
Jeslyn melihat ke sekeliling orang-orang yang ramai, dia mencoba mencari sesosok pria yang tadi di bawa pergi seorang gadis cantik.
"kemana mereka Syam, aku yakin mereka masih di sekitar sini, bantu aku cari Syam. " pinta Jeslyn kepada asistennya.
Syam menarik napas panjang, dalam hatinya menganggap Jeslyn hanya berkhayal, tetapi dia tidak bisa bantah selain mengikuti maunya Jeslyn.
"kalian berdua jaga Nona Jeslyn, aku akan mencarinya sendiri! " ujar Syam kepada kedua bodyguard yang tadi mengikutinya.
dua bodyguard itu pun mengikuti langkah Jeslyn yang seperti orang kalap mencari keberadaan pria yang di anggap Jeslyn itu Novak Shinoda.
setiap orang yang mirip dengan Novak dari belakang, di lihat satu persatu.
di sisi pesisir pantai beberapa orang sedang bersiap-siap untuk menaiki perahu mereka.
karena malam semakin larut Jeslyn merasa kesulitan melihat satu persatu orang-orang yang segitu banyaknya.
diapun putus asa, dan duduk di sisi restaurant yang bersebelahan dengan perahu-perahu para nelayan.
dengan tidak sengaja mata Jeslyn menatap kegiatan orang-orang yang menaiki perahu, yang sudah siap untuk pergi meninggalkan pesisir menuju tengah lautan.
"sett! " matanya tertuju dengan gadis yang membawa pria tadi.
"itu mereka! " teriak Jeslyn kepada dua orang Bodyguardnya.
"Novak! " tunggu! " tunggu! " teriak Jeslyn sambil berlari ke arah perahu yang sudah menjauh dari sisi pantai.
tidak ada yang memperdulikan teriakan Jeslyn, perahu itu berlalu, Jeslyn hanya bisa menatap kepergian pria yang di anggapnya Novak Shinoda.
"kemana mereka pergi malam-malam begini! " ujar Jeslyn.
"Nona, Itu kapal sepertinya menuju pulau di sebrang sana! " lihatlah. " ujar salah seorang bodyguardnya sambil menunjuk ke arah tengah lautan yang tidak terlihat apa-apa pikir Jeslyn.
"kenapa kamu bisa yakin mereka menuju pulau di sana? " tanya Jeslyn.
"mari kita tanya dengan pemilik Restaurant di sana nona! "
"coba kamu tanya! " titah Jeslyn.
salah satu dari bodyguard pun pergi menemui pemilik Restaurant di sana.
"Duarrr," perayaan utama telah di mulai, suara kembang api yang bergelegar di atas hamparan lautan yang mengeluarkan cahaya terang di langit.
cahaya itu menerangi riak ombak di permukaan laut, membuat Jeslyn dengan jelas dia melihat perahu tadi yang sudah mulai mengecil karen di lihat dari kejauhan.
"Ken, Iyah aku harus segera menghubungi Ken. " tapi aku tidak yakin, sebaiknya aku sendiri yang memastikannya dulu. "
"bagaimana! " tanya Jeslyn yang melihat pengawalnya sudah kembali dari Restaurant tadi.
"betul nona, dugaan saya, mereka pergi ke pulau di ujung sana. " jawab pengawalnya.
"baiklah kalo begitu, besok kita pergi ke pulau itu! " ujar Jeslyn, diapun bergegas menuju panggung untuk meminta maaf atas sikapnya tadi, yang meninggalkan panggung di tengah acaranya..
__ADS_1
"kalian cari Syam, suruh dia menemuiku di atas panggung! "
"baik nona! "
setelah dua orang pengawalnya mengantarkan Jeslyn, mereka mulai mencari Syam, asisten kepercayaan boss mereka.
di atas panggung, Jeslyn meminta maaf kepada salah seorang orang penting dalam acara tersebut. dia pun berpamitan kepada semua orang di sana.
di sebuah pulau, Zen sedang memikirkan wanita yang mengejarnya tadi, dia begitu penasaran siapa wanita tadi.
tetapi Keylla menariknya menjauh dari sana.
Keylla adalah nama Gadis cantik putri dari tetua di pulau itu.
"Key, kenapa kamu menarik ku tadi? " siapa tau gadis yang mengejarku tadi adalah orang yang mengenalku di masa lalu! " tanya Zen yang sedikit kesal dengan sikap Gadis di hadapannya.
"aku hanya ingin melindungi mu. " jawab Keylla.
"melindungi ku dari apa? " tanya Zen yang heran dengan sikap Key.
"maafkan aku Zen, aku tidak rela jika kamu harus meninggalkan ku! " batin Key.
"Keylla, jawab, jangan hanya diam! "
kamu bilang kalian menemukan ku terluka di pantai, mungkin keluarga ku sekarang sedang mencariku, dan siapa tau gadis itu salah satu keluargaku! " ujar Zen.
"kamu di kirim Alam untuk berada di pulau ini, jika memang kamu mempunyai keluarga, kenapa tidak ada satu pun yang mencarimu selama ini? " jawab Keylla. membuat Sizen percaya dengan perkataan gadis itu.
Keylla dengan wajah sedihnya dia memalingkan wajah dari Zen, Zen memegang tangan Keylla dia mencoba menenangkan gadis itu.
bersamaan dengan itu, Ayah Keylla menghampiri mereka berdua.
"Anak muda, apa kamu menyukai putri kami? " tanya ayahnya Keylla, membuat wajah Key memerah karena malu, sekaligus senang.
Zen yang tidak pikir panjang dia hanya tersenyum sambil menatap gadis cantik di hadapannya, selama ini gadis inilah yang selalu mendampingi dan menjaga diri-Nya.
"jika kalian saling suka, Bapak akan segera melukan penyatuan untuk kalian! " ujar Ayahnya Key.
"bagaimana Key? " apa kamu suka dengan Zen? " Keylla tidak menjawab, dia hanya tersenyum dengan malu-malu.
"baiklah, Zen kamu sendiri bagai mana? "
pertanyaan ayah gadis itu membuat Zen bingung, dia tidak tau harus berkata apa.
"jika kamu diam, artinya kamu setuju untuk menikah dengan putriku! " jawab kepala suku itu.
memang tidak ada yang di ragukan lagi dengan keduanya, mereka satu sama lain selalu bersama kemanapun mereka pergi.
walaupun hatinya ragu, Zen terpaksa tidak bisa menolak keinginan orang tua gadis itu.
satu hari kemudian, persiapan untuk penyatuan dua insan yang berbeda sudah di gelar.
__ADS_1
hanya tinggal upacara utama yaitu perjanjian dua orang mempelai di hadapan warga desa di pulau tersebut.
Keylla yang memakai pakaian khas sana begitu cantik dan alami, rambutnya yang kemerahan panjang sepinggan di hiasi dengan bunga di atas kepalanya.
begitu juga dengan Zen, dia yang memakai pakaian pria khas sana pun begitu terlihat sangat berbeda.
di sebuah kapal di pesisir pantai berbeda, Jeslyn dan Syam juga di antar salah seorang orang penting di kota X sedang bersiap-siap menaiki Speedboat yang di sewanya.
mereka menuju sebuah pulau tersebut, hari itu cuaca yang kurang baik, langit mendung sepertinya akan turun hujan, angin pun terasa begitu dingin menusuk tulang sumsum.
di kediaman Shinoda, Niken yang di temani oleh Merryssa Ibunya, tidak seperti biasanya, batinnya begitu tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu yang tidak di harapkan.
"ya Tuhan, ada apa ini! " kenapa hatiku begitu was-was, seperti akan terjadi sesuatu! " batin Niken.
Meryssa yang melihat itupun dia menjadi khawatir, dia mencoba menenangkan putrinya.
"Nike, apa kamu tidak enak badan? " wajah mu begitu pucat? " tanya Merryssa.
"mom, hatiku begitu tidak tenang! " entahlah. "
perasaan ini seperti yang aku rasakan dua bulan lalu sewaktu Novak! " hikhikhik! " Niken dengan tidak tahan dia pun menangis sesegukan.
dia membayangkan kejadian waktu itu, hatinya benar-benar tidak karuan.
"Nike, kamu harus menjaga kondisimu, kasihan babymu. " ujar Merryssa sambil memeluk putrinya.
Niken tidak seperti biasanya, dia mengingat suaminya hari itu begitu kuat, dia tidak bisa mengontrol hati-Nya..
"Mom, aku tidak bisa tenang! " hatiku begitu sakit. "
"kamu harus bisa mengendalikannya demi babymu, ayo kita sekarang ke rumah sakit. " periksakan keadaan babymu. " ujar Merryssa. tetapi Niken menggelengkan kepalanya sambil merunduk memgang sebelah dada kirinya yang terasa begitu sesak.
sedangkan di pulau upacara perjanjian dua orang sudah akan di mulai, Jeslyn yang masih cukup jauh di tengah lautan pun berpikir.
"Syam, lihatlah perairan di sana, tempat jatuhnya pesawat itu! " tunjuk Jeslyn ke arah perairan yang di mana kecelakaan Boing XXXX terjatuh.
dia sambil memegang sebuah peta di tangannya.
"Iyah, betul juga, tapi Jess, itu terlalu jauh dari pulau itu! " lihatlah. " tidak mungkin Novak berenang sampai sana kan? "
"bodoh kamu Syam, siapa lagi yang sanggup berenang sejauh itu! " tetapi bisa saja gelombang laut membawanya ke sana di saat dia terluka! " jelas Jeslyn, yang kesal karena Pemikiran pendek asistennya itu.
Syam pun hanya menelan ludahnya getir, karena ucapan dari Bossnya itu.
Bersambung...
***Hai Hai, readers apa kabar mu hari ini, semoga kalian sehat selalu ya, terimaksih atas dukungan kalian.
salam dari penulis kacangππ
jangan lupa juga untuk terus mendukung dengan cara melike, koment, vote, hadiah, dan rate 5 nya yah. satu dukungan dari kalian, sangat berarti untuk Author. ππ
__ADS_1