
Tak terasa kurang lebih 1 bulan lagi acara pernikahan Muh dan Rangga. Muh makin galau, karena sampai saat ini ia masih belum mengetahui calon istrinya. Undangan akan disebar dua minggu sebelum hari pernikahan.Saat itulah Muh akan mengetahui siapa calon istrinya.
Muh berbaring di kamarnya, fikirannya menerawang jauh.
" Siapapun dia, semoga wanita itu adalah pilihan terbaik dari Allah untukku. Aamiin Yaa Rabbal ' Aalamiin." Batin Muh.
" Tapi mengapa tiap aku shalat memohon petunjuk tentang siapa wanita yang dijodohkan dengan ku, malamnya aku selalu bermimpi menikah sama Cinta. Aaaahhhh dari pada pusing mending makan ayam bakar sajalah." Muh mengambil kunci motornya.
*****
Cinta's family
" Cinta apakah kamu sudah siap dengan pernikahan mu? Apakah sudah kamu pertimbangkan dengan baik nak?" tanya abi ke Cinta.
" Insya Allah Cinta sudah siap abi. Sebelum Cinta mengambil keputusan ini, Cinta sudah mempertimbangkannya. Mohon do'a dan ridhonya umi sama abi."
" Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk mu nak. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran untukmu. kalian dipersatukan dalam satu ikatan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin."
" Nak, jangan lupa memakai amanah yang diberikan bunda Rangga di hari pernikahan mu nanti." Bunda mengingatkan Cinta mengenai perhiasan yang diberikan bunda yang harus dipakai Cinta saat ia menikah dengan anaknya.
" Iya bun, sudah Cinta sudah persiapkan."
" Kami menyayangimu nak. Semoga kamu bahagia." Bunda memeluk Cinta dan mengusap kepalanya.
" Malam ini, ada amanah yang harus kami sampaikan pada mu nak. Ini adalah amanah dari kakek mu sebelum meninggal. " Ayah memberikan kotak kecil berlapis emas kepada Cinta.
" Bukalah nak. Ini adalah amanah yang diberikan kakek dan nenek untuk cucu pertamanya dan harus diserahkan sebelum menikah. Dulu umi dan abi juga begitu. "
Cinta membuka kotak tersebut. Cinta terpaku begitu membuka Kotak tersebut, sebuah koin emas.
" Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga."
" Umi, abi, apakah amanah ini tidak bisa diberikan kepada Aul saja. Mbak tidak sanggup menerimanya. "
" Nak, koin ini bukan jimat tapi koin ini bisa kamu gunakan disaat kamu membutuhkan. Bisa di jual saat kamu membutuhkan uang. Koin ini adalah warisan turun temurun nak, ambillah dan gunakan disaat kamu membutuhkan uang."
" Iya ummi."
__ADS_1
***
" Ayah hari ini bunda mau pergi ke rumah Cinta. Mau ke butik dan ke salon untuk perawatannya Cinta. Kalau Aul jadwalnya besok. "
" Kenapa tidak sama jadwalnya?"
" Pegawai bunda lagi banyak yang cuti, jadi jadwalnya dibagi-bagi. "
" oooh. "
" Bunda pamit ya Yah."
Bunda hendak meninggalkan ayah. Tiba-tiba Muh memanggi bundanya.
" Bun, abang ikut ya? ."
" Ngapain ikut,emang abang gag ngantar?"
" Beberapa hari ini, abang kerjanya dari rumah saja. 😄😄"
" Ya udah, tapi yang nyetir abang, dan jangan ngebut. Nih kuncinya. "
Setelah berpamitan dengan ayah, Bunda dan Muh menuju rumah Cinta
" Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
" Wa'laikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
" Apakabar ummi? "
" Alhamdulillah baik bun, Muh ikut?"
" Entahlah umi ini si abang, kalau lagi libur kemana bundanya pergi dia selalu ikut. "
" 😀😀😀 kalau abang sudah nikah nanti, abang gag ngikutin bunda lagi
Tapi abang ikutin istri abang kemanapun dia pergi. "
__ADS_1
" Kalau kamunya ngikutin istri terus, emang kamu gag kerja apa? Aneh!" Gerutu bunda.
" Gag gitu juga sih bun, Abang akan pasang cctv untuk memantau kemana istri abang berada." 😄😄
" Terserah mu lah bang. Maaf ummi, si abang sejak mau nikah rada aneh. 😄."
Ummi hanya tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak tersebut.
" Saya tinggal dulu ya bun, saya panggilkan Cinta dikamarnya."
Tok tok tok
" Cinta, bunda sudah menjemput dan menunggu di ruang tamu. "
" Iya bun" Cinta segera keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
" Asaalamu'alaikum"
" Wa'alaikumussalam"
Cinta tampak terkejut melihat kehadiran Muh. Walaupun sudah menjadi mantan, namun jantung Cinta masih berdebar disaat betjumpa dengan Muh.
Di tengah keterkejutan Cinta, bunda datang membawa minuman dan sedikit camilan.
" Mari bun, Muh dicicipi."
" Alhamdulillah, terimakasih ummi, abang kangen sekali dengan masakan ummi."
" Kalau kangen dengan masakan ummi, kenapa kamunya jarang mampir kemari?"
Muh menatap Cinta, mereka beradu pandang dan saling gugup satu sama lain.
" Dia selalu sibuk pun, hanya sekarang ini saja ada waktu luang. Kalaupun si abang kemari, gag usah dijamu ummi. Nanti malah kemanjaan dan mampir terus. 😄😄"
" Tidak apa-apa kalau abang sering kemari, sekalian bantu-bantu memasak kue."
Setelah mengobrol kesana kemari, mereka pun pergi meninggalkan rumah Cinta menuju salon.
__ADS_1
MOHON MAAF KALAU TERLAMBAT MENULIS LANJUTAN EPISODENYA, KENDALA SINYAL dan PEKERJAAN . Tetaplah setia untuk episode berikutnya. 😘