
9 bulan berlalu .
Usia kandungan Bella kini sudah sampai pada trimester akhir . Bella masih berada di rumahnya . Bella belum merasakan seperti ada tanda-tanda bahwa dirinya akan melahirkan . Bella juga masih melakukan kegiatannya seperti biasa . Memasak dan menyiapkan keperluan Barra ketika hendak berangkat ke kantor . Tapi untuk masak Bella tidak sesering dulu . Dia kadang memasak kadang juga tidak . Barra memang melarang istrinya untuk memasak . Tapi Bella tetaplah bella . Dia tidak bisa berdiam diri di rumah begitu saja .
Barra juga sudah satu minggu ini bekerja dari rumah . Barra tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu untuk mengikuti jalannya kelahiran istrinya .
Ayah Arga juga yang turut membantu barra untuk sementara waktu . Ayah Arga juga ingin menemani menantunya melahirkan . Apalagi ini adalah cucu pertamanya . Beliau begitu antusias untuk menanti kehadiran cucu pertamanya .
Dan tentunya untuk pekerjaan di kantor juga memang tidak sepadat sebelumnya . Barra sudah lebih dulu menghandle agar ketika istrinya akan melahirkan pekerjaan Barra tidak banyak .
Reno sudah kembali ke perusahaan Ayahnya yang juga sudah berada di kota ini . Ayah Reno membuka cabang di negara ini. Makanya ke dua orang tua Reno pulang ke negara asal . Dan perusahaan di sana ada tangan kanan Ayahnya Reno yang memang bisa di percaya . Sedangkan di kantor Barra memang tidak lagi mencari pengganti Reno . Barra hanya mengandalkan Sisil jika butuh sesuatu .
Reno dan Sisil juga menjalin hubungan . Kedua orang tua mereka juga sudah saling tahu . Mereka juga memutuskan untuk segera ke pelaminan setelah anak Bella lahir . Entah mengapa Sisil menunggu sampai anak Bella lahir . Ya dia beralasan , jika nanti dia menikah dan perut Bella membuncit dia merasa kasian . Nanti tidak bisa bersenang-senang .Entah apa yang dipikirkan Sisil saat itu .
" Sayang sudah aku bilang jangan naik turun menggunakan tangga . Pakai lift " ucap Barra ketika mengetahui istrinya itu mau turun dengan menggunakan tangga .
beruntung Barra mengetahuinya .
" Sayang aku ini hamil bukan sakit . Ayo lah " ucap Bella memelas .
Suaminya kini berubah menjadi pria yang sangat cerewet . Bahkan sangat berbeda dengan Barra yang dulu . Cool dan juga jarang bicara .
" Pakai lift atau tidak usah turun " tegas Barra penuh penekanan .
Dengan menunjukkan bibirnya yang manyun Bella melangkahkan kakinya dengan malas berjalan menuju lift .
Barra tersenyum puas karena istrinya mendengarkannya .
" Ayo aku bantu nyonya " ucap Barra seraya tersenyum manis .
" Nggak usah ganjen deh senyum-senyum " kesal Bella .
Padahal senyum Barra terlihat begitu menawan dan menambah ketampanannya berkali-kali lipat .
" Aku kan senyum sama istri ku sendiri . Jadi ganjen sama istri nggak salah dong " bela Barra .
" Terserah " ucap Bella lalu masuk ke dalam lift .
" Aduhh .. Sayang perut aku sakitt " rengek Bella seraya memegang perutnya yang sakit .
" Sayang tenang , sepertinya kamu mau lahiran " ucap Barra .
Setelah sampai di lantai dasar Barra segera menggendong Bella dan di bawa ke mobil .
" Totok siapkan mobil sekarang . Buruu " teriak Barra yang terlihat panik .
" Hlo ada apa tok Tuan muda " tanya inem .
Ya dari dulu inem selalu memanggil seperti itu . Padahal Barra sudah mengatakan jangan panggil seperri itu . Geli dengarnya .
" Kamu tolong siapkan perlengkapan istri saya . Sepertinya istri saya mau melahirkan " ucap Barra .
" Injih Tuan muda . Siap laksanakan " ucapnya
__ADS_1
Setelah totok menyiapkan mobil Barra lalu menurunkan Bella di belakang . Barra lalu melajukan mobilnya ke rumah Bunda Hanna terlebih dahulu untuk menemaninya .
Tapi sebelum pergi dia meminta Inem dan supir untuk mengantarkan perlengkapan Bella ke rumah sakit yang sudah di beri tahu oleh Barra .
" Sayang , sakitttt " rengek Bella lagi .
" Sabar sayang . Kita ajak Bunda sekalian " ucap Barra .
Mobil Barra terparkir di depan rumah Bunda Hanna . Barra lalu membunyikan klakson mobilnya beberapa kali .
" Kamu ini ada apa sih Bar , pagi-pagi sudah bikin ribut " ucap Bunda dengan kesal .
Barra lalu menurunkan kaca mobilnya , Barra memang sengaja tidak turun karena Bella selalu mengeluh sakit .
" Ayo Bun . Cucu mama udah mau lahir . Buruan masuk " ucap Barra .
Bunda Hanna yang masih memakai pakaian rumahan itu lalu berlari ringan untuk ke mobil Barra . Ada perasaan terkejut , senang dan tentunya kesal karena Barra memberitahunya seperti itu .Sungguh tidak sopan pikir Bunda
" Mana menantuku . Ya ampun sayang . Ayo Barra buruan jalan " ucap Bunda dengan panik .
" Tunggu !!" ucap Bunda lagi menghentikan mobil Barra yang hendak melaju .
" Kenapa sih bun?" tanya Barra kesal .
" Ya ampun Bunda belum Bawa tas dan ponsel Bunda " ucapnya .
" Astaga . Barra juga nggak bawa apa-apa Bun " ucap Barra .
" Bentar Bunda ambil dulu "
Setelah itu mobil Barra segera melajukan mobilnya untuk menuju Rumah sakit miliknya . Barra sudah menghubungi Jordan . Barra tadi juga sudah meminta inem mengambil dompetnya sekaligus membawa perlengkapan Bella .
Di rumah sakit Bella sudah berada di ruang bersalin . Barra dengan setia menemani istrinya . Barra terlihat panik dan khawatir dengan keadaan istrinya . Kasihan itulah yang di rasakan Barra saat ini .
Ke dua orang tua Bella juga sudah di beri tahu dan Oma juga dengan setia menunggu cicitnya yang akan lahir .
Ayah Arga yang akan mengadakan meeting , beliau undur karena dia tidak ingin melewatkan proses kelahiran cucu pertamanya . Dan beruntung kliennya memaklumi itu .
" Tuan , emm " ucap Sisil ragu .
" Kamu kalau mau ikut boleh " ucap Ayah Arga seperti mengerti apa yang akan di katakan Sisil .
Sisil mengangguk dengan semangat . Mereka berangkat menggunakan satu mobil karena saat ini sedang berada di kafe .
" Sayang .. Sakit . Elus dong " kesal Bella .
" Bukan kepala aku yang di elus tapi pinggang aku " kesal Bella lagi .
" Iya sayang maaf . Sabar ya "
" Dokter kapan istri saya lahiran . Dari tadi dia sudah mengeluh kesakitan " kesal Barra kepada dokter perempuan yang akan membantu Bella .
" Sabar bro memang gitu kalau mau lahiran " Ucap Jorda kepada sahabatnya itu .
__ADS_1
" Tapi istri gue kesakitan . Gue pecat lo kalau sampai lo tidak menangani istri gue dengan benar " ucap Barra bersungguh-sungguh .
Dokter wanita itu lalu terlihat pucat ketika pemilik rumah sakit mengatakan itu . Meskipun Barra tidak berbicara kepadanya tapi ucapannya terasa menakutkan . Apalagi ini menyangkut istri dan anaknya .
*plak
" Aww* . Sayang kok di pukul sih " ucap Barra terkejut .
" Nggak usah ngadi-ngadi deh .. Orang lahiran emang kayak gini " ucap Bella seraya menahan sakit .
" Iya lo Bar , Kalau ngomong suka seenak jidat " ucap Jordan yang sebenarnya juga takut dengan ucapan Barra tadi . Namun Jordan mencoba biasa saja .
Barra menatap tajam Jordan .
" Aww dok .. Sepertinya anak saya mau keluar . Anak saya rasanya ingin sekali menutup mulut daddy nya yang dari tadi cerewet " kesal Bella
" Sebentar nyonya saya cek dulu " ucap dokter tersebut .
" Oke pembukaan sudah sempurna mohon nyonya tarik nafas dan buang ya " ucap Dokter itu memberi arahan .
Bella hanya mengangguk karena memang dia merasa anaknya sudah hampir keluar .
" Eeeegghhhhhh.. " Bella mengejen .
" Ayo nyonya tinggal satu kali lagi . Tarik nafas buang " ucap dokter itu lagi .
" Eeeeghhhhhhhh... "
" Oek oek oek " suara tangis bayi menggema di setiap sudut ruangan .
Barra lalu terduduk lemas di lantai . Begitu lega , Rasanya seperti naik roller coster .
Bella tersenyum bahagia dan juga menitiksn air mata bahagia .
" Selamat Tuan , nyonya . Anak anda laki-laki dan dia sangat tampan " ucap dokter itu juga merasa lega .
" Terima kasih sayang telah memberiku malaikat kecil yang sangat tampan " ucap Barra dengan air mata yang membasahi pipinya .
Barra juga mencium kening dan bibir Bella sekilas. Barra lalu menatap jagoan kecilnya yang sedang di bersihkan .
" Silahkan Tuan putra tampan anda " ucap dokter tersebut .
" Terima kasih " jawabnya namun matanya tak teralihkan dari bayi kecil itu .
" Sayang aku mau lihat anakku " ucap Bella .
Kini mereka sudah berada di ruangan perawatan . Ruangan luas yang memang di khususkan untuk Bella dan anaknnya . Barra menyiapkan ruangan pribadi untuk istrinya . Barra ingin yang terbaik untuk istri dan anaknnya
" Wah dia tampan sekali " ucap Oma yang masih setia menunggu cicitnya .
" Iya Oma dia tampan sekali " ucap Bella .
" Tapi kenapa dia mirip ...
__ADS_1