merasa tidak yakin dengan keputusan Reno yang terbilang mendadak itu . Padahal dari dulu kedua orang tua Barra dan juga Barra meminta Reno untuk kembali ke perusahaannya sendiri karena di sana juga membutuhkan Reno .Tapi Reno selalu menolak mentah-mentah semua itu . Reno ingin mengabdikan dirinya di perusahaan Barra karena keluarga Barra begitu baik terhadap keluarganya . Barra sebenarnya tidak masalah dengan keputusan Reno saat ini . Bagi Barra itu adalah Reno , lagian itu juga yang Barra mau . Supaya Reno bisa mandiri dan mengembangkan bisnisnya .
Tapi yang membuat Barra bingung dan bertanya-tanya , kenapa mendadak ? Kenapa tiba-tiba ?Apa Reno memiliki masalah ? Apa kedua orang tua Reno sedang tidak sehat ? Tapi Barra selalu memantau keadaan kedua tua Reno maupun Jordan . Bagi Barra kedua sahabatnya itu adalah keluarga .
Jordan pun sama halnya dengan Barra . Terkejut dengan ucapan Reno yang tiba-tiba. Reno adalah orang yang selalu apa adanya dan jarang terlihat masalah . Berbeda dengan dirinya , Reno lebih bijak dalam menghadapi masalah . Lalu hal apa yang membuat Reno memutuskan untuk kembali ke Amsterdam .
" Kenapa ?" hanya itu yang sanggup Barra lontarkan .
" Sudah saatnya gue kembali . Thanks lo selama ini selalu bantuin gue . Dan sorry gue rasa sampai di sini gue bantuin lo .Tapi jika lo butuh gue seperti biasa gue pasti ada dan siap buat bantuin lo " ucap Reno .
__ADS_1
" Lo ada masalah ?" kini giliran Jordan yang menanyakan kepada Reno .
" No . Gue cuma ingin balik aja " ucap Reno lalu ikut bergabung bersama sahabatnya.
" Itu terserah lo . Gue nggak mau maksa lo untuk tetap di sini . Jika lo ada sesuatu lo bilang sama gue . Lo balik ke rumah lo gue juga ikut seneng , karena lo udah terlalu lama di sini " ucap Barra merasa tidak masalah dengan keputusan Reno .
" Wait ... Apa jangan-jangan karena tadi gue nyusahin lo jadi lo mau balik ke sono " ucap Barra mencoba mencairkan suasana . Barra tidak mungkin hanya hal sekecil itu yang membuat Reno kembali ke Amsterdam .
Reno hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Barra. Reno tahu kalau Barra hanya memancingnya untuk mengatakan apa alasannya dia kembali ke rumah kedua orang tuanya .
Barra dan Jordan hanya mengangguk lemah menanggapi ucapan sahabatnya itu .Mereka tidak bisa menahan Reno , bagi mereka ini kabar yang baik . Reno sudah mulai meredakan traumanya dulu ketika perusahaan Ayahnya bangkrut di sebabkan oleh sang paman yang serakah .
__ADS_1
Reno berjalan keluar dari ruangan itu . Reno sudah mantap dengan keputusannya . Dia tidak ingin jika nanti dia akan berubah pikiran .
Reno melewati para gadis yang masih berada di sofa ruang tengah keluarga Darmawan . Hingga suara seseorang menghentikan langkahnya .
" Lo mau pulang Ren ?" tanya Bella .
" Hemm .. Ya . Gue balik dulu Dim , Bell . " ucap Reno tidak berpamitan lagi dengan Sisil maupun yang lain .
Dimas hanya mengangguk begitu pula dengan Bella . Mereka juga merasakan hal yang sama . Melihat keanehan pada diri Reno . Yang biasanya akan sedikit bicara dan murah senyum tapi kali ini Reno terlihat lesu .
" Dih . Kak Reno .... Masa Bianca nggak di pamitin " teriak Bianca tidak terima . Padahal Reno sudah jauh dari ruang tengah .
__ADS_1
Reno tidak menanggapi Bianca . Dia tidak mau berubah pikiran jika dia melihat Sisil nantinya .
Sisil hanya menunduk meredam berbagai pertanyaan dalam benaknya . Kenapa Reno akhir-akhir ini cuek? Kenapa Reno menjauhinya ? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terselip di benak Sisil . Tapi dia memendam semua itu . Mungkin nanti dia akan bertanya kepada Bella .