Ceoku Mantanku Suamiku

Ceoku Mantanku Suamiku
BAB 12


__ADS_3

" Lo mau terlihat bodoh karena mengikuti mereka. Ayolah Bar nanti katanya lo ada meeting penting dari perusahaan HK jam 15.00 mereka sampai di bandara dan lo harus jemput dia " Ucap Jordan karena dia sudah sangat lapar dan tidak menyukai seblak yang menurutnya aneh. Padahal mencoba saja belum pernah.


" Oke " hanya itu jawaban Barra karena dia sebenarnya tidak ingin pergi tapi bagaimana lagi. Jika pertemuan ini kacau pasti ayahnya akan marah. Karena dia menanggung jutaan nyawa yang harus dia tanggung. Jika perusahaan gulung tikar lalu bagaimana dengan orang orang yang bergantung dengan kita itulah perkataan ayah Arga yang selalu terngiang di kepala Barra hingga saat ini.


Jika menjadi seorang pemimpin itu bukan berarti kita sudah enak nyaman tapi itu adalah tanggung jawab yang sangat besar. Kita bukan hanya memikirkan diri kita sendiri dan juga bukan sekedar keuntungan semata yang kita kejar. Tapi bagaimana sebuah perusahaan itu bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan pekerjaan. Maka semua itu tidak akan menjadi sia sia. Itulah kunci kesuksesan dalam berusaha.


" Alhamdulillah " ucap syukur Jordan dan disambut gelak tawa kedua sahabatnya


" Lo tumben nyebut. Lo kayaknya emang harus di rukiyah biar setan dalam tubuh lo benar-benar hilang" kata Reno sambil melajukan mobilnya.


Ditempat makan Bella, Sisil juga Dimas mereka memesan makanan kesukaan Bella tersebut. Mereka memesan level uang berbeda-beda jika Bella sangat menyukai pedas juga obat galau bagi Bella, yang akhir-akhir ini Barra cukup membuatnya selalu bingung dengan sikap Barra.


"Lets go .. Kita makan " teriak sisil


" Kelaparan lo " ucap Dimas


" Gue udah lama gak menikmati makanan surgawi ini " seraya terkikik geli dengan perkataannya.


" Dasar lo ada-ada ajh kalau ngomong " timpal Bella seraya tertawa.


Setelah itu pesanan mereka datang mereka memakan makanan mereka dengan hikmat.


" Uhh ini enak banget kapan-kapan kita harus kesini lagi " kata Bella begitu bahagia


" Jangan mendesah bikin hor*y ajh lo " kata Dimas


" Berarti lo normal kalau lo gak ngerasa berarti lo letoy. hahahhaha " tambah sisil

__ADS_1


" Jangan ngadi-ngadi lo kalau ngomong. Mau coba ?" tantang Dimas


" Dih ogah . Dasar otak ngeres " ucap sisil seraya memukul lengan Dimas. Mereka berdua jika bertemu pasti bagai tikus dan kucing.


" Sudah ayok balik. Udah mau habis jam makan siangnya " potong Bella karena mereka jika tidak di pisah akan keterusan. Bella berdiri dari duduknya menuju mobil Dimas sambil berkata " Dim bayar " dengan kekehan kecil. Ini yang dia lakukan bersama Sisil jika mereka makan maka Dimas lah yang bayar. Mereka jika dengan Dimas sudah seperti kakak sendiri . Karena usia mereka yang mungkin selisih 2 tahun.


" Kebiasaan " Jawab Dimas


" Dah sono bayar " tambah Sisil seraya berjalan mengikuti Bella


Kini mereka sedang menuju perusahaan BR tempat keduanya bekerja. Mereka menggunakan satu mobil yaitu mobil Dimas karena Dimas yang menjemput keduanya di perusahaan BR group.


" Lo kenapa gak kerja di perusahaan om saja Bel ?" tanya Dimas


" Mungkin bentar lagi " jawab Bella


" Justru itu yang bikin gue ingin keluar. Gue gak mau ketemu dia terus " Keluh Bella lalu menghela napasnya kasar. Kenapa sih harus bertemu lagi pikirnya. Bikin oleng hati saja.


" Kenapa gak coba balik aja sih kan masih cinta. Masalah kalian juga udah clearkan . Mau apa lagi " kata Sisil


" Gak semudah itu sil. Rasa kecewa gue ke dia udah di Ubun - ubun tau gak. Dengan mudahnya dia dulu menyampakan seorang Bella , dan sekarang dengan mudahnya dia minta balik lagi setelah menorehkan luka di hati gue . Sakit Sil ... Sakit " ucap Bella dengan menggebu memasang wajah memelasnya.


" Ahhh lebay lo . Jijik gue dengernya " jawab Sisil. Yang hanya di jawab tawa oleh Bella


" Ya lo sekarang harus bisa menyakinkan hati lo sendiri. Kalau enggak ya coba buka hati lo untuk orang lain. Soalnya semenjak lo putus ma cecunguk Barra api lo kalau dideketin cowok pasti menjauh . Emm sorry ya Bel lo masih normal kan " kata Dimas untuk mencairkan suasana


" Sialan lo gue normal kali. Cuma kalau membuka hati gue belum kayaknya " jawab Bella dengan sendu. Apalagi sekarang Barra sudah pulang ke tanah air tambah bikin galon ajah.

__ADS_1


" Iya karena hati lo masih ada Barra Barra dan Barra " Jelas Dimas karena dia begitu paham apa yang di rasakan oleh Bella. Nyatanya banyak kumbang yang ingin hinggap baru juga keliatan hidungnya sudah di usir terlebih dahulu. Banyak juga yang tidak menyerah dan masih ingin mendekati Bella. Semboyan nya sebelum janur kuning melengkung katanya.


" Udah sono turun kerja yang bener kalian. Kalau udah gajian kalian yang traktir. Sekali aja kalian ngeluarin uang kalau sama gue bukannya kerjaan morotin doang " Gerutu Dimas yang berpura pura kesal kepada kedua sahabatnya itu.


" hahahah bye . Kalau gue udah nikah sama CEO kaya raya gue bayarin kebutuhan lo " jawab Bella


" Nikah noh sama Barbar " timpal Dimas seraya melajukan mobilnya. Sedangkan Bella masih terbengong dengan ucapannya sendiri.


" Iya nikah sono sama si Bos hidup lo udah terjamin tambah terjamin " tambah Sisil


" Udah ayo masuk" ucap Bella


Baru mereka masuk kedalam lift mereka seperti melihat sosok yang tidak asing dengan mereka. Dia masuk kedalam lift saat Bella dan Sisil mencoba untuk memastikan siapa orang itu. Jantung Bella berdetak dengan cepat . Ingin sekali dia marah mencakar-cakar wajah sok polos itu bahkan memaki. Tapi Bella harus meredam amarahnya karena sekarang mereka berada dilingkungan kantor. Bella tidak ingin ada yang mengecap Bella dengan image buruk.


" Lo gak apa-apa kan Bell?" tanya Sisil memastikan. "Belum tentu itu dia ? Jika memang iya untuk apa dia kemari. Apa dia melamar jadi cleaning service " tambah Sisil supaya Bella tidak terlalu memikirkannya.


" Enggak gue gak apa-apa " jawab Bella memaksakan senyumannya.


" Ayok " ajak Sisil


Mereka menuju lantai 30 dimana sosok itu naik ke lantai 30 dimana di sana terdapat ruangan CEO. Pikiran Bella menerawang untuk apa dia kesini. Apa dia menemui Barra ? Jika iya apakah mereka mempunyai hubungan ? Karena dia diijinkan untuk naik ke lantai atas. Di mana di sana jarang sekali orang memasuki ruangan tersebut. Bella terus berperang dengan pikirannya sendiri. Sisil mengetahui raut wajah sahabatnya berubah mencoba untuk menenangkannya. Sisil sendiri juga masih merasa geram dengan sosok itu. Ingin rasanya mendorongnya dari lantai atas gedung ini. Batin Sisil dengan kekesalannya


*ting


suara pintu lift terbuka.


deg deg deg

__ADS_1


detak jantung Bella*


__ADS_2